PEKANBARU (HK)-- Raut muka Tiar Sitanggang, perempuan paruh baya itu terlihat khawatir.
Seolah tak sabar untuk menemui putra sulungnya Mario Steven Ambarita (21) di Bandara SSK II Pekanbaru, Riau, kemarin. Kedatangan wanita itu ke bandara karena mendapat kabar anaknya, Mario menjalani rekonstruksi terkait aksi "penyusupan" ke bagian roda pesawat Garuda Indonesia hingga terbawa terbang ke Jakarta beberapa waktu lalu.
Didampingi penasehat hukumnya, ia pun dibawa masuk petugas ke salah satu ruang bandara. Di sini ia kembali menanyakan kepastian, kapan bisa bertemu dengan putranya. "Saya dipanggil untuk menemui Mario," kata Tiar yang mengenakan kaos putih itu tampak lesu. Tapi ia diminta untuk bersabar. Saat diminta untuk terus bersabar, Tiar tak bisa menahan tangisnya. Ia pun histeris. "Saya ingin jumpa dengan dia Pak," kata Tiar memohon pada petugas.
Petugas pun kembali meminta Tiar bersabar. Mario memang sengaja disembunyikan di salah satu ruangan, agar tak diwawancara dulu oleh wartawan. Dengan berlinang air mata, Tiar juga mengklarifikasi soal status Mario di media sosial. Sepengetahuannya, Mario bahkan tak punya handphone. Mengenai aksi nekat Mario yang naik ke roda pesawat Garuda dari Pekanbaru-Jakarta, Tiar tak terima bila ada yang menyebut anaknya mengalami kelainan jiwa.
"Anak saya tak sakit jiwa pak. Dia anak pintar di sekolah. Nilainya bagus saat di SMK dulu. Mario hanya ingin kuliah. Sementara saya tak mampu membiayai kuliahnya," kata Tiar masih dengan tangisnya sembari mengatakan kedatangannya ke bandara hanya untuk bisa bertemu dengan anaknya.
"Saya datang sedari pagi tadi (kemarin) bersama keluarga, tapi sampai sekarang belum juga bertemu dengan Mario. Petugas bilang Mario belum sampai ke Pekanbaru," kata Tiar.
Ia mengatakan dirinya bersama sejumlah anggota keluarga sampai di Pekanbaru dari rumahnya di Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir. Dia mengaku sudah lebih dari lima jam berada di Bandara SSK II Pekanbaru, namun belum juga bertemu dengan anaknya.
Sementara anggota keluarga yang bermukim di Pekanbaru terus berdatangan. Sesekali dalam ucapannya dia terlihat tersedu dan menangis. "Saya sabar menunggu anak saya pak. Namanya anak, saya sangat rindu dia," katanya.
Sementara itu penasehat hukum Mario, Mangiring Sinaga mengatakan, pihaknya akan mendampingi kasus tersebut hingga tuntas. "Kalau bisa bebas dan Mario diberi kesempatan bertemu Presiden Jokowi," katanya.
Pada sore hari kemarin, akhirnya Mario dan keluarganya dipertemukan. "Mario hanya mau bertemu keluarga tanpa ada awak media. Mohon dimaklumi," kata petugas
Rekonstruksi
Penyusupan Mario Steven Ambarita (21) masuk ke roda belakang pesawat Garuda Indonesia rute Pekanbaru-Jakarta, Selasa (6/4) direkonstruksi, Jumat (13/10).
Rekonstruksi itu langsung diperagakan Mario sendiri dan disaksikan pihak maskapai penerbangan, PT Angkasa Pura II, PPNS dari Kementerian Perhubungan, Dodi Ricardo dan sejumlah wartawan.
Rekonstruksi berlangsung aman dengan pengamanan dari pihak bandara serta dari pihak TNI AU juga ikut mengamankan jalannya rekontruksi tersebut. Adegan reka ulang kasus Mario ini dimulai dari dia memasuki kawansan bandara. Sampai memasuki roda belakan pesawat yang membawanya ke Jakarta.
Hanya ada sekitar delapan adegan yang boleh diikuti oleh media massa. Sebab, selebihnya dilakukan di area sangat terbatas yang tidak boleh dimasuki selain oleh petugas.
Dari delapan adegan itu antara lain terlihat bagaimana Mario melakukan pengamatan selama tujuh hari di bandara, di mana dia makan, di mana tidur selama pengamatan hingga bagaimana dia masuk ke area bandara. Tentang bagaimana teknis dia berada di ujung landasan dan bagaimana cara masuk ke ruang roda pesawat, wartawan tidak dapat mengikuti rekonstruksi karena terkendala peraturan daerah terbatas.
Tapi yang pasti titik awal rekonstruksi dimulai dari Masjid Al Musafirin di depan VIP Room Lancang Kuning Bandara SSK II Pekanbaru. Di teras masjid inilah Mario awal memulai niatnya. Setelah itu dia mendekat ke pagar bandara dekat samping VIP Room Lancang Kuning mengamati mana pesawat yang akan berangkat.
"Ada lima menit aku mengamati dari pagar ini," ujar Mario.
Merasa aman, Mario pun masuk dari pintu pagar yang terkunci dekat pintu gerbang lama Bandara SSK II. Jaraknya hanya sekitar 100 meter dari pos penjagaan Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin Pekanbaru. Saat memanjat pagar itu. Ia tanpa memegang bagian puncak pagar namun langsung meloncat ke dalam areal bandara lalu merayap di semak-semak mendekati landasan pacu. Ketika dilihatnya pesawat GIA 117 akan lepas landas, Mario berlari mendekati pesawat dan masuk ke dalam rongga roda pesawat hingga terbang ke Jakarta.
Sebelumnya Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) telah menetapkan Mario menjadi tersangka. Mario dianggap bersalah karena masuk daerah terbatas bandara, serta membayakan nyawa penumpang pesawat.
Berdasarkan UU Penerbangan tahun 2009 pasal 421 ayat 1, ia terancam hukuman kurungan satu tahun dan denda maksimun Rp 100 juta. Selain itu, Mario juga terjerat pasal 435 dengan denda maksimum 500 juta karena masuk wilayah bandara tanpa izin. "Yang bersangkutan memang sudah ditetapkan menjadi tersangka dan terancam terkena hukuman dua pasal tersebut," ujar Staf Khusus Menteri Perhubungan, Hadi M Djuraid.
Saat ini Mario tengah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II, Pekanbaru. Selain melakukan oleh TKP, PPNS juga masih mendalami motif Mario nekat menyelinap di roda belakang pesawat Garuda Indonesia, Selasa (7/4) lalu.
Setelah melakukan olah TKP, rencananya Mario juga akan menjalani tes kejiwaan. "Nanti akan dilakukan tes kejiwaan kepada yang bersangkutan," tandasnya. (rpk/net)




