Sabtu05182013

Last update12:00:00 AM

Back Andalas Harga Karet Terus Anjlok

Harga Karet Terus Anjlok

TELUK KUANTAN- Anjloknya harga karet sejak dua bulan terakhir ini membuat sebagian masyarakat Kuantan Singingi kewalahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebagian besar masyarakat di kabupaten ini bergantung dari komoditas ini. Bahkan sejumlah warga mengaku mulai gamang menghadapi tahun ajaran baru sekolah yang tinggal beberapa bulan lagi.
"Entah lah pak, bagaimana caranya nanti, tahun ini anak saya yang paling tua mau melanjutkan ke SMP kalau lulus. Yang nomor dua mau masuk TK, pastinya perlu biaya yang tidak sedikit. Sementara sekarang jangankan menabung untuk persiapan, kebutuhan sehari-hari saja sering berutang di warung," ujar Iros, ibu rumah tangga asal Teluk Kuantan saat berbincang dengan Haluan Riau baru-baru ini.

Ibu tiga anak yang suaminya sehari-hari berporfesi sebagai petani penyadap karet ini mengaku, penghasilan suaminya dari menyadap karet kebun milik kerabatnya itu hanya berkisar Rp200 ribu satu minggu, itu pun kalau tidak hujan.

"Sekarang harga karet terus turun, bahkan dua hari lalu kami jual harganya cuma Rp7000 per kilogram. Dalam seminggu itu produksi cuma 70 kg. Jadi duitnya paling Rp400 ribu, dibagi dua dengan yang punya kebun, tinggal Rp200 ribu. Bayar utang di kedai dengan utang sama induk semang, paling Rp100 ribu - Rp150 ribu yang dibawa pulang. Rp 100 ribu seminggu mau makan apa zaman sekarang ini. Makanya terpaksa ngutang lagi,"ujarnya lirih.

Untuk itu dirinya bersama suami harus memutar otak mencari tambahan. "Kerja apa aja yang bisa menambah penghasilan, ini untung saja kita beras tidak beli karena ada hasil sawah kemaren," sambungnya.

Kalau dulu, saat harga karet di atas sepuluh ribu, menurutnyapenghasilan mereka dalam satu minggu itu bisa berkisar Rp400 sampai Rp500 ribu per minggu. "Kalau segitu kita bisa disisihkan antara seratus sampai dua ratus seminggu, lumayan untuk kebutuhan yang mendesak," paparnya.

Seharusnya menurut Iros, dalam menghadapi tahun ajaran baru ini dirinya sudah bisa menabung untuk persiapan mulai dari sekarang, tapi dengan kondisi seperti ini ia mengaku tidak bisa.

Tapi bukankah pemerintah sudah menggratiskan untuk tingkat SD sampai SMP? "Namanya saja gratis pak, kalau mau masuk sekolah, tetap saja harus siapkan duit, minimal Rp2 juta harus ada di kantong. Katanya uang ini lah, uang itu lah," ujarnya tanpa menjelaskan rincian dari biaya-biaya tersebut.

Belum lagi menurut Iros, momen bulan puasa, setelah itu hari raya, kemudian pacu jalur yang akan dihadapi yang membutuhkan biaya ekstra. "Itu semua kita perlu persiapkan dari sekarang," tuturnya.

Sementara itu, secara terpisah salah satu induk semang (toke) yang biasa membeli karet masyarakat di Seberang Taluk, Buyung mengakui kalau sejak dua bulan terakhir ini harga karet memang anjlok. "Wah, karam kami pak, sudah Rp7.000 satu kilogram sekarang, kalau udah segini banyak petani yang ngutang," ujarnya singkat.

Kemudian, informasi dari salah seorang warga Desa Jake, Isep, untuk harga karet di sana Rabu kemaren itu Rp8600/kg. "Turun terus, minggu kemaren masih Rp 9000 ribu, Rabu kemaren sudah Rp8600/kg," ujarnya.(uta)

Share