BATAM (HK)- Besarnya potensi atau ketersedian gas bumi yang terdapat di Natuna, membuat Pemerintah Provinsi Kepri optimis kabuten ini akan menjadi lumbung energi nasional. Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Pertambangan Provinsi Kepri, ketersediaan gas di Natuna merupakan yang terbesar di Indonesia.
Kepala Bidang Minyak dan Gas Bumi Dinas Pertambangan dan Industri Provinsi Kepulauan Riau, Marzuki menyampaikan, dengan ketersedian pasokan gas yang ada, maka sangat memungkinkan Kepri menjadi lumbung energi nasional.
"Gubernur menginginkankan Kepri menjadi lumbung energi nasional. Karena ketersedian gas yang cukup tinggi berada di Natuna," terangnya pada acara diskusi publik Arah dan Kebijakan Pengembangan Industri Gas Indonesia, yang digelar oleh grup media Tempo, Senin (28/1), bertempat di Ball Room Hotel Novotel, Jodoh, Batam.
Menurutnya, keinginan tersebut sangat berdasar, yakni melihat potensi gas yang berada di Natuna saat ini mencapai angka 51,46 TCF (triliun kaki kubik). Angka tersebut merupakan yang terbesar di Indonesia dari seluruh daerah penghasil gas yang ada.
Dikatakan Marzuki, total cadangan gas alam Indonesia tercatat mencapai 157,14 TCF yang tersebar di blok Arun (NAD), Bontang (Kalimantan Timur). Di samping kedua wilayah tersebut, Indonesia juga memiliki potensi blok Tangguh (Papua), serta Natuna (Kepulauan Riau).Dari data yang mereka peroleh, Marzuki mengatakan, dua lapangan itu menyimpan cadangan gas bumi yang berlimpah. Cadangan gas alam yang terkandung di blok Natuna dua kali lebih besar dari cadangan gas blok Tangguh di Papua, atau hampir sepertiga dari total cadangan gas alam yang dimiliki Indonesia, angka tersebut sudah berbentuk energi gas yang potensial.
Adapun gas bumi yang dihasilkan tersebut, lanjutnya, bisa digunakan untuk pembangkit listrik, industri dan rumah tangga.
"Gas bumi dapat digunakan sebagai energi primer pembangkit listrik dan juga untuk bahan baku industri serta juga rumah tangga," sebut Marzuki.
Dia juga menjelaskan, untuk gas yang masuk ke Batam dipasok melalui pipa dari Grisik Sumatera Selatan. Sedang gas dari Natuna yang disalurkan ke Singapura, pipanya melewati wilayah Batam.
"Kalau gas dari Natuna, pipanya melewati wilayah Batam, cuma gasnya tidak masuk ke Batam. Ini yang lagi kita perjuangkan," ucapnya.
Pihaknya juga memiliki rencana, nantinya kalau tidak bisa dipasok dengan pipa akan di buat LNG Receiving terminal yang dapat diangkut dengan kapal tanker.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Energi Kota Batam Amsakar Achmad menyampaikan, saat ini, untuk jalur pipa gas dari Natuna menuju ke Singapura melalui Batam, belum memperoleh kompensasi yang layak untuk daerah ini.
"Inilah yang menjadi perjuangan gubernur, agar sebagai daerah cadangan gas terbesar di Indonesia yang terdapat di Natuna itu, Kepri seharusnya mendapatkan manfaat akan ketersediaan gas tersebut," ungkapnya.
Dia juga menjelaskan, ada tiga komponen yang terkait akan kebutuhan pasokan gas di Batam ini, yakni pembangkit listrik, industri dan rumah tangga.
Menurut Amsakar, untuk kebutuhan gas di Kepri sekitar 50 persen lebih, dibutuhkan di Batam. Dari jumlah keseluruhan kebutuhan gas di Batam dipergunakan untuk listrik, industri dan kebutuhan rumah tangga.
"Penggunaan paling besar akan gas pada pembangkit listrik, diikuti oleh industri dan selanjutnya kebutuhan rumah tangga," katanya. (san/jua)











