by

Jelang Ramadhan, MUI Batam Ingatkan BP Batam dan ATB

Batam (HK) - Menjelang Ramadhan 1441 H dan Idul Fitri 1441 H, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Batam KH Usman Ahmad, mengingatkan BP Batam dan PT Adhya Tirta Batam (ATB) untum menjaga aliran ke rumah warga dengan pasokan air tetap terjaga.

“Karena air adalah kebutuhan utama semua orang. Tentu kami ingatkan agar ada kerja sama yang baik, sehingga pasokan air untuk saat ini dan menjelang puasa Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini terjamin,” kata Usman, Rabu (11/3/2020).

Kepada BP Batam dan PT ATB diminta bijak soal kondisi cuaca panas saat ini. Hal itu ia katakan, sumber air dari waduk yang ada di Batam masih ada.

Menurutnya, jika hanya mengandalkan satu waduk memang berat. Nah, ketika kondisi panas begini membuat kering, di sini dibutuhkan sinkronisasi kebijakan.

“Sehingga pelanggan air tidak menjadi korban. Dan dibalik itu, kita berdoa kepada Allah SWT agar musim bisa berganti sejenak. Sehingga air ada,” katanya.

Rencana penggiliran mematikan air dua hari (48 jam) dalam sepekan oleh ATB bukanlah solusi. Ia minta, agar ATB sebagai penyalur dan BP Batam sebagai penyedia bahan baku air berjibaku memikirkan hal ini. Agar masyarakat Batam tidak marah.

Sebelumnya, PT ATB akan mengabstraksi air baku Waduk Duriangkang melalui 3 Instalasi Pengolahan Air (IPA), diantaranya IPA Duriangkang dengan kapasitas 2.200 liter perdetik dan IPA Tanjungpiayu dengan kapasitas 200 liter perdetik.

Air baku dari Waduk Duriangkang juga dialirkan ke IPA Mukakuning sebesar 300 liter perdetik. Waduk ini melayani 80 persen kebutuhan masyarakat kota Batam.

“Sehingga, total pelanggan yang mendapat suplai air dari Waduk Duriangkang adalah sekitar 228.900 sambungan,” jelasnya

Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus menjelaskan sebelumnya, per tanggal 5 Maret 2020, penurunan volume air baku di Waduk Duriangkang telah mencapai minus 3,05 meter dari permukaan bangunan pelimpah.

Pemerintah memutuskan untuk melakukan penggiliran (rationing) di waduk Duriangkang. Langkah ini akan mulai dilakukan pada Minggu kedua Maret 2020, dengan skenario 2 hari off dan 5 hari on.

“Artinya, operasional di waduk Duriangkang akan berhenti selama 2 hari dan akan berjalan seperti biasa selama 5 hari dalam seminggu,” katanya.

Alasan ini ternyata tidak diterima warga Batam dan sebagian mengadukan nasib ke DPRD Kota Batam, khususnya yang berpotensi terkena dampak. (bob)

News Feed