Zamri, salah seorng nelayan di Pulau Pecong mengungkapkan, sejak awal tahun 2012 lalu hingga tahun 2013 ini ia kesulitan mencari ikan di laut akibat laut tersebut tercemar limbah.
Kata dia, semua nelayan di sini, tidak tahu apa dari mana sumber limbah tersebut. Yang jelas, akibat limbah ini ia dan rekan-rekannya susah mencari ikan.
" Kami tak tahu apa penyebabnya, limbah ini tak tau dari mana penyebabnya, yang pastinya kami susah mencari ikan lagi di sini, "katanya.
Ia mengatakan, biasanya nelayan mampu menangkap ikan minimal 20 kilogram sehari. Tapi sejak adanya limbah ini, untuk mendapatkan 1 kilogram saja sulit.
" Kami tidak tahu mau mencari ikan di mana lagi, jangankan ikan bingkis, cari udang saja sulit kalau masih ada limbah seperti ini, "ucapnya.
Kata dia, para nelayan tidak hanya susah mencari ikan tetapi, banyak jaring dan bubuh yang rusak akibat limbah tersebut. Bahkan, lanjutnya, kelong nelayan pun cepat hancur karena limbah tersebut.
" Kalau limbah itu terkena kulit maka akan gatal dan dapat menyebabkan luka, "ucapnya.
Ketua RT 2 Sulaiman mengaku telah melaporkan hal ini kepada pihak kelurahan Pulau Pecong. Namun sampai saat ini, pihak kelurahan belum melakukan tindakan untuk menghilangkan limbah ini.
Ia berharap, pemerintah kota (Pemko) Batam agar dapat segera menyelesaikan permasalahan limbah ini.
"Kami sudah melaporkan kepihak kelurahan, tetapi sampai saat ini, pemerintah belum melakukan tindakan, "ucap Aidil yang diamini ketua RT 1 Sulaiman dan ketua RT 4 Almin.(cw53).
- Tak Bayar Upah Sesuai UMK Akan Diberi Sanksi
- Hati-hati Pilih Perguruan Tinggi
- Daerah Diminta Bina Satu Cabor Unggulan
- Walikota Batam Hadiri Maulid Nabi di Mesjid Agung
- Uniba Janji Bayar Biaya Transportasi
- Ahok Akan Kupas Ekonomi Kerakayatan
- Pemerintah Dinilai Tak Kompeten
- 25 Orang Terjaring Razia Pekat di Kota Batam



