KARIMUN (HK)-Kolam pemandian air terjun Desa Pongkar kering kerontang. Diduga, terjadi kebocoran di lantai ataupun di dasar kolam yang selama ini menjadi wahana bermain bagi wisatawan tersebut. Karena kekeringan itu, sudah dua bulan ini objek wisata air terjun Desa Pongkar sepi pengunjung.
“Sudah sekitar dua bulan ini, kolam air terjun mengalami kekeringan. Kami menduga, lantai kolam itu bocor. Sehingga, tak mampu lagi menampung air. Sejak air kolam itu kering, objek wisata ini tak lagi dikunjungi oleh wisatawan,” ungkap Abu Husaini, warga yang tinggal persis di pintu masuk objek wisata air terjun Desa Pongkar, Selasa (10/3/2020).
Abu Husaini sudah membicarakan persoalan tersebut kepada Kepala Dinas Pariwisata Karimun, Sensissiana. Kepada Sensis, Abu meminta kepada Pemkab Karimun melalui Dinas Pariwisata agar membenahi semua permasalahan yang terjadi di objek wisata air terjun tersebut. sehingga, objek wisata itu bisa kembali ramai dikunjungi orang.
“Dua hari setelah saya menyampaikan keluhan itu, Buk Sensis datang kesini. Dia turun bersama stafnya dan melihat langsung kondisi air terjun. Dia juga melihat di pintu masuk objek wisata ada petugas yang memungut uang masuk. Dia menyarankan agar sebagian pendapatan itu digunakan untuk memperbaiki kerusakan di objek wisata air terjun,” ujar Abu.
Abu mengakui, selama ini objek wisata air terjun Desa Pongkar memang dikelola oleh pemuda setempat. Untuk masuk ke objek wisata, ada petugas yang memungut uang retribusi sebesar Rp2.000 per orang. Dana tersebut masuk ke kas pemuda selaku pengelola.
Dikatakan, selain adanya kebocoran di kolam air terjun, salah satu penyebab kekeringan kolam itu juga karena musim kemarau. Sejak kemarau panjang yang melanda Karimun tiga bulan belakangan ini, menjadikan debet air terjun Desa Pongkar makin menyusut. Air yang mengalir diantara dinding batu hanya sedikit.
Dijelaskan, ada beberapa penyebab kecilnya debet air terjun, seperti kurangnya suplai air karena pohon sebagai penyangga resapan air yang berada di Gunung Jantan banyak yang sudah berkurang. Kurangnya jumlah pohon itu, pertama karena terjadinya kebakaran di hutan lindung dan kedua adanya penebangan kayu oleh warga.
“Hutan lindung di sekitar kawasan Gunung Jantan pernah mengalami kebakaran beberapa tahun lalu. Kemudian, ada juga warga yang menebang satu atau dua pohon yang ada di hutan itu. Lama kelamaan kayu yang berada di Gunung Jantan berkurang, sehingga debet air terjun juga makin sedikit,” ujarnya.
Boni, pemerhati pariwisata di Karimun merasa prihatin menyaksikan keringnya kolam pemandian air terjun Desa Pongkar. Padahal, selain menikmati air terjun, kolam yang berada di kaki air terjun tersebut selama ini dijadikan sebagai wahana bermain bagi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.
“Objek wisata air terjun di Desa Pongkar, merupakan salah satu destinasi wisata di Karimun yang ramai dikunjungi, baik oleh wisatawan domestik maupun mancananegara. Kalau kolam air terjun tersebut sampai kering kerontang seperti ini, tentu saja wisatawan akan enggan datang kesini,” ujar Boni.
Dirinya berharap, agar pemerintah daerah segera membenahi objek wisata tersebut. Sebab, ketika objek wisata air terjun sudah sepi pengunjung maka banyak yang akan merasakan kerugiannya, selain pengelola yang ikut mengalami dampak buruknya adalah pemilik warung makan dan minuman yang biasa berjualan di pintu masuk objek wisata.(ham)
