Rabu04242013

Last update12:00:00 AM

Back Andalas Panitia Jangan Gegabah Tentukan Pemenang

Panitia Jangan Gegabah Tentukan Pemenang

Soal Karut-Marut Pelaksanaan UN

PEKANBARU (HK)- Panitia tender pencetakan naskah soal Ujian Nasional diminta jangan gegabah menentukan perusahaan pemenang pencetakan. Hal tersebut dikatakan Komisaris Utama PT Cerya Riau Mandiri Printing H Basrizal Koto menyikapi karut-marut pelaksanaan Ujian Nasional SMA dan sederajat.
Menurut Basko, begitu ia akrab disapa, persoalan pelaksanaan UN kemarin terjadi akibat kelalaian panitia dalam menentukan pemenang, tidak melihat dari aspek kemampuan, pengalaman dan geografis lokasi di mana perusahaan tersebut berada.

"Kalau tiga aspek ini diperhatikan, saya kira tidak akan terjadi persoalan pelaksanaan UN SMA tahun ini di mana di 11 provinsi harus ditunda, karena PT Ghalia Indonesia Printing yang ditetapkan sebagai pemenang tidak mampu memenuhi target waktu yang diberikan," ujar Basko.

Lanjutnya, karut-marut pelaksanaan UN SMA sebenarnya tidak hanya terjadi di wilayah di mana PT Ghalia Indonesia Printing dipercaya menangani pencetakan naskah soal UN. Di Sumut, Sumbar, Riau, Banten yang naskah soal UN-nya ditangani PT Balebat Dedikasi Prima juga dirundung berbagai persoalan.

Berdasarkan pemberitaan surat kabar dan media online, persoalan demi persoalan mewarnai pelaksanana UN di daerah tersebut. Seperti kekurangan naskah soal, ketidaktepatan waktu pengiriman dan lain sebagainya. Bahkan di Sumut sebanyak 23 kabupaten/kota, termasuk Kota Medan tidak bisa mengikuti UN karena naskah soal yang belum seluruhnya sampai di sekolah masing-masing daerah.

Jika penetapan pemenang didasari pada aspek kemampuan, pengalaman dan geografis, menurut Basko tidak akan terjadi karut-marut pelaksanaan UN SMA seperti yang terjadi kemarin.

Basko mencontohkan kesuksesan PT Cerya Riau Mandiri Printing (CRMP) tahun lalu yang menangani pencetakan dan pendistribusian naskah soal untuk provinsi Sumut, Sumbar, Riau, Lampung dan Kalimantan Tengah.

"Tahun lalu kita dipercaya. Meski harga penawaran kita di urutan ketiga (Rp16,8 miliar) dari pagu sebesar Rp19,9 miliar, tapi panitia saat itu mengambil langkah tepat. Harga penawaran tidak menjadi patokan utama, tapi melihat kesiapan perusahaan kita yang didukung dengan mesin berteknologi tinggi. Selain itu, pengalaman apalagi perusahaan kita percetakan security printing dan secara geografis dekat dengan daerah tujuan, kita yang dipercaya. Dan kenyataannya tugas itu sukses kita lakukan tanpa ada celah," tukasnya.

Sayang untuk tahun ini dalam menetapkan pemenang, panitia tidak melakukan peninjauan langsung kesiapan perusahaan yang mengikuti tender, seperti tahun lalu. Di sinilah salah satu kecerobohan panitia lelang yang menyebabkan karut marut terjadi. Harusnya, panitia turun meninjau langsung kesiapan dan kemampuan perusahaan. Sebab, tidak semua perusahaan pencetakan security yang mampu mengemban tugas berat tersebut.

Di tahun 2013 PT CRMP menawar Rp15,9 miliar dari pagu Rp17,4 miliar. Namun dimenangkan PT Balebat yang berada di Bogor dengan penawaran terendah Rp12,9 miliar. "Dengan harga tersebut, apakah perusahaan mampu. Padahal hitungan kita untuk bahan baku dan biaya operasional saja tidak cukup," kata Basko.

Ke depan kepada panitia ditegaskan agar tidak hanya menjadikan penawaran terendah menjadi tolok ukur, tapi juga harus mempertimbangkan aspek kemampuan, pengalaman dan lokasi geografis perusahaan yang akan ditetapkan. Agar karut-marut pelaksanaan UN tidak terulang kembali.

Menurut pengusaha nasional ini, karut marut pelaksanaan UN SMA tahun ini telah mencoreng dunia pendidikan. Mempermalukan institusi Kemendikbud dan membuat gerah Presiden SBY. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, noda hitam pelaksanaan UN terjadi di Tanah Air.

UN SD

Untuk pelaksanaan UN SD, panitia diminta harus bisa berkaca dari pelaksanaan UN SMA kemarin. Namun sayang hal ini tidak dilakukan. Seperti yang terjadi di Sumatera Selatan. Untuk pencetakan soal naskah UN tingkat SD kok justru PT Balebat Dedikasi Prima yang bermasalah ditetapkan sebagai pemenang. Padahal penawaran mereka lebih tinggi (Rp1,48 miliar) dari CRMP dengan penawaran (Rp1,2 miliar)

Padahal, berkaca dari karut-marut pelaksanaan UN SMA di Sumatera Utara kiranya menjadi pelajaran bagi panitia. Hal ini patut dipertanyakan, terlebih perusahaan tersebut menawar harga lebih tinggi dari PT CRMP yang sangat siap dan berpengalaman menangani pencetakan naskah soal ujian.

Hal ini sangat kita sayangkan. Begitu juga yang terjadi di Riau dan Sumbar untuk UN SD di mana yang dimenangkan perusahaan yang menawar dengan harga terendah yang disanksikan kesesuaian spesifikasi yang diminta dan ketepatan waktu pengiriman. Untuk Sumbar penawaran terendah Rp489 juta dari pagu Rp772 juta. Riau, penawaran terendah Rp570 juta, dari pagu Rp1,05 miliar.

"Bagaimana bisa memenuhi spesifikasi yang diminta dan waktu yang singkat dengan harga penawaran rendah tersebut," ujarnya.

Di Kepri justru yang terjadi bertolak belakang. Harga tertinggi yang dimenangkan dengan penawaran Rp1,04 miliar dari pagu Rp1,15 miliar. Sementara CV Tifanny (anak perusahaan CRMP) yang menawar lebih rendah Rp747 juta digugurkan, dengan alasan yang tidak jelas.(hr/don)

Share