Langkitang dan pensi tidak hanya menjadi makanan favorit, tapi juga menjadi matapencarian yang cukup menggiurkan jika ditekuni dengan serius. Selain enak, ternyata banyak khasiat yang tekandung dari makanan ini.
Azizah, wanita 34 tahun ini tidak menyangka jika makanan favoritnya langkitang dan pensi akan menjadi matapencarian yang cukup menguntungkan. Mungkin sebagian besar kita sudah mengenal makanan ini.
Langkitang bentuknya yang menyerupai keong, namun lebih panjang dan hidup di sungai. Dari dulu memang sudah menjadi santapan yang lezat bagi warga di Padang bahkan di Sumatera Barat. Begitu juga dengan pensi bentuknya yang menyerupai kerang atau lokan namun ukurannya jauh lebih kecil dan hidup di danau. Kebanyakan di danau maninjau. Dua makanan ini memang lezat jika Anda bisa mengolahnya.
Itulah yang dilakukan oleh wanita asal Tiku ini. Dari tahun 2000 pekerjaan sebagai pedagang langkitang dan pensi dijalaninya. Awalnya berjualan pengsi bukanlah sebagai pekerjaan utamanya, namun karena keterbatasan modal yang dimiliki azizah mencoba berjualan Langkitang dan pensi di pelataran parkir bekas maal yang ada di pasar raya Padang. Ternyata makanan ini sudah cukup dikenal di kota ini. Terbukti, tidak ada kesulitan untuk memperkenalkan makanan yang tergolong jarang dimakan ini.
Sepintas melihat bentuknya yang masih menyerupai keong dan kerang yang masih dalam cangkangnya, mungkin Anda akan berfikir dua kali untuk membelinya apalagi memakannya. Tapi jika sudah merasakannya, dijamin akan ketagihan dan tidak akan berhenti sampai habis.
Menurut Azizah, ia adalah penjual Langkitang pertama di pasar raya padang ini. Hampir 10 tahun, Azizah menekuni pekerjaannya ini.
Diakuinya, keuntungan yang didapatnya dari penjualan langkitang ini lumayan. Sedikitnya satu baskom langkitang dan satu baskom ukuran sedang langkitang dan pensi dapat dijualnya dengan laris manis. Minimal ia bisa mengantongi keuntungan Rp 350 ribu lebih per harinya.
Meskipun ini hanya makanan ringan pengganti cemilan, tapi ibu kelahiran 1976 ini mengaku, langkitang dan pensi banyak mengandung khasiat yang berguna untuk kesehatan.
Seperti langkitang, sangat baik untuk jantung. Bahkan ibu 3 orang anak ini menceritakan seorang nenek yang berusia 80 tahun lebih di desanya masih sehat, dan segar karena rata-rata penduduk di desanya tiku mengkonsumsi langkitang sebagai lauk makan sehari-hari.
Langkitang tidak hanya bisa digulai, tapi juga bisa di soup, tumis dan balado katanya. Sementara untuk pengsi sendiri sangat baik untuk kalsium, dan kessehatan mata.
Dalam satu minggu Azizah bisa menghabiskan 7 hingga 15 karung langkitang yang dijualnya di pasarraya Padang. Sedangkan untuk pensi bisa 20 liter hingga 80 liter perharinya.
Banyaknya penikmat makanan khas ini, dirasakan Azizah, mulai menurun, lantara mall yang ada di pasar raya telah rusak akibat gempa dan bepindah ke kawasan Air Tawar Padang. Meskipun begitu ia yakin makan ini akan bisa bertahan menjadi makanan ringan yang sehat dan banyak khasiatnya untuk tubuh. Azizah tidak sendiri berjualan langkitang di pasar raya ini, kini minimal telah ada 5 orang yang berjualan langkitang. Bahkan di pasar-pasar selain pasar raya seperti Pasar Alai, Pasar Bandar Buat telah ada yang berjualan makanan yang sama seperti miliknya.
Kenikmatan langkitang dan pengsi ini juga diakui oleh Enid an Eli. Mahasiswa swasta di Padang ini mengaku setiap ke pasar mampir hanya untuk membeli langkitang dan pensi. Satu gelas kecil pensi dan langkitang dijualnya sehargha Rp 3000,-, tapi jika membeli 2 gelas dapat potongan harga seribu rupiah, menjadi Rp 5000,-
Wanita ini tak mengira bahwa makan kegemarannya di kampung menjadi mata pencariannya di tanah rantau. Niatnya mancari rezeki yang halal dan sukses di kampung orang. Meski hanya menjual langkitan dan pensi. Penghasilanya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dengan dibantu suami tercinta Azizah belum berfikir untuk mengganti usahanya. “langganan wak lah banyak diak. Sahari indak manjua banyak yang batanyo bisuaknyoí ujarnya. (Suswinda Ningsih)
Share



