Ibrahim Sattah Kembali Menyapa Dunia

H. Kamaruzzaman berfoto disamping Gambar Ibrahim Sattah. (istimewa)

Budaya Melayu tak akan pernah habisnya, tak akan lekang oleh zaman. Ini terbukti dari bangkitnya karya-karya sang maestro syair asal Anambas yang telah go Internasional Ibrahim Sattah.

Bak gayung bersambut, untuk membangkitkan batang terendam itu dalam Festival Pesona Seni Budaya Melayu (FSBM) panitia membuat lomba membaca puisi karya-karya sang maestro.

Kamaruzzaman, Tokoh Budaya Melayu di Anambas kepada Haluan Kepri. com, mengatakan, alasan diperlombakannya puisi Ibrahim Sattah adalah untuk mengangkat kembali seni dan budaya Melayu agar tak tergerus dan hilang ditelan zaman.

“Ini merupakan momentum untuk memulai dan memperkenalkan karya-karya besar seniman asal Tarempa yang mendunia,” ujar Kamaruzzaman, Selasa (24/9/2019).

Ia mengungkapkan, Ibrahim Sattah dilahirkan di Tarempa pada 1943 dan menghembuskan nafas terakhir pada 1987 di Pekanbaru. Ibrahim Sattah merupakan orang pertama Anambas ataupun Kepri yang mendunia setelah mampu mengukirkan namanya membaca puisi di Denhag Belanda, bukan hanya itu di kawasan Asia Tenggara Philipina dan Taman Ismail Marzuki Ibrahim sering bersyair.

“Kalau ini tidak diangkat dikhawatirkan ini akan tergerus oleh kemajuan zaman, kalah bersaing dengan vidio game dan gadget yang digandrungi di zaman milenial ini,” bebernya.

Lebih jauh Pak Haji Mamay panggilan akrabnya, menguraikan, kumpulan puisi Ibrahim Sattah sudah terangkum dalam sebuah buku, namun sekarang inilah baru terangkat dan diperkanalkan kepada generasi muda.

“Di Anambas ini memiliki dua seniman yang luar biasa yakni Affandi Ya’cob dan dan Ibrahim Sattah. Meski keduanya telah tiada namun karya-karya jeniusnya masih dapat dinikmati hingga saat ini,”tuturnya.

Ia menyampaikan, Ibrahim Sattah ini merupakan kompetitor dari penyair kondang ternama sekelas Sutarji Colzoum Bahri dan WS Rendra. Namun syair-syair beliau berbahasa Melayu dan berorientasi pada kebesaran alam Anambas.

“Literasi yang ia gunakan itu adalah alam Anambas, dengan meyakini alam itu sendiri terungkap bahwa alam tidak pernah menaruh beban diatas pundak manusia yang lebih berat dari pada yang manusia pikul dan alam juga memberikan jalan keluarnya.

Ke khasan bahasa yang digunakan Ibrahim Sattah adalah seperti mantra sehingga pembaca dan pendengar akan terhipnotis yang membuatnya jadi terbuai, terlena hingga mampu merasakan alam tanpa menyentuhnya.

“Coba baca atau dengarkan puisi berjudul Sembilu, Batu Belah, dan Sansauna, puisi itu sangat kental dengan alam dan kepurbaan. Dengan FSBM semoga Ibrahim Sattah berikan debar dunia kembali,” katanya.(yud)