Sabtu05182013

Last update12:00:00 AM

Back Andalas Kapal PETI Dibakar Warga

Kapal PETI Dibakar Warga

TELUK KUANTAN (HK) - Sebuah kapal yang digunakan untuk aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) musnah setelah dibakar warga Desa Pulau Jambu, Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi, Rabu (24/4).
Aksi warga Pulau Jambu tersebut merupakan puncak penolakan mereka terhadap Kapal aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang masih marak terjadi di Sungai Kuantan tersebut.

Menurut Iwan Purnama, warga Desa Pulau Jambu kepada wartawan di Kantor PWI Kuansing, Rabu (24/4), aktivitas PETI di Desa Pulau Bayur, sebenarnya sudah berlangsung lama. Selama ini aktivitas PETI itu berpusat di Desa Pulau Bayur, yang lokasinya hanya dipisahkan aliran Sungai Kuantan. Warga Desa Pulau Jambu menolak aktivitas PETI yang dirasakan telah meresahkan dan membuat bising kampung mereka. Sebab, lokasinya sudah begitu dekat dengan desa mereka.

Aksi pembakaran itu bermula ketika Selasa (23/4), sejumlah pemuda dari Pulau Jambu mendatangi lokasi dan melempari para pelaku PETI. Namun karena jumlah pekerja PETI jauh lebih banyak, mereka membalas dan mengejar warga. Dalam pengejaran itu, para pekerja PETI merusak satu unit motor Honda Revo kemudian membuangnya ke Sungai Kuantan.

Tak terima dengan perusakan itu, warga Desa Pulau Jambu kemudian berkumpul dan balas melakukan penyerangan. Namun ketika sampai di lokasi PETI, para pekerja sudah tidak ada lagi. Buntutnya, warga pun membakar sebuah kapal yang digunakan untuk aktivitas PETI tersebut.

Ditambahkan Iwan, beberapa warga Pulau Bayur disinyalir sebagai pemilik kapal PETI. Beberapa warga desa itu juga merupakan pekerja PETI. "Kita minta aparat Kepolisian menindak tegas pelaku yang merusak motor warga," ujarnya.

Diterangkannya, penolakan PETI semakin menguat karena aktivitasnya saat ini sudah sampai ke tengah perkampungan. Sebelumnya, aktivitas itu masih terpusat di hilir Desa Pulau Bayur. Kapal PETI tersebut sekarang berjejer dip inggir Sungai Kuantan, tepatnya di tepian Desa Pulau Bayur yang jaraknya hanya lima kilometer dari Mapolsek Cerenti. "Bunyi mesin kapal sampai terdengar ke kantor Polsek,"katanya.

Warga Terganggu

Kulit Gatal-gatal Dampak dari aktivitas PETI tersebut, saat ini sudah dirasakan langsung masyarakat. Saat ini, banyak warga di daerah itu terserang penyakit gatal-gatal atau karide. "Warga biasa mandi di Sungai Kuantan, sekarang banyak yang menderita penyakit karide," katanya.

Ditambahkan Ivan, warga Desa Pulau Jambu lainnya, saat ini ada warga Pulau Jambu bernama Sarjana (55) yang terkena penyakit jantung. Akibat aktivitas PETI yang bising, perempuan yang sudah berumur itu terpaksa harus mengungsi dari Desa Pulau Jambu karena tak tahan mendengar suara bising.

Sementara itu Jon, warga Desa Pulau Bayur, menambahkan, aktivitas PETI itu juga telah membuat bangunan Masjid di desa itu hampir roboh. Sebab, akibat PETI, banyak tebing sungai yang longsor. Saat ini, jarak antara tebing Sungai Kuantan dengan pondasi masjid tinggal berjarak 10 meter.

"Kalau air Sungai Kuantan naik, masjid di Pulau Bayur ini bisa roboh," katanya. Yang sering membuat warga merasa kesal, aktivitas PETI itu berlangsung tanpa kenal waktu. Bahkan saat azan dan salat sekalipun, aktivitas itu tetap berjalan.Warga Pulau Bayur tidak bisa lagi menggunakan waktu istirahat pada siang hari karena suara yang bising.

Sementara dari sisi kepentingan umum, aktivitas PETI itu membuat aktivitas penyebarangan jadi terganggu. Pasalnya, pemilik tanah yang kabarnya juga memilki mesin PETI, menyewakan tanah untuk disedot. Akibatnya, penyeberangan warga dari dua desa tersebut jadi terganggu,

Sementara di sisi lain, sikap dari aparat penegak hukum juga terkesan tidak peduli. "Kalau razia pun, kadang pelaku PETI ini ketawa, dan polisi hanya bisa melihat dan tidak bisa menertibkan," katanya.

Menurutnya, indikasi tentang dugaan keterlibatan sejumlah oknum yang menerima aliran dana dari aktivitas itu, sudah bukan rahasia lagi di tengah warga. Para pelaku PETI tersebut juga mengaku memberikan setoran agar aktivitas mereka aman dari razia. "Kita memang belum bisa membuktikan, tapi isunya sudah berkembang di tengah warga," tambahnya.

Tokoh Masyarakat Kuansing Mardianto Manan mengatakan, maraknya aktivitas PETI tersebut membuktikan kalau Polsek setempat tidak berdaya, dan harus ada tindakan tegas dari Polres Kuansing. Adanya pelaku PETI yang sampai merusak motor warga, dinilainya juga sudah sangat keterlaluan. "Ini namanya pasal pembiaran, seolah masyarakat kita diadu dulu, baru ada tindakan," ujarnya.

Untuk itu dirinya, meminta kepada Polres Kuansing segera turun tangan dalam masalah ini, jangan sampai terjadi bentrokan besar akibat aktivitas ilegal ini. Selain itu, sebenarnya tidak perlu lagi ada laporan, karena aktivitas itu berada didepan mata dan masyarakat telah resah.

Tetap Komit Kapolres Kuansing AKBP Wendry Purbyantoro melalui Kaspolsek Cerenti AKP Jannes Purba yang dihubungi wartawan menyatakan komitmennya untuk memberantas PETI di wilayah Cerenti. Namun ia sangat berharap supaya masyarakat mendukung pihaknya dalam memberantas aktivitas ilegal ini.

Pihaknya mengaku kewalahan memberantas PETI yang beroperasi di tengah Sungai Kuantan dan terkendala dengan sarana dan prasarana. Jika masyarakat benar-benar ingin membantu polisi dalam menertibkan PETI, Purba berharap kepada masyarakat supaya meminjamkan armada transportasi sungai kepada pihaknya. "Sejauh ini warga tidak berani meminjamkan pompongnya ke kita," ujarnya. (hmg)

Share