Jakarta (HK)- Kebakaran hutan dan lahan di Riau ternyata belum padam menyeluruh. Titik api di lahan gambut di sejumlah wilayah Riau kembali meluas. Akibatnya, beberapa wilayah kembali diselimuti kabut asap.
"Kabut asap hari ini tampak jelas, tapi masih tipis," kata Nur Syamsiati, warga Duri, Kabupaten Bengkalis, saat dihubungi, Minggu (23/3).
Andi Arifin, warga Duri lainnya mengaku kabut asap tipis sudah terlihat sejak siang. "Asapnya masih tipis, tidak seperti pekan lalu," katanya.
Kabut asap juga menyelimuti wilayah Kabupaten Siak. "Di siak juga berasap, tapi masih tipis," kata Boy Heriadi, warga Siak.
Menurut Boy, hujan deras pekan lalu sempat membuat kabut asap hilang. Namun dua hari terakhir ini hujan tidak turun di wilayah Siak. Akibatnya kabut asap kembali muncul namun tipis.
Kepala Bidang Informasi Pusat Pengelolaan Ekologi Regional Sumatera Ilham Malik mengatakan kualitas udara di beberapa wilayah dalam kondisi nyaris tidak sehat.
Menurut dia, hujan deras yang turun pekan lalu tidak tuntas memadamkan api secara menyeluruh, maka lahan gambut yang berada pada kedalaman empat meter masih menyisakan bara. "Lahan gambut masih mengeluarkan asap, apalagi dua hari ini tidak ada hujan," katanya.
Sementara itu, satelit NOAA18 memantau ada 11 titik panas, yaitu dua di Inhil, satu di Kampar, lima di Pelalawan, satu di Rohil dan dua di Rohul.
"Titik panas berada di lahan gambut dengan kedalaman 5 hingga 10 meter," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Sabtu (22/3).
Sutpo mengaku, wilayah ini butuh hujan yang deras atau penggenangan air untuk memadamkan bara itu. Saat inipun, aparat juga masih memburu para pembakar dan pembalak liar.
Sebelumnya, saat berkunjung ke Riau, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan penyebab kabut asap di Riau adalah hutan yang sengaja dibakar. SBY membantah pendapat yang menyebutkan bahwa kebakaran lahan di Riau akibat cuaca ekstrem.
SBY mengaku tidak suka dengan alasan yang menyatakan penyebab kebakaran lahan adalah kondisi alam. Menurut dia, ada kalanya cuaca ekstrem menyebabkan vegetasi menjadi kering dan bisa memicu kebakaran saat bergesekan. Namun, kata SBY, kasus semacam itu sangat sedikit. "Kebakaran lahan di seluruh wilayah Indonesia sebagian besar akibat kesengajaan," ujarnya.
Kades Ditangkap
Terkait soal lahan di Riau, kemarin, polisi menangkap pria berinisial UM yang menjabat Kepala Desa Tasik Serai, Bengkalis. UM ditangkap karena mengeluarkan surat izin bodong penjualan lahan hutan lindung Cagar Biosfer Giam Siak Kecil.
"Dia ditangkap di rumahnya kemarin," kata Kepala Kepolisian Resor Bengkalis Ajun Komisaris Besar Andry Wibowo.
Kepada polisi, UM mengaku telah mengeluarkan sepuluh surat izin penjualan lahan biosfer seluas ratusan hektare. Seusai meneken surat izin tersebut, UM menerima sejumlah uang dari pembeli dan penjual lahan. Andry mengatakan hingga saat ini pihaknya menangkap 35 tersangka perusak Cagar Biosfer Giam Siak Kecil. Menurut Andry, jumlah tersangka kemungkinan bakal terus bertambah hingga 50 orang. "Kami masih memburu beberapa orang lain yang terlibat," kata Andry.
Peran UM dalam jual-beli lahan biosfer muncul dari keterangan tersangka perambah hutan bernama SM, yang ditangkap Satuan Tugas Pemburu Pembakar Hutan. Menurut SM, UM mengeluarkan Surat Pernyataan Ganti Rugi (SPGR) yang telah ditandatangani seluruh perangkat desa. Untuk satu surat jual-beli lahan, SM mengaku membayar UM Rp1,5 juta. "Semula saya merasa sah-sah saja karena ada suratnya. Saya tidak tahu sama sekali bahwa lahan ini masuk wilayah konservasi," ujarnya.
Hutan cagar biosfer merupakan konsep kawasan konservasi dan budidaya lingkungan yang diakui secara internasional. Hutan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil dikukuhkan dalam sidang UNESCO di Korea Selatan pada 26 Mei 2009, dan merupakan satu dari tujuh cagar biosfer yang ada di Indonesia. Di Provinsi Riau, selain di Bengkalis, hutan cagar biosfer masuk wilayah Kabupaten Siak.
Hutan rawa gambut Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil memiliki luas 84.967 hektare. Sedangkan Suaka Margasatwa Bukit Batu luasnya 21.500 hektare. Keduanya merupakan bagian dari eco-region hutan Sumatera yang menjadi sebuah kawasan konservasi dengan area inti cagar biosfer seluas 178.722 hektare.
Sejauh ini Kepolisian Daerah Riau sudah menetapkan 85 tersangka pembakar hutan, salah satunya karyawan dari PT Nasional Sagu Prima di Kepulauan Meranti. Semua pelaku yang tertangkap tengah membakar dan merambah hutan untuk membuka lahan perkebunan. Beberapa pelaku juga terjerat kasus pembalakan liar. (ant/tmp/dtc)Share
Riau Kembali Berasap
- Senin, 24 March 2014 00:00









