Sabtu01122013

Last update12:00:00 AM

Back Anambas Berdayakan Nelayan Jongkong

Berdayakan Nelayan Jongkong

Share

ANAMBAS (HK) - Kondisi cuaca yang tidak menentu, ditambah tingginya gelombang laut mencapai 5 hingga 6 meter diperairan Anambas, membuat nelayan di daerah ini tidak bisa ke laut mencari nafkah menangkap ikan.

Untuk mengisi waktu luang nelayan tersebut, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Garda Bahari Anak Kepulauanan (GBRAK) Kabupaten Kepulauan Anambas berniat akan memberdayakan masyarakat nelayan, terutama nelayan tradisional jangkong yang selama ini masih di bawah bimbingannya, dalam bentuk kegiatan gotoroyong membersihkan sampah di kawasan desa Sri Tanjung, sebagai desa baru pemekaran dari tarempa Barat, Kecamatan Siantan,

Hasil kegiatan gotoroyong tersebut, diharapkan dapat menjadikan daerah itu sebagai daerah percontohan desa terbersih di Kabupaten Kepulauan Anambas kedepannya.

Menurut Ketua LSM Gbrak, Anwar, dalam kegiatan gotoroyong itu, ia berencana akan menyiapkan dana sebesar Rp50 ribu untuk masing-masing nelayan jangkong sebanyak 12 orang dan terbagi dalam dua gelombang kegiatan, yakni dari jam 08.00 WIB dan jam 13.00 WIB hingga 17.00 WIB.

"Jumlah nelayan jongkong yang dalam binaan LSM Gbrak saat ini sekitar 12 orang. Sedangkan dana yang akan kita berikan nanti sebesar Rp50 ribu meruakan dana dari pribadi saya sendiri," kata anwar.

Upaya tersebut, lanjutnya sebagai perhatian dan kepuasan diri sendiri melalui pemberdayaan masyarakat nelayan Jongkong tersebut yang tidak bisa mencari nafkah melalui tangkapan ikan selama ini.

"Kegiatan ini inisiatif sendiri sebagai rasa kepedulian terhadap masyarakat nelayan melalui pemberdayaan membersihkan sampah disekitar kawasan Desa Sri Tanjung tersebut," kata Anwar.

Ia juga berharap adanya perhatian pihak dinas terkait maupun Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas umumnya dalam bentuk bantuan melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat kemasyarakatan, sesuai kemampuan dari nelayan tersebut.

"Mereka (nelayan jongkong) sudah satu bulan ini tidak bisa turun ke laut akibat cuaca dan gelombang tinggi. Kebanyakan mereka hanya di rumah saja sembari menunggu kondisi cuaca mulai normal kembali," ungkapnya.

Sebelumnya, LSM Gbrak ini juga telah melakukan gotong royong pembuatan pelantar bongkar di Pinggiran Sungai Sugi Tarempa. Kegitan tersebut merupakan buah tangan dan dukungan penuh dari LSM itu sendiri

"Tujuan pembangunan pelantar ini, tidak lain adalah upaya LSM GBRAK untuk membantu dan mensejahterakan masyarakat, khusunya penambang pasir yang ada di Tarempa dan sekitarnya, karena selama ini mereka mengalami kendala, terutama dalam sarana bongkar muat tambang pasir yang telah mereka usahakan selama ini untuk dipasarkan ke masyarakat," kata Ketua LSM GBRAK KKA, Anwar saat ditemui disela-sela goro pembangunan pelantar bagi penambang pasir tersebut.

Dikatakan, pelaksanaan pembangunan pelantar muat ini sudah dimulai sejak sepakan lalu secara bertahap oleh 30 anggota kelompok pasir di wilayah ini, setelah mendapat persetujuan dari pihak kelurahan maupun pihak kecamatan setempat.

"Pelantar bongkar muat yang dibuat kelompok pasir ini bertujuan agar tidak menggagu aktivitas jalan yang digunakan masyarakat dipinggiran sungai sugi Tarempa," kata Anwar.

Menurutnya, dana untuk pembuatan pelantar ini diambil dari sakunya sendiri, ditambah sumbangan dari para donatur dan kelompok penambang pasir itu sendiri. Hal ini juga tidak ada campur tangan atau bantuan dana dari pemerintah KKA.

"Pembangunan pelantar ini terpaksa kita lakukan secara bertahap setelah mendapatkan pengumpulan sedit demi sedikit dana yang kita miliki, termasuk dari sumbangan para donatur dan para anggota kelompok itu sendiri,"ungkap Anwar

Diterangkan, panjang pelantar itu sediri nantinya sepanjang 50 meter dengan lebar sekitar 1 meter, sesuai persetujuan dari pihak keluaran dan kecamatan, serta kemampuan dari kelompok penambang pasir maupun usaha yang dilakukan GRAK akhir-akhir ini.

"Kegiatan ini kan positif karena, selain dapat membantu pencarian masyarakat sekitar juga dapat melancarkan aktivitas jalan masyarakat yang hari-hari melalui daerah itu,"katanya

Pesrsatuan Pasir ini beranggotakan 30 orang, adapun pasir yang mereka ambil dari pinggir pantai yang berada diwilayah sekitaran kebun-kebun mereka. Penambang dengan hari-hari bekerja mencari pasir mendapat 1 kubik di jual Rp130 ribu.Untuk cari nafkah penghasilan sehari Rp130 ribu, untuk biaya hidup di Tarempa belum apa-apa.

Selain itu, penambang ini menggunakan pompong kecil, padahal ini sangat berbahaya bagi penambang karena resionya tinggi, bahkan beberapa waktu lalu ada yang meninggal.

M Nawi (33), salah seorang anggota kelompok penambang pasir tersebut mengaku salut dan bangga atas upaya dan perhatian yang dilakukan oleh LSM GRAK tersebut dalam mendukung usaha yang dilakukan oleh penambang pasir rakyat selama ini untuk mencari nafkah bagi dirinya dan keluarga.

"Selama ini kami memang agak kesulitan untuk mendapatkan tempat dari hasil pengumpulan pasir yang kami dapati dari berbagai kawasan pantai dan daerah lain yang memiliki potensial adanya pasir untuk dijual ke masyarakat pembelinya untuk salah satu campuran bahan bangunan," ucapnya.

Disebutkan, hasil jual dari usaha tambang pasir tersebut didapat Rp130 ribu per kubik, atau sebanyak 20 hingga 25 karung goni plastik ukuran 50 kilogram. Dari jumlah tersebut, ia hanya bisa bersih mengambil keuntungan untuk dibawa pulang Rp60 ribu.

"Hasil bersih Rp60 ribu tersebut tidak diperoleh setiap hari, melainkan palinkan tergantung kondisi cuaca dan konidisi fisik kita juga dalam mendapatkan pasir itu," ungkapnya.

Ia juga berharap adanya perhatian dari Pemkab Anambas tentang nasib dan kehidupan dari para penambang pasir rakyat di Anambas selama ini. Hal itu mengingat penghasilan dari usaha mereka selama ini tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan keluarga selama ini.

"Selama ini tidak pernah ada perhatian dari Pemkab Anambas terhadap kami. Namun, mau tak mau kami juga harus terus berusaha sendiri untuk menutupi segala kebutuhan keluarga kami apa adanya," imbuh pria asli Anambas ini. (nel).