PEKANBARU (HK) - Gubernur Riau, Annas Maamun membentak Kepala Kepolisian Bengkalis, Ajun Komisaris Besar Andry Wibowo karena menolak menyebutkan nama buronan yang diduga pembakar hutan Riau.
Di saat bersamaan, dia juga marah atas pemberitaan wartawan sampai-sampai melakukan 'pengusiran'.
Peristiwa itu terjadi di Posko Penanggulangan Bencana Asap di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Kamis (20/3). Ketika itu, Andry Wibowo menjelaskan identitas orang-orang tersebut sengaja dirahasiakan untuk kepentingan penyidikan.
"Anda siapa? Saya ini gubernur, Anda jangan begitu," sela Annas yang tak terima dengan perkataan Andry.
Andry menjelaskan telah meminta Annas tidak menyebutkan nama buronan agar tidak dikutip oleh wartawan karena masih dalam pencarian. "Jika nama tersebut terekspos, nanti para buronan bisa kabur lebih jauh," kata Andry.
Annas tidak terima diinterupsi. "Saya ini diminta oleh satgas bertanya dengan pelaku perambah ini. Saya ini gubernur, Anda jangan begitu," ujarnya, sembari menjauhkan mikrofon dari mulutnya. Annas tampak kesal disanggah.
Sementara itu, kepada wartawan yang meliput pertemuan tersebut, Annas juga menuduh wartawan membuat berita bohong terkait kemarahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepadanya.
"Saya kesal dengan wartawan, menulis saya dimarahi Presiden. Mana ada saya dimarahi Presiden, jangan buat berita bohong," katanya.
Pernyataan Annas Maamun membuat wartawan berang. Wartawan menilai Annas Maamun tidak memahami kode etik jurnalistik dalam menyikapi pemberitaan. "Jika Bapak tidak senang dengan pemberitaan, ada mekanisme yang harus dilalui, bukan memarahi wartawan seperti ini," ujar Ketua Solidaritas Wartawan Riau, Syahnan Rangkuti.
Pernyataan Syahnan dibalas Annas dengan nada ketus. Annas malah membentak wartawan seraya meminta wartawan diam.
"Saya tahu itu, sebaiknya kalian diam. Kalau tidak diam, saya yang diam," ujar Annas.
Menyambung kegusaran Gubernur Riau, Komandan Satgas Penanggulangan Bencana Kabut Asap Riau Danrem 031/Wirabima Brigjen TNI Prihadi Agus Irianto lantas ikut 'mengusir' wartawan yang meliput pertemuan tersebut.
"Diam, diam... silahkan keluar," kata Brigjen TNI Prihadi Agus Irianto.
"Saya mengundang beliau ini (gubernur) sangat susah, begitu banyak tamunya. Jadi cobalah untuk menghormatinya," kata dia.
Brigjen Prihadi itu juga meminta wartawan agar diam tanpa mempersoalkan komentar gubenur. "Diam, atau silahkan keluar dari ruangan ini," katanya.
Mendengar pernyataan mengusir itu, puluhan wartawan yang berada dalam satu ruangan kemudian meninggalkan acara jumpa pers dan menyatakan memboikot pemberitaan posko bencana asap.
Demo Gubernur
Pascaperistiwa tersebut, ratusan wartawan dari berbagai media massa di Riau mendatangi Kantor Gubernur Riau Annas Maamun di Jalan Sudirman, Pekanbaru. Para jurnalis yang tergabung dalam Solidaritas Wartawan untuk Transparansi (Sowat) meminta Annas meminta maaf atas penghinaan terhadap profesi wartawan.
Dalam aksinya, para wartawan memprotes sikap arogan orang nomor 1 di Riau yang baru sebulan lebih satu hari memimpin Pemprov Riau tersebut. Mereka meminta Annas agar minta maaf dan memperbaiki sikap agar bisa menghormati kebebasan pers.
"Kami bekerja dengan profesional, silakan buat bantahan di media jika ada pemberitaan yang dianggap gubernur tidak tepat. Kami juga siap dikritisi jika ada salah. Tapi jangan seperti tadi, menghina-hina profesi wartawan," kata Ketua Sowat, Syahnan Rangkuti.
"Kami bukan bawahan gubernur, kami mitra yang artinya setara dengan gubernur. Jika tidak terima dengan pemberitaan, bisa melakukan hak jawab atau melapor ke Dewan Pers. Jangan bersikap tidak profesional," katanya lagi.
Selain itu, mereka juga meminta kepada Komandan Korem 031 Wirabima sekaligus Komandan Satgas Penanggulangan Asap Brigjen Prihadi Agus untuk meminta maaf atas pengusiran wartawan saat digelar jumpa pers.
"Danrem juga harus meminta maaf atas pengusiran dan sikap arogannya terhadap wartawan," ucap Hengki, wartawan lainnya.
Setelah menggelar orasi di teras kantor gubernur, ratusan wartawan akhirnya diterima Sekda Provinsi Riau, Zaini Ismail. Zaini atas nama pemerintah dan Gubernur Riau Annas Maamun menyatakan permohonan maaf kepada para jurnalis atas kesalahpahaman gubernur hingga berbuntut pengusiran oloh Danrem 031/WB Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto.
"Memang persoalan ini tak terjadi. Marilah kita memikirkan Riau ke depan. Kalau memang ada miss komunikasi saya selaku aparatur juga memohon maaf," kata Sekda.
Zaini janji, akan menyampaikan langsung kepada Annas Maamun. "Jika ada hal ingin disampaikan, saya siap menyampaikan kepada pak gubernur. Saya janji akan mempertemukan. Kalau dapat secepatnya," ujar Sekda lagi. (ant/tmp/mdk/hr)









