by

Sampah Kiriman, Sungai Pelunggut Jadi Lautan Sampah

SAGULUNG (HK) - Hilir Sungai Pelunggut yang berada di Kecamatan Sagulung kini menjadi lautan sampah kiriman dari laut hingga perumahan sekitar sungai.

Sampah yang berada di pinggir sungai yang berdekatan dengan Kavling atau tempat tinggal warga sekitar menjadi menampakan pemandangan tak enak jika memandang kearah sungai tersebut.

Pantauan di lokasi, terlihat tumpukan di pembuangan air sungai yang menuju ke arah laut. Kavling Sungai Pelenggut bukan hanya air, melainkan juga sampah-sampah ikut terkirim jika air laut sudah pasang.

Yang lebih menariknya lagi, saking jengkelnya atau dongkolnya warga sekitar, warga pun memasang papan pengumuman agar tak dibuang sampah sembarang. Akan tetapi lucunya, boleh buang sampah asalkan ke pojok sungai lautan sampah tersebut.

“Sekitar 80 persen sampah yang ada merupakan sampah Perumahan atau kavling sekitar,” kata Alfian, selaku penggagas Kopling Supel (Komunitas peduli Lingkungan Sungai Pelenggut), Senin (24/2/20) pagi kemarin.

Sampah-sampah ini, kata dia, ada mencapai 15 ton hingga 20 ton perharinya. Namun, meski dibersihkan menggunakan alat seadanya tetapi sampai saat ini masih terus mendapat kiriman sampah.

“Seperti dilihat ada bekas botol Aqua, goni plastik dan lainnya. Dan ini semua bukan sampahnya orang disekitar ini, tapi ini semua merupakan sampah kiriman,” katanya lagi.

Ia juga mengaku pemerintah sudah menghimbau warga agar tidak membuang sampah sembarangan ke sungai. Namun, masih banyak saja masyarakat yang membuang sampah sembarangan di sungai pada malam harinya.

“Sampah ini adalah kiriman yang sengaja dibuang masyarakat pada harinya. Dan kurang peduli dengan sampah. Soalnya kalo pagi dibuang pasti ditegur, untuk menghindari hal itu, jadi warga buang pada malamnya,” sebutnya.

Masih lanjutnya, seperti itulah kondisi sampah tiap hari di sungai ini. Tumpukan sampah ini dibawa arus sungai dari hulu. Ada juga dari pinggir laut jika air laut sudah pasang.

Selain membersihkan tumpukan sampah tiap minggunya, mereka pun membangun pos pasang surut didekat sungai dengan bertujuan untuk menjaring sampah dari hulu agar tak sampai ke laut.

“Untuk menjaring sampah agar tak sampai ke laut, kami pun membuat pos jaga pasang surut disamping hutan bakau tersebut,” kata Alfian kembali.

Mereka juga sudah mensosialisasikan kepada masyarakat maupun para pelajar setempat, akan tetapi masih banyak sampah dari hulu sungai. Kemudian sadar lingkungan masing-masing masih minim hingga hilir sungai ini jadi imbasnya.

Ia berharap manusia akan lebih mempunyai rasa kasihan karena tindakan yang mereka lakukan akan menyebabkan bencana banjir yang akan merugikan manusia lainnya. (ded)

News Feed