by

KSOP Karimun Berencana Hidupkan Kembali STS Transfer

KARIMUN (HK)-Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Tanjungbalai Karimun berupaya menghidupkan kembali pelabuhan ship to ship (STS) transfer. KSOP bakal mengajak seluruh stakeholder di bidang kelautan dan perikanan, termasuk nelayan untuk duduk bersama membahas rencana tersebut.

“Saya tengah memikirkan, bagaimana STS di Karimun bisa hidup lagi. Untuk menghidupkan STS, pertama yang harus diperhatikan adalah sistem keamanan laut harus terjamin. Sehingga, pengguna jasa STS transfer bisa kembali masuk ke Karimun,” ungkap Kepala KSOP Kelas I Tanjungbalai Karimun, Capt Barlet Silalahi.

Kata Barlet, tidak sulit untuk mengidupkan kembali STS di Karimun, asalkan semua pihak bisa mendukung, terutama nelayan. Jangan lagi muncul gejolak di sekitar perairan yang ditetapkan sebagai kawasan labuh jangkar atau pelabuhan STS transfer. Sehingga, pengguna jasa STS bisa merasa nyaman saat berada disana.

“Saya sudah pernah sampaikan kepada Pak Bupati, kalau sisi laut kita sudah aman maka investasi akan datang. Semua nelayan di Karimun harus diberi pemahaman untuk tidak menebar jaring sembarangan. Kadang nelayan kita ini, waktu kapal mau berangkat disana mereka menebar jaring. Kalau jaringnya putus mereka minta ganti rugi,” ujarnya.

Ironisnya, tempat berkumpulnya ikan justru di lokasi labuh jangkar kapal. Jadi, mau tak mau nelayan terpaksa menebar jaring di sekitar lokasi tersebut. Kendati begitu, pihaknya berharap ada batas-batas tertentu yang harus ditaati oleh nelayan untuk menangkap ikan. Jika sudah masuk dalam zona STS, nelayan diminta untuk tidak memaksakan diri kesana.

Barlet menyebut, untuk regulasi STS transfer tidak pernah mengalami perubahan. Dua operator pelabuhan, yakni PT Pelindo dan BUP Karimun sebenarnya tidak ada masalah. Sebab, dalam UU no 17 tahun 2008 tentang Pelayaran sudah jelas diatur tidak ada lagi monopoli. Hanya saja, nanti yang perlu diatur adalah terkait sharing profit antara kedua operator tersebut.

Bukan hanya KSOP, pihak PT Pelindo I Cabang Tanjungbalai Karimun juga melirik kembali bisnis pelayanan jasa labuh, pandu dan tunda kapal pelabuhan STS transfer di perairan Karimun. Mereka juga berencana menghidupkan kembali bisnis yang pernah menjadi primadona di Karimun itu.

“Kita optimis bisnis STS transfer di Karimun bisa kembali berkembang. Kita terus berusaha agar kapal-kapal kembali masuk ke Karimun. Kami sudah berupaya menjalin kerjasama dengan pemilik kapal maupun broker-broker minyak untuk masuk ke Karimun,” ungkap mantan General Manager PT Pelindo I Cabang Tanjungbalai Karimun, Syahri Ramadhana beberapa waktu lalu.

Kata Syahri, selama ini kepercayaan pemilik kapal untuk melabuhkan kaapl-kapal mereka di pelabuhan STS Karimun memang sudah hilang. Hilangnya kepercayaan itu, karena tidak adanya kepastian keamanan dan kenyamanan kapal saat labuh jangkar di pelabuhan STS transfer. Untuk mengembalikan kepercayaan, pihaknya kini sedang berusaha keras melobi para pelaku usaha perkapalan.

“Jujur saja, masalahnya cuma satu. Ketika kapal sudah masuk, tahu-tahu ketika kapal mau keluar nelayan protes. Mereka menyebut jaring mereka putus disapu kapal. Mereka kemudian minta ganti. Agen kapal mau saja mengganti, namun mereka harus ngecas dulu. Ketika perusahaan mempertanyakan ke nelayan tak ada yang mengaku,” jelasnya.

Syahri menyebut, tak butuh waktu lama mengembalikan bisnis STS transfer di Karimun. Dirinya berjanji, dalam waktu dua bulan ke depan kapal-kapal yang akan labuh jangkar di pelabuhan STS transfer Karimun akan kembali berdatangan. Sarana dan prasarana pendukung tetap disediakan PT Pelindo. Soal tarif pihaknya berani berada di bawah STS transfer di Nipah.

“Kita cuma meminta, pemerintah daerah agar mendukung rencana untuk mengidupkan kembali bisnis STS di Karimun. Seperti halnya Malaysia dan Singapura, pemerintah disana sangat peduli sekali, sehingga badan usaha disana enak menjalankan bisnis ini. Jika pemerintah mendukung penuh, maka kita yakin kapal yang datang di pelabuhan STS akan kembali ramai,” jelasnya. (ham)

News Feed