Rusuh Wamena, 16 Orang Tewas
Kondisi saat sebuah bangunan terbakar menyusul aksi berujung ricuh di Wamena, Papua, Senin (23/9). Demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, dan beberapa kios masyarakat.
Wamena (HK)- Sebanyak 16 warga tewas saat kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Senin (23/9).
Komandan Kodim 1702 Jayawijaya Letkol Inf Candra Diyanto mengatakan, saat ini petugas tengah berjaga mengamankan objek vital di Wamena.
“Aparat stand by 24 jam, semua objek vital kita amankan. Secara umum untuk di kota kondusif. Namun, kita antisipasi ada aksi susulan,” kata Komandan Kodim 1702 Jayawijaya Letkol Inf Candra Diyanto, saat dihubungi, Senin 23/9).
Namun, Candra belum bisa menjelaskan secara rinci penyebab korban tewas. Selain menewaskan belasan warga, kerusuhan juga menyebabkan sejumlah bangunan dan fasilitas umum rusak.
Saat ini, ia memastikan bahwa situasi mulai kondusif. Sebelumnya diberitakan, pengunjuk rasa bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat.
Unjuk rasa yang berujung kerusuhan itu diduga dipicu oleh perkataan bernada rasial seorang guru terhadap siswanya di Wamena. Hal itu membuat siswa marah hingga kemudian kabar itu meluas dan memicu aksi unjuk rasa pelajar di Kota Wamena.
Aparat kepolisian dan TNI berusaha memukul mundur siswa demonstran. Hal itu berlangsung sekitar empat jam. Namun, siswa demonstran tetap bertahan dan semakin membuat kerusuhan. Suara tembakan terdengar di mana-mana selama tiga jam. Selain itu, sebagian warga di kota itu sudah mengungsi ke kantor polisi dan Kodim.
Massa yang berunjuk rasa berusaha merangsek masuk ke pusat bisnis Wamena. Namun, mereka segera dihadang aparat kepolisian. Wamena merupakan ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Kota ini merupakan satu-satunya yang terbesar di pegunungan tengah Papua.
Di Wamena juga terdapat pusat bisnis, sehingga ketika terjadi kerusuhan, kawasan itu dijaga ketat aparat kepolisian. Presiden Joko Widodo pernah dua kali mengunjungi Kota Wamena, yakni pada 28 Desember 2014 saat membicarakan persoalan-persoalan yang ada di daerah itu.
Presiden Joko Widodo menyebut kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua, hari ini (kemarin), disebabkan karena tersebarnya hoaks. Jokowi pun mengimbau masyarakat Papua tak mudah terprovokasi kabar bohong.
“Isu anarkistis ini dimulai dan berkembang karena adanya berita hoaks. Oleh sebab itu saya meminta agar masyarakat setiap mendengar, setiap melihat di medsos dikroscek dulu,” kata Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (23/9).
“Dicek terlebih dahulu jangan langsung dipercaya karena itu akan menganggu stabilitas keamanan dan politik di setiap wilayah,” sambungnya.
Jokowi juga mengimbau masyarakat jangan sampai merusak fasilitas umum. Sebab, fasilitas itu adalah milik bersama. “Jangan sampai ada kerusakan-kerusakan yang diakibatkan dari anarkisme,” ucap Jokowi.
Sementara Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyebut ada pihak yang sengaja memprovokasi kerusuhan di Wamena, Papua, menjelang sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.
Menurut Moeldoko, provokasi ini datang dari pihak di dalam negeri. Tapi ada indikasi juga bahwa provokasi didalangi pihak asing.
“Ya harapannya kita kan dipancing melakukan pelanggaran HAM berat. Sehingga nanti di PBB agenda itu bisa dimasukkan. Kita tahu agendanya kemana,” kata dia.
Menurut dia, Presiden sudah memanggil Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian terkait kerusuhan di Wamena. Presiden memberi instruksi kepada Panglima dan Kapolri agar aparat bertindak proporsional dan profesional dalam menangani kerusuhan (kcm)
