Selasa01222013

Last update12:00:00 AM

Back Batam DKP Kota Batam dan Mitra Diduga Kongkalikong

DKP Kota Batam dan Mitra Diduga Kongkalikong

Jadi Rekanan Meskipun Armada Tak Cukup

BATAM (HK) -Pengacara senior Bali Dalo SH menduga telah terjadi kongkalingkong antara Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Batam Sulaeman Nababan dengan tiga perusahaan yang menjadi mitra kerjanya.

Indikasi itu terlihat dari sikap Sulaeman Nababan yang tidak berani memberi sanksi, apalagi memutus kerjasama dengan tiga perusahaan pengangkut sampah, meskipun banyak komplain dari masyarakat terkait masalah sampah yang terus menumpuk.

" Aroma kongklikong sangat kental. DKP tidak berani menegur apalagi memutus kerjasama mitra kerja yang jelas-jelas sudah gagal melakukan pekerjaannya," ujar Bali Dalo yang ditemui di Batam Centre, Rabu (16/1).

Dikatakan dia, ketiga perusahaan itu tidak memiliki konsep bagaimana mengupayakan Batam bebas sampah. Jangankan konsep jumlah armada dan personil saja tidak mencukupi. Mestinya ini harus diantisipasi sebelum menjadi mitra DKP. Tiga perusahaan itu masing-masing PT Royal Gensa Asih, PT Bunga Permata dan PT Bemomi Anugerah Mulia.

" Yang membuat kita semakin yakin bahwa terjadi kongkalingkong, bagaimana mungkin ketiga perusahaan tersebut bisa menjadi mitra kerja, sementara mereka belum memenuhi jumlah kendaraan pengangkut sampah sesuai dengan yang disyaratkan,". katanya.

Mestinya, lanjut dia, jika persyaratannya kurang seperti jumlah armada belum mencukupi tidak bisa lolos menjadi mitra kerja. Tapi kenyataannya, ketiga perusahaan itu tetap dipakai, walaupun tak memenuhi syarat.

Kasi Pidsus Kejari Batam, Nunik Triyana mengatakan pihaknya mulai menyelidiki kasus dugaang korupsi di DKP Batam. Selain turun ke lapangan, kejaksaan sudah memeriksa sejumlah saksi.

" Kasus DKP kita dalami, selain kasus lainnya yang mencuat," ujar Nunik Triyana baru-baru ini.

Diare Meningkat

Sementara itu di Sagulung, penderita penyakit diare semakin meningkat di Sagulung. Dari data yang diperoleh dari Puskesmas Seilangkai, pasien diare setiap bulan di tahun 2012 mencapai sepuluh orang.

Menurut Kepala Puskesmas Seilakngkai, Adrial, faktor utama penyebab meningkatnya penderita diare ini adalah lingkungan yang kotor dan minimnya kesadaran warga akan kebersihan diri sendiri.

Sementara faktor minimnya kesadaran warga akan kebersihan diri, yakni lupa mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, membiarkan sampah berserakan, dan kurang menjaga kesterilan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

"Jumlah pasien penderita diare yang datang berobat ke Puskesmas Seilangkai rata-rata sepuluh orang tiap bulan, untuk tahun 2012. Jumlah ini sudah tinggi dan akan terus bertambah jika kebersihan diri dan lingkungan tidak dijaga," katanya.

Tumpukan sampah yang mencitrakan lingkungan kotor, kata Adrial, tidak secara langsung membuat warga terserang diare. Namun, melalui vektor atau alat penyebar virus seperti lalat yang menghinggapi makanan warga setelah hinggap di tumpukan sampah.

Kepala Puskesmas Seilangkai ini juga mengajak warga masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, seperti sampah-sampah yang menumpuk harsus dibersihkan secepatnya. Juga kebersihan diri ditingkatkan dengan program Pola Hidup Bersih (PHB).

"Kalau lingkungan kotor, penderita diare itu pasti ada dan bisa meningkat. Hal ini yang perlu kita hindari dengan menjaga kebersihan diri maupun lingkungan," ujarnya. (ays/btd)


Newer news items:
Older news items: