"Besaran kuota kebutuhan seiring peningkatan jumlah penduduk Batam, sekitar 10 persen," kata Kabid Peternakan Dinas Kelautan, Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam Ir Sri Yunelli ditemui di kantornya, Senin (21/1).
Dikatakan Neli, daging sapi domestik belum mampu mencukupi kebutuhan Batam, karena itu impor masih sangat dibutuhkan. Dari 23,96 ton kebutuhan daging per hari, hanya sekitar 1,76 ton yang mampu disuplai dari sapi lokal, sisanya sekitar 92,65 persen bergantung pada impor.
Disebutkan Nelli, Dinas KP2K Kota Batam minggu ini akan melakukan survei ke lapangan terkait kondisi hewan ternak di Batam. Hal ini merupakan kegiatan rutin di awal tahun untuk pembaharuan data.
Titik-titik yang akan disurvei berada di sejumlah wilayah di Batam, seperti di Temiang, Rempang dan Galang, serta daerah lainnya tempat ternak-ternak berada.
Selain hewan ternak, pihaknya juga akan memeriksa gudang importir maupun distributor untuk memastikan ketersediaan daging di Batam.
Terkait pengawasan, Nelli mengatakan, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dengan instansi terkait untuk mengawasi distributor nakal, sehingga momen kenaikan harga-harga bahan pokok saat ini tidak digunakan untuk menaikan harga daging lebih tinggi dari yang seharusnya.
"Tugas Dinas KP2K lebih fokus kepada penelitian dan pengawasan produksi ternak, pengembangan, pemeriksaan kesehatan, pengelolaan dan pemasaran ternak, khususnya dalam pengawasan lapangan," papar Nelli.
Disebutkan, terdapat sekitar delapan importir dan tujuh distributor berada di bawah pengawasan Dinas KP2K Kota Batam.
Impor Kedelai
Tak hanya daging, Batam juga masih membutuhkan kedelai asal impor. Memenuhi kebutuhan kedelai untuk pembuatan tahu dan tempe serta makanan lainnya, selama 2012 Kota Batam telah mengimpor kedelai sebanyak 7.715,88 ton, atau sekitar 90 persen dari total kebutuhan di Batam. Sementara, 10 persen lainnya merupakan produksi lokal maupun dari berbagai daerah di Indonesia.
Demikian disampaikan Kabid Pertanian Dinas Kelautan, Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam, Iik Betty S, kemarin.
"Kedelai impor lebih digunakan untuk pembuatan tahu dan tempe, sedangkan kedelai lokal terutama yang diproduksi di Batam tidak bisa untuk pembuatan tahu dan tempe, karena rata-rata dipanen sebelum waktunya, sehingga kualitas kurang bagus. Biasanya kedelai lokal digunakan untuk kebutuhan lain," ujar Iik.
Dikatakan Iik, kedelai lokal di samping dipanen sebelum waktunya, jumlah panennya juga terbatas, karena itu kedelai lokal belum bisa diperhitungkan untuk memenuhi kebutuhan kedelai di Batam. Di samping itu, biaya angkut dari daerah produksi telah menyebabkan harga kedelai lokal di Batam lebih tinggi dibandingkan kedelai impor.
Disebutkan Iik, kebutuhan kedelai impor di 2013 diperkirakan naik dibandingkan tahun 2012 lalu seiring meningkatnya jumlah penduduk Batam dan bertambahnya UKM (usaha kecil dan menengah) pembuatan tahu dan tempe serta usaha lainnya yang menggunakan bahan baku kedelai.
Ditanyakan kebutuhan kedelai per hari, Iik mengaku tidak memiliki data akurat, namun diperkirakan sekitar 20-25 ton per hari atau sekitar 7.300-7.973 ton per tahun.
"Kebutuhan masyarakat memang sangat banyak, berkisar antara 20-25 ton perhari, namun untuk data yang lebih akuratnya lagi coba tanya langsung ke BP Kawasan, karena pihak mereka lebih mengetahui. Untuk kebutuhan masyarakat, pasti kami akan butuhi, semaksimal mungkin," imbuh Iik.
Terpisah, Manager Koperasi Padjadjaran Batam, Bima mengatakan, kebutuhan kedelai untuk kelompoknya berkisar antara 17-20 ton per hari. Jumlah tersebut untuk 120 UKM pembuat tahu dan tempe yang tersebar di Kota Batam.
"Tahun 2000, UKM pembuat tahu dan tempe yang terdata pada kami sebanyak 104, sekarang jumlahnya sudah 120 UKM. Masing-masing UKM biasanya memesan kedelai mulai dari 50 kg, sehingga per hari kebutuhan kedelai sekitar 17-20 ton. Biasanya kami menyediakan kebutuhan kedelai untuk UKM kebutuhan produksi seminggu," papar Bima.
"Kami berharap pemerintah memenuhi kebutuhan akan kedelai, karena jumlahnya setiap tahun terus meningkat," pungkas Bima.
Data yang diperoleh koran ini dari Badan Pengusahaan Kawasan Batam (BP Batam), realisasi impor horticultura 2012 tertinggi yakni kedelai dengan jumlah 7.715.880 Kg, disusul bawang merah 7.294.704 Kg, apel 4.134.711 Kg, bawang putih 3.725.624 Kg, wortel 3.561.174 Kg, kentang 3.260.733 Kg, kacang tanah 2.599.968 Kg, kentang beku 1.927.861 Kg, jahe 1.600.745 Kg, jeruk mandarin 1.555.322 Kg, pir 1.453.648 Kg, bawang bombai 1.236.896, brokoli 935.070 Kg, cabai kering 886.181 Kg, kelengkeng 856.305 Kg, kubis 625.648 Kg, serta aneka sayuran lainnya. (abk)
- 5.000-an Buruh Akan Duduki PTUN
- Hati-hati Beli Properti Glory Point
- Pemko Batam Tolak Program Rumah Murah PNS
- Penumpang Lion Air Kecewa, Bagasi Tiba Tidak Bersamaan
- Inspektorat Kota Batam Belum Ditangani Kasus Abidun
- Curah Hujan di Kepri Masih Tinggi
- Jahe Impor Masih Mendominasi di Batam
- KSAL: Tak Ada Pencaplokan Pulau Semakau
- Sidang PTUN UMK Batam Digelar Hari Ini
- Calon Ketua BP Batam Harus Kenal Batam
- Belum Lapor ke Dishub, Green Taxi Beroperasi di Batam
- Bright PLN Batam Luncurkan Layanan Terbaru
- Wakil BP Batam Tidak Mesti dari Dalam
- Dugaan Penganiayaan Suruhan Camat Sagulung
- Diduga Sindikat Lama, Penjual dan Pembeli Sie Jie Dibekuk
- Upah Naik, Industri Tetap Tumbuh
- Harga Kepiting di Batam Rp170 Ribu/Kg
- Semakau Tak Masuk Peta Kepri
- BP3KBK Tunjuk Alfan Suheiri sebagai Ketua
- Hanafi Dirampok Lalu Dibunuh


