by

Menguji Nyali di Puncak Gunung Jantan Karimun

KARIMUN (HK) - Mengupas keindahan alam Karimun tidak akan pernah habisnya. Selain memiliki beragam objek wisata pantai, negeri berjuluk “Bumi Berazam” ini juga menyimpan potensi wisata lain yang tak kalah hebat. Salah satu wisata yang menarik untuk dijajal adalah
mendaki gunung.

Gunung Jantan salah satu pilihan bagi mereka yang hobi berpetualang di alam bebas. Pecinta olahraga ekstrem ini bukan hanya berasal dari Karimun, namun juga para petualang dari Batam bahkan hingga negeri jiran Malaysia. Mereka sengaja datang untuk menguji adrenaline
menaklukan jalur gunung yang memiliki kemiringan cukup curam ini.

Gunung Jantan berada di Desa Pongkar, Kecamatan Tebing. Gunung ini memiliki ketinggian 1.178 meter dari permukaan laut (mdpl). Secara gerografis, letak Gunung Jantan berada di utara Pulau Karimun Besar. Jika pengunjung datang dari arah pusat Tanjungbalai atau pelabuhan, maka diperlukan waktu sekitar 30 menit untuk mencapai kaki gunung.

Sebelum mencapai pintu rimba atau pintu masuk Gunung Jantan, pengunjung harus melewati jalan menuju objek wisata Air Terjung Desa Pongkar, hanya berjalan kaki sekitar 15 menit, maka pengunjung sudah sampai di kolam Air Terjun Desa Pongkar atau kawasan pintu masuk Gunung Jantan.

Perjalanan diawali dengan trek mendatar dengan disisi sebelah kanan jurang yang tidak terlalu dalam. Pada jalur pembuka ini, pendaki beberapa menjumpai anak sungai. Semakin ke atas jalur semakin menanjak dengan trek tingkat kemiringan yang mulai sulit. Jika tak hati-hati, maka pengunjung bisa terpeselet ke dalam jurang yang berada di sisi sebelah kiri.

Hutan Gunung Jantan masih asri, bukan hanya keasrian hutan yang dapat dirasakan selama pendakian ke Gunung Jantan. Banyak pesona lain yang bisa ditemukan di objek wisata ini. Beberapa flora dan fauna masih terjaga dengan baik disana, seperti bunga Kantung Semar.
Kawasan di sekitar Gunung Jantan merupakan rumah bagi kawanan monyet hutan.

Setelah melewati beberapa aliran anak sungai, maka jalur yang dilalui akan didominasi jalanan tanah sempit yang disisi kiri dan kanan ditumbuhi tanaman perdu. Untuk melewati jalur dengan aman, pengunjung bisa mengatur nafas dengan pelan sambil menapaki satu demi satu
tanjakan yang dibatasi akar pohon.

Sekitar 20 menit melakukan pendakian, maka pendaki akan menjumpai shelter dengan lapangan yang lumayan luas. Diprediksi, lokasi ini mampu memuat sekitar 5 atau 6 tenda. Untuk mencapai shelter ini, pendaki harus melewati tanjakan dengan kemiringan mencapai 90 derjat.
Biasanya, shelter ini digunakan untuk istirahat dengan waktu yang cukup lama.

Usai meninggalkan shelte Gunung Jantan, maka perjalanan dilanjutkan dengan trek yang lumayan panjang. Namun, sesekali masih dijumpai dataran sebagai bonus bagi pendaki. Pemandangan yang menarik akan dijumpai ketika sampai di gugusan batu granit, yang persis berada di jalur pendakian Gunung Jantan.

Gugusan batu granit dengan ukuran cukup besar itu membelah jalur menuju puncak Gunung Jantan. Biasanya, pendaki akan memanfaatkan lokasi itu untuk istirahat sebentar sembari tiduran diatas batu yang landai. Karena lokasinya yang lumayan menarik, tak jarang pendaki mengabadikan saat berada di batu granit tersebut.

Dari gugusan batu granit, jalur yang dilewati semakin tegak dengan trek terpanjang menuju puncak. Disisi kiri dan kanan jalur banyak ditumbuhi pohon dengan tekstur kulit warna kuning emas. Jika siluet cahaya matahari tembus ke disela-sela pohon, maka akan terpendar cahaya keemasan.

Sekitar dua jam menempuh perjalanan, maka pendaki akan sampai di puncak Gunung Jantan. Namun, untuk mencapai puncak bukanlah perkara mudah, nyali para pendaki harus diuji dengan trek yang tegak. Untuk melewati trek ini, pendaki harus separuh merangkak. Namun, untuk
memudahkan pendaki biasanya sudah disediakan tali untuk pegangan.

Puncak Gunung Jantan ditandai dengan adanya batu yang cukup besar. Sebagian pendaki menyebut batu tersebut dengan “Batu Garuda”. Penat dan lelah pendaki akan terbayarkan begitu sampai di puncak. Dari puncak Gunung Jantan, pengunjung dapat menyaksikan hamparan luas
Selat Malaka dengan hilir mudik ratusan kapal.

“Saya sengaja membawa istri dan anak yang masih duduk di kelas 3 SD untuk mendaki Gunung Jantan. Sudah lama keluarga saya meminta untuk dibawa mendaki gunung ini. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga. Bahkan, kami mampu mencapai puncak Gunung Jantan,” ungkap
Agustya Sandi, salah seorang warga Karimun, Minggu (22/12/2019).

Sandi sengaja mengajak putranya, Faid Zaidan untuk menjajal Gunung Jantan. Saat berbaur dengan hutan dan rimba, diirinya ingin mengetahui sejauh mana kemampuan putranya itu mengenal alam bebas. ia ingin anaknya memiliki kepekaan dan kepedulian tinggi untuk
melestarikan keindahan alam di Karimun. (ham)

News Feed