Selasa06102014

Last update12:00:00 AM

Back Batam Harga Beras di Batam Naik

Harga Beras di Batam Naik

BATAM (HK) - Setelah kelompok lauk-pauk dan bumbu dapur mengalami kenaikan harga, kini giliran harga beras naik. Beras yang mengalami kenaikan adalah beras asal Jawa dan Sumatera, rata-rata Rp2 ribu per kilogram.

Kenaikan harga beras terjadi karena faktor cuaca yang menyebabkan biaya transportasi naik, pasokan beras ke Batam berkurang, akibatnya harga naik.

Seperti disampaikan Agus, pedagang beras di Pasar Mitra Raya, Batam Centre, Selasa (15/1). Dikatakannya, harga beras mengalami kenaikan harga sejak beberapa hari terakhir. Seperti beras IR misalnya, beberapa bulan sebelumnya masih bisa dijual seharga Rp185 ribu per karung, kini menjadi Rp210 ribu per karung ukuran 25 Kg. Sedangkan beras ukuran 5Kg naik menjadi Rp43 ribu dari biasanya Rp38 ribu.

"Beras lokal biasanya ada yang paling murah seharga Rp7 ribu, kini menjadi Rp8 per kilogram. Ada juga beras yang sebelumnya seharga Rp6 ribu, kini Rp7500 per Kg," tutur Agus.

Agus mengatakan di kedai miliknya tidak menjual beras eceran, melainkan kemasan, yakni ukuran 5 kg, 10 kg dan 25 kg.

"Untuk beras merk bunga mawar, bumi ayau, beras rose, matahari dan merk bintang tiga per karung ukuran 25 Kg di sini harganya hampir Rp300 ribu," sambung Agus.

Desi, pedagang beras di Bengkong Harapan II menyebutkan harga beras mulai merangkak naik karena ombak tinggi, akibatnya pasokan berkurang. Dikatakan Desi, tidak hanya beras, berbagai komoditas lainnya juga mengalami kenaikan harga karena suplai terganggung.

"Beras asal Jawa dan Sumatera memang naik, tetapi masih bisa diredam oleh beras impor yang harganya di kisaran Rp7.000-8.000 per kilogram. Sedangkan beras lokal asal Jawa dan Sumatera paling murah Rp10 ribu per kilogram," ujar Desi.

Disebutkannya, kenaikan harga beras banyak yang tidak merasakan karena banyak beredar beras impor. Namun, bagi pecinta beras lokal yang rasa nasinya lebih enak, kenaikan harga beras sudah sangat terasa.

"Bagi yang tidak menyukai beras Thailand, pasti mengkonsumsi beras lokal. Harga beras lokal sudah sangat tinggi, paling murah Rp10 ribu, bahkan ada yang Rp14 ribu, khusu beras Padang," ujar Desi.

Harga kebutuhan pokok lainnya yang sangat dirasakan dampaknya oleh pembeli maupun pedagang adalah kenaikan harga telur. Harga telur tidak hanya tinggi, tetapi juga sulit untuk mendapatkannya.

"Di kedai saya dua hari lalu sempat kosong telur, karena pasokan dari Medan minim, pedagang rebutan. Harganya juga paling tinggi. Hampir 10 tahun saya berjualan sembako, harga telur kali ini paling tinggi, Rp35 ribu per papan. Di tingkat pengencer bahkan menjual sampai Rp1.400 per butir. Saya belum pernah mendapat pasokan telur dari Barelang, karena harganya lebih mahal," papar Desi.

Hingga kini, berbagai kebutuhan pokok di Batam masih tinggi. Kondisi ini diperkirakan masih akan terjadi hingga Februari mendatang, seperti dituturkan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral Kota Batam Amsakar Ahmat, Senin (14/1).

Komoditas yang mengalami kenaikan harga seperti ikan-ikanan ukuran kecil dan sedang di kisaran Rp18 ribu hingga Rp27 ribu per kilogram. Sementara kepiting, ketam, udang, gonggong dan sotong harganya di atas Rp50 ribu per kilogram. Daging segar dijual di kisaran Rp120.000-123.000 per kilogram, daging beku Rp85.000 per kilogram, ayam segar Rp35.000-37 ribu per kilogram, ayam beku Rp27 ribu per kilogram.

Penjual Nasi Mengeluh

Kenaikan harga-harga kebutuhan pokok di Batam selain dikeluhkan ibu-ibu rumah tangga, juga dikeluhkan pemilik warung nasi. Seperti disampaikan Uni, pedagang nasi Padang di Sei Panas, samping Masjid Mutaalim.

Menurut Uni, harga-harga kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan membuat pendapatannya tidak stabil. Untuk mengantisipasi kerugian, dirinya terpaksa mengurangi ukuran lauk dan porsi nasi, namun dengan harga yang sama.

"Harga memang sedang gila sekarang. Semuanya naik, nggak beras, nggak bumbu dan rempah-rempah, sayur, apalagi lauk dan daging. Semuanya naik. Pendapatan tak menentu, terpaksa potongan lauk yang dikurangi," ujar Uni.

Fahmi, pedagang nasi lainnya di warung nasi Padang, dekat PT Panasonic Batam Centre mengatakan dirinya justeru telah menaikan harga per porsi nasi untuk mengatasi biaya operasional.

"Saya tidak mungkin mengurangi porsi, lebih baik menaikan harga. Toh pembeli juga paham, semua harga naik. Rata-rata porsi yang saya jual naik Rp1.000. Pembeli tetap puas dengan porsi seperti biasa," ujar Fahmi, kemarin.

Disebutkan Fahmi, bila kondisi harga yang cukup tinggi ini berlanjut, usahanya disebutkan akan sangat terganggu. Ia berharap pemerintah, baik di pusat maupun daerah segera tanggap dengan kondisi yang terjadi di pasar saat ini.

"Jangan sampai lamalah kondisi seperti ini. Pemerintah harusnya cepat menekan harga agar tidak semakin melambung," harap Fahmi.

Lisa, penjual nasi di Pasar Cik Puan, Sei Panas juga mengeluhkan kenaikan harga-harga komoditi di Batam sejak beberapa pekan terakhir. Lisa mengatakan, bila komoditas tetap tinggi, kemungkinan dirinya akan menutup warung nasi miliknya, dan berganti menjual buah.

"Dulu memang saya menjual buah, karena ada beberapa kendala, saya beralih menjual nasi. Kalau kondisi kebutuhan pokok seperti sekarang, biaya operasional bisa tak tertutupi, lebih baik saya jualan buah lagi," ujar Lisa.

Dikatakan Lisa, di warungnya per porsi nasi masih dapat Rp7.000, namun kemungkinan harga jual nasi di warungnya bisa naik bila harga-harga komoditas masih tinggi.

"Usaha warung saya inikan kecil, untungnya tak seberapa. Kecuali restoran besar. Mereka belanja dalam jumlah besar, harganya pasti bisa lebih murah. Beda dengan saya. Apalagi warung-warung seperti ini tidak banyak ambil untungnya, beda dengan restoran besar yang harganya bahkan dua kali lipat dari kami. Kalau harga melambung begini pastinya kami sulit beroperasi," pungkas Lisa. (Abdul Qodir)

Share