Kakanwil Kemenag Kepri Buka Kegiatan Pembinaan Lembaga Keagamaan Buddha
Kakanwil Kemenag Provinsi Kepri, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA, (tengah) saat memberikan arahannya. (istimewa)
Tanjungpinang (HK) - Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Kepri, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, MA, membuka kegiatan Pembinaan Manajemen Lembaga Agama dan Keagamaan Buddha di Vihara Guna Vijaya, Suka Berenang Tanjungpinang, Jumat (1/11/2019). Hadir dalam kegiatan tersebut Pembimas Buddha Kanwil Kemenag Kepri Nyoman Ariawan, Kasi Bimas Buddha Kemenag Tanjungpinang Parjio, dan sejumlah pimpinan lembaga agama Buddha.
Kakanwil Kemenag Kepri dalam arahannya menyebutkan manajemen lembaga keagamaan diperlukan agar tata kelola lembaga semakin proporsional dan profesional.
“Dengan pengelolaan lembaga yang profesional, maka lembaga akan semakin sehat karena ditangani oleh profesional dan masyarakat akan semakin percaya. Kepercayaan masyarakat sangat diperlukan dalam tata kelola lembaga agama dan keagamaan,” ucap Kakanwil.
“Setidaknya minimal kita melaksanakan prinsip manajemen yang paling minimal, antara lain planning, organizing, actuating, dan controlling,” imbuhnya.
Kakanwil juga mengingatkan para peserta yang merupakan pengurus lembaga agama dan keagamaan Buddha untuk bersama-sama menggelorakan semangat moderasi beragama. Dengan moderasi beragama, menurut Kakanwil, umat beragama akan memiliki pemikiran yang moderat dan tidak terpapar radikalisme.
Esensi kehadiran agama, menurut Kakanwil adalah untuk menghormati harkat dan martabat serta eksistensi manusia.
“Agama apapun mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Moderasi beragama diperlukan dalam merawat dan melestarikan nilai-nilai Keindonesiaan dalam Bhineka Tunggal Ika. Prinsip dasarnya adalah adil dan berimbang. Jadi mudahnya, indikator moderasi beragama laksana bandul jam yang bergerak dari pinggir menuju pusat keseimbangan,” pungkasnya.
Ketua Panitia Pelaksana, Tri Suko, mengungkapkan, pelaksanaan kegiatan adalah untuk meningkatkan peran serta pengurus lembaga agama dan keagamaan Buddha dalam pembinaan umat, meningkatkan pengelolaan lembaga yang berkualitas dan akuntabel dan meningkatkan pemahaman pengurus lembaga tentang prosedur pendaftaran lembaga dalam pengajuan bantuan.
“Kegiatan ini dilaksanakan selama satu hari dengan peserta adalah para pengurus lembaga agama dan keagamaan Buddha di Tanjungpinang sebanyak 40 orang. Kami mengusung thema melalui pembinaan manajemen lembaga, kita tingkatkan pengelolaan lembaga keagamaan Buddha yang berkualitas dan akuntabel,” kata Tri Suko.
“Kami menghadirkan narasumber dengan materi antara lain pentingnya moderasi beragama, prosedur pendaftaran lembaga agama dan keagamaan Buddha dalam proses pengajuan bantuan dan manajemen organisasi atau lembaga keagamaan Buddha,” ujarnya. (r)
