Senin04282014

Last update12:00:00 AM

Back Andalas Kerugian Kebakaran Hutan di Riau Capai Rp10 Triliun

Kerugian Kebakaran Hutan di Riau Capai Rp10 Triliun

PADANG (HK) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik di Provinsi Riau mencapai Rp10 triliun. Kerugian itu dihitung sejak kebakaran melanda daerah tersebut, Januari hingga Maret 2014.
"Ini masih ekonomi di Riau saja, belum termasuk dari provinsi lain seperti Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Jambi yang menerima dampaknya," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, di Padang, Senin (17/3).

Menurutnya, kebakaran tersebut juga terjadi di cagar biosfir yang hidup sejumlah hidup hewan dilindungi seperti harimau sumatera, gajah sumatera , tapir, dan beruang. Di samping itu, asap yang ditimbulkan dari kebakaran lahan mengakibatkan emisi Co2 yang demikian pekat sehingga berpengaruh terhadap meningkatnya tempratur bumi.

"Sebanyak 58 ribu penduduk juga menjadi sakit akibat asp ini. Kalau itu dijumlahkan kerugian tentu banyak sekali dan lebih besar daripada PAD sektor lokal," katanya

Sutopo menyebutkan, areal yang terbakar di Riau meliputi kawasan konservasi 2.398 hektar yang terdiri atas 922,5 hektar Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, 373 hektar Suaka Margasatwa Kerumutan, 80,5 hektar Taman Wisata Alam Sungai Dumai, 95 hektar Taman Nasional Tesso Nello, 9 hektar cagar alam Bukit Bungkuk, dan 867,5 hektar area penggunaan non kawasan hutan .

"Ini masih masih yang teridentifikas. Belum lagi titik-titik yang tidak terjangkau oleh satgas sebab sulitnya akses menuju derah tersaebut karena jauh dari jalan, harus melalui sungai, parit, dan tidak ada akses komunikasi sehingga menghitungnya sulit," katanya

Saat ini, lanjut dia, penegak hukum tengah menangani 40 kasus pemkabaran lahan yang melibatkan 60 tersangka. Tujuh di antaranya dalam proses penyelidikan, 33 dalam penyidikan, dan lima orang 5 orang buron. Polisi juga menyidik perusahaan PT NSP (Nasional Sagu Prima) yang berlokasi di Kabupaten Meranti.

"Untuk penaggulangan ini kuncinya adalah penegakan hukum. Selama ini belum dilakukan, ini (pembakaran hutan) akan terjadi terus terjadi.

Ia menambahkan modus pembakaran hutan dan lahan di Riau ini adalah efisiensi. Jika pembukaan lahan dilakukan dengan membakar, biaya yang diperlukan hanya Rp200 ribu - Rp300 ribu per hektar. Sementara jika menggunakan peralatan pengolah lahan biayanya bisa mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta per hektar.

Akibat kebakaran itu, Dari 19 kota/kabupaten di Sumbar, kadar udara di 10 daerah dikategorikan tidak sehat. Pemerintah Sumatera Barat juga mengeluarkan status siaga darurat kabut asap hingga 31 Maret 2014. Di Pasaman Barat, tercatat 3.000 ribuan warga terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Riau Guntur Aryo Tejo mengatakan, para tersangka pembakaran lahan saat ini ditangani beberapa kepolisian resor, yakni Bengkalis, Indragiri Hilir, Pekanbaru, Siak, Rokan Hilir, Pelalawan, Meranti, dan Dumai.

"Semua tersangka saat ini diamankan kepolisian resor setempat untuk pemeriksaan lebih lanjut," katanya.

Menurut Guntur, Polda Riau telah membentuk tim khusus, yakni Pemburu Pembakar Hutan dengan anggota 558 personel gabungan Polri, Kejaksaan, dan TNI yang dibagi dalam sembilan tim. Masing-masing tim berjumlah 62 personel. Sembilan regu disebar di dua wilayah, yakni lima tim di Bengkalis, tepatnya di Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, dan empat tim di Pelalawan, Taman Nasional Teso Nillo.

"Tim Pemburu Pembakar Hutan saat ini masih di lapangan melakukan penyisiran di lokasi kebakaran," kata Guntur. Untuk tersangka dari perusahaan, polisi melakukan penyidikan dan memeriksa sejumlah saksi, baik dari perusahaan maupun masyarakat. Polisi sudah menetapkan tersangka terhadap korporasi, tapi masih menyelidiki pihak manajemen yang paling bertanggung jawab atas kebakaran tersebut.

Sumur Migas Dibuka

Sementara itu, berkurangnya asap di Riau mulai berdampak positif bagi produksi minyak dan gas bumi (migas) di wilayah itu. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Handoyo, mengatakan sejumlah sumur minyak yang sempat ditutup mulai kembali dioperasikan sejak Ahad (16/3) sore).

"Karena sejak beberapa hari lalu hujan, kabut asap mulai hilang. Jadi sumur-sumur sudah dibuka secara bertahap dan mulai berproduksi lagi," kata Handoyo.

Handoyo mengatakan sumur-sumur yang diprioritaskan dibuka adalah sumur-sumur dengan potensi produksi besar. Dia memperkirakan sumur-sumur yang sempat ditutup ini bisa dioperasikan kembali secara bertahap dalam dua-tiga hari mendatang.

"Mungkin dua atau tiga hari lagi semua sumur bisa beroperasi, tetapi jumlah produksi tidak serta-merta seperti semula, harus ada uji produksi dulu," katanya.

Pada Minggu pagi, SKK Migas merilis informasi bahwa ada 573 sumur migas dan 19 unit pompa untuk injeksi air di wilayah kerja PT Chevron Pacific Indonesia yang harus ditutup akibat gangguan asap. Akibatnya, produksi Chevron rata-rata merosot 8.800 barel per hari, sementara total potensi produksi yang hilang dari wilayah Riau mencapai sekitar 12.000 barel per hari.

Penutupan sebagian sumur ini, menurut Handoyo, lantaran pembangkit listrik North Duri Cogen terganggu oleh buruknya kualitas udara akibat asap. Berkurangnya pasokan listrik dari pembangkit tersebut menyebabkan pompa untuk injeksi uap sumur migas tak bisa dioperasikan.

"Asap kabut membuat filter pembangkit listrik North Duri Cogen harus sering diganti. Tapi karena kualitas udara sangat buruk, tidak memungkinkan untuk melakukan maintenance," katanya. (ant/tmp)

Share