Senin01142013

Last update12:00:00 AM

Back Batam Pasca Tewasnya Balita, Warga Takut Kunjungi Waterpark

Pasca Tewasnya Balita, Warga Takut Kunjungi Waterpark

Share

BATAM (HK) – Warga mulai takut mengunjungi Water Park Top100 Tembesi, paca tewasnya balita perempuan, Lira Alvinda Putri (5) di kawasan tersebut, Kamis (3/1) lalu.

" Setelah kejadian itu, ngeri juga mandi di situ (water park). Walaupun siang hari, saya dan anak-anak tak akan berani mandi di situ," kata Anita, salah seorang pengunjung Water Park Top100 Tembesi, kemarin.

Ia mengatakan, apa pun alasannya kalau sudah ada yang menjadi korban mandi di kolam renang tersebut, pasti tidak akan nyaman lagi mandi di kawasan itu. Apalagi penyebabnya, karena kelalaian.

" Kalau memang mau mandi di kolam renang, mendingan cari tempat lainnya aja yang lebih nyaman. Kan banyak tempatnya. Dari pada mandi di situ, selalu diliputi ketakutan dan was-was," katanya.

Tampubolon, warga lainnya mengatakan, insiden di Waterpark, Top 100 Tembesi yang menewaskan seorang balita perempuan, menunjukan betapa lemahnya pengawan dan penjagaan di waterpark tersebut.

" Pengawasan dan penjagaan di kolam renang dikeluhkan pengunjung karena ketidaksiapan pengawasan maupun penjagaan di kolam renang tersebut, bahkan ketidaktersedian air bersih untuk mandi ulang," katanya menjelaskan.

Seorang pengunjung lain yang tidak mau disebutkan namanya mengaku shock dengan kejadian itu. Apalagi yang meninggal itu anak usia balita. Kejadian itu membuatnya sedih dan iba hati.

Untuk bisa sampai ke kolam renang tersebut, setiap pengunjung dewasa dikenakan biaya sebesar Rp.25.000, sedangkan pengunjung anak-anak dikenakan biaya sebesar Rp.10.000.

Lira tercebur ke dalam kolam renang lantaran luput dari perhatian kedua orang tuanya dan juga beberapa saudaranya yang turut ke lokasi.

Korban dibawa ke pemandian Water Park Top100 Temsesi, Sagulung oleh kedua orang tuanya dan juga beberapa saudaranya yang lain.

Warga Perumahan Greenland blok F6/7 Batam Center ini tewas dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Camatha Sahidya (RSCS) Mukakuning.

Sebelumnya di lokasi, saat pertama sekali ditemukan dalam keadaan mengapung, balita yang menjadi korban ini masih sempat memuntahkan air yang sempat ditelannya. Memang, di lokasi oleh pengelola disediakan klinik untuk antisipasi. Namun, upaya pertolongan yang dilakukan oleh petugas klinik itu tak mampu lagi menyelamatkan nyawa korban. (cw71)