BATAM (HK)- Tingginya curah hujan akhir-akhir ini, membuat warga di sekitar Hotel Asher, Bistro & Lounge di bukit Seraya Atas, Batuampar, Batam semakin resah. Mereka khawatir, bila hujan terus terjadi, keberadaan hotel bertingkat delapan yang berada di lereng bukit tersebut ambruk dan menimpa mereka.
Keresahan warga ini wajar lantaran sebagian mereka masih menyimpan pengalaman pahit (trauma) ketika di sekitar lokasi tersebut pernah terjadi bencana longsor yang menelan 19 korban jiwa.
"Kalau hujan gini, kami tambah was-was, takut bangunannya ambruk. Wajar mas, kami masih trauma dengan kejadian longsor beberapa tahun lalu. Ada sembilan warga yang tewas tertimbun longsor di kala itu," ujar Ucok, salah seorang warga yang mendiami sekitar bangunan Asher, Selasa (18/12).
Dia mengatakan, keberadaan hotel itu diduga sangat rawan longsor. Sebab kondisi tanah di atas bangunan yang berada di lereng bukit itu dapat dengan mudah terkikis oleh aliran air hujan. Apalagi di Batam nyaris setiap hari turun hujan, ditambah lagi dengan beban ruas jalan umum yang ada di depan hotel itu sangat berat.
Untuk itu ia meminta pemerintah cepat tanggap dengan keluhan warga ini. Pemerintah kata Ucok jangan membiarkan warga mengambil sikap sendiri untuk mengatasi masalah ini.
" Kami minta ketegasan dari pemerintah untuk masalah ini. Kami tahu dan tidak menolak investor. Tapi jangan membiarkan kami hidup dalam keresahaan. Apalagi di sekitar kawasan itu pernah terjadi longsor. Bahkan saya pernah dengar kalau daerah yang pernah terjadi longsor tidak diperbolehkan lagi ada bangunan di sekitar lereng bukit itu. Tapi kenapa pemerintah membiarkan hal itu. Apakah nanti ada lagi korban jiwa baru pemerintah peduli atau seperti apa. Kami minta ditinjau ulang keberadaan hotel itu," harapnya.
Senada dengan itu, warga lainnya mengaku bukan hanya mereka yang resah dengan kehadiran bangunan di lereng bukit tersebut, tetapi para pekerja di sekitar bagunan Asher juga resah. Mereka takut hotel itu ambruk.
"Takut aja tiba-tiba ambruk karena posisi tanahnya tidak datar," kata warga yang enggan menyebutkan namanya.
Ia mengharapkan agar pihak terkait segera mengatasi permasalahan tersebut dan meminta agar pembangunan hotel itu dibatalkan demi keselamatan masyarakat.
"Jika ada penolakan dari warga, berarti adanya penyalahan aturan dalam pembangunan tersebut. Instansi terkait harus melakukan peninjauan kembali terhadap proses perizinan yang telah dikeluarkan,” tegasnya.
Meski protes dari sejumlah pihak, terutama masyarakat sekitar Hotel Asher, namun seolah-olah pemerintah tutup mata. Ini terlihat dari bangunan hotel itu sudah menjulang tinggi hingga 8 lantai.
Informasi yang dihimpun di lapangan, masyarakat sekitar akan melakukan protes ke Pemko Batam terkait dengan keberadaan bangunan Asher.
Menanggapi keberadaan hotel di lereng bukit, Ketua Gapeknas Kepri, Suparman mengatakan sifat dari bangunan fisik sangat ditentukan oleh pondasi. Artinya jika pondasi suatu bangunan kuat dan memenuhi standar ketinggian bangunan, maka bangunan tersebut akan kuat dan mampu bertahan.
"Tergantung pondasinya. Tapi jangan salah karena pondasi yang kuat sangat ditentukan oleh struktur tanahnya apakah miring atau datar," ujar Suparman yang ditemui di kantornya beberapa hari lalu.
Sebelumnya, Pakar Mekanika Tanah Unika, Ir Daryanto menilai setiap bangunan yang ada di lereng gunung atau bukit kemungkinan sangat rawan dengan longsor. Sebab, butiran-butiran tanah dapat dengan mudah terkikis oleh aliran air hujan.
"Kemungkinan terjadinya longsor akan semakin besar dengan adanya bangunan permanen di atas tanah tersebut,'' katanya di Batam Centre, kemarin.
Untuk jangka pendek, jelas dia keberadaan bangunan itu menambah beban tanah. Dalam jangka pendek, hal itu belum bisa dirasakan. Tetapi, jelas dia, lambat laun daya dukung yang dimiliki tanah tak mampu lagi menahan beban yang ada. Akibatnya saat hujan terjadi, tanah yang sebelumnya telah mendapat beban yang cukup besar itu akan semakin berpotensi longsor.
Untuk menghindari hal itu, Daryanto menjelaskan, sebaiknya dihindari adanya bangunan permanen baik di bawah atapun di atas daerah yang rawan longsor. Kerawanan akan longsor salah satunya bisa diketahui dari riwayat daerah tersebut.
Jika memang sebelumnya pernah terjadi longsor, bisa dikatakan daerah tersebut rawan. (ays)
- IPK Tanam 1000 Pohon
- Komit Tingkatkan Pelayanan
- Perlu Sinergisitas UU Kamnas dan UU lain
- KKP Tangkap Enam Kapal Asing
- Rute Batam-Medan Full
- Enam Kapal Thailand Ditangkap
- Pengerukan Kolam Lele Minta Dihentikan
- Wako: Banggalah Jadi Orang Batam
- Korban RK Mobil Terus Bertambah
- Rawan Longsor, Warga Ancam Demo Asher
- Mahasiswa dari 33 Provinsi Demo di Batam
- Napak Tilas 183 Tahun Batam
- RK Mobil Diduga Tipu Konsumen
- Importir Menjerit, Permendag 59 Matikan Usaha
- Kemajuan Batam
- Resort Mewah di Kampung Tua
- Kodim Batam Gelar Napak Tilas
- PNS Pemko Bingung, Dana Asuransinya Tak Jelas
- DBD Jadi Prioritas Utama
- Anugerah Batam Madani 2012


