Sabtu05182013

Last update12:00:00 AM

Back Andalas Warga Agam Nyaris Tewas Diserang Buaya

Warga Agam Nyaris Tewas Diserang Buaya

AGAM (HK) – Tasie (73), warga Dusun Tantarung Jorong Pudung Nagari Bawan Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam nyaris tewas diserang buaya saat memancing di Batang Masang di Dusun Tantarung, Senin (22/4) sekitar 17.45 WIB.
Beruntung Tasie selamat dari maut yang mengancamnya, setelah dia berhasil mempertahankan diri dari serangan buaya ganas tersebut. Akibat peristiwa itu, Tasie mengalami luka robek pada bagian punggung dan kedua kakinya. Kapolsek Ampek Nagari AKP Bustanul Selasa (23/4) di Bawan mengatakan, korban menjalani perawatan di Puskesmas Bawan. Menurutnya, peristiwa serangan buaya yang dialami Tasie cukup membuat yang bersangkutan trau­ma. Beruntung ia tidak diseret buaya tersebut ke tengah sungai.

Bustanul menjelaskan, Batang Masang di Jorong Pudung Nagari Bawan Kecamatan Ampek Nagari merupakan sungai yang berbahaya bagi pemancing. Sebab, sungai ini dikenal sebagai sarangnya buaya. Namun penduduk setempat tidak terlalu mengindahkan hal ini, mereka tak kunjung jera memacing di tempat tersebut.

Berdasarkan pengakuan korban, ia sudah memancing sejak sore hingga menjelang magrib. Ketika yang bersangkutan akan pulang, tiba-tiba seekor buaya menyambar kakinya. Tasie berusaha melawan untuk melepaskan kakinya dari cengkraman buaya tersebut. Berun­tung ia berhasil melepaskan ang­gota tubuhnya dari gigitan buaya.

“Punggung Tasie luka-luka, karena mempertahankan diri, sementara keduanya kakinya mengalami luka robek akibat serangan buaya,” ungkap Bustanul.

Bustanul meminta masyarakat untuk tidak memancing di Batang Masang hingga sore, kalau pun memancing jangan sendirian. Sebab, jika memacing terlalu sore hingga malam, tentu akan membayakan pemancing. “Kita berharap tidak ada lagi korban serangan buaya berikutnya, mudah-mudahan masya­rakat mengambil pelajaran dari peristiwa ini,” jelasnya.

Buaya umumnya menghuni habitat perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya, namun ada pula yang hidup di air payau seperti buaya muara. Makanan utama buaya adalah hewan-hewan bertu­lang belakang seperti bangsa ikan, reptil dan mamalia, kadang-kadang juga memangsa moluska dan krus­tasea bergantung pada spesiesnya. Buaya merupakan hewan purba, yang hanya sedikit berubah karena evolusi semenjak zaman dinosaurus.

Dikenal pula beberapa nama daerah untuk menyebut buaya, seperti misalnya buhaya (Sd.); buhaya (bjn); baya atau bajul (Jw.); bicokok (Btw.), bekatak, atau buaya katakuntuk menyebut buaya bertubuh kecil gemuk; senyulong, buaya jolong-jolong (Mly.), atau buaya julung-julung untuk menyebut buaya ikan; buaya pandan, yakni buaya yang berwarna kehijauan; buaya tembaga, buaya yang berwar­na kuning kecoklatan; dan lain-lain.

Dalam bahasa inggris buaya dikenal sebagai crocodile. Nama ini berasal dari penyebutan orang Yunani terhadap buaya yang mereka saksikan di Sungai Nil, krokodilos; kata bentukan yang berakar dari kata kroko, yang berarti ‘batu kerikil’, dan deilos yang berarti ‘cacing’ atau ‘orang’. Mereka menye­butnya ‘cacing bebatuan’ karena mengamati kebia­saan buaya berje­mur di tepian sungai yang berbatu-batu. (hmg)

Share