Senin02042013

Last update12:00:00 AM

Back Batam Dua Kubu Nelayan di Batam Nyaris Bentrok

Dua Kubu Nelayan di Batam Nyaris Bentrok

BATUAJI (HK) - Dua kubu nelayan masing-masing Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) dan Gerakan Pemuda dan Nelayan Pulau-pulau (GPNPI) Batam, nyaris bentrok. Diduga pemicunya soal kapal tangker Systemindo Perdana yang karam di perairan Pulau Mangkadang, Senin (28/1).

Kapolsek Batuaji, Kompol Tua Turnip mengatakan, bentrok dua kubu nelayan nyaris pecah. Tapi beruntung polisi langsung turun ke lapangan untuk mengamankan situasi. Bahkan, untuk mengamankan situasi itu dia dan beberapa anggota langsung mengantarkan dua kubu yang bertikai itu ke Polresta untuk diklarifikasi permasalahan ini.

Terpisah, Jhon Kennedy selaku Kabid Syahbandar Kantor Pelayaran (Kanpel) Kota Batam kepada wartawan mengatakan sebenarnya kapal itu mau repair di kawasan PT Venture, Sagulung.

Tapi, karena tidak ada pembayaran beberapa bulan ke PT Venturi itu. Kapal tersebut diusir dari tempat itu. Kemudian, untuk pertanggungjawapan terkait kapal tersebut adalah PT Andalan. Sebab, PT Andalan sebagai agen yang memberikan ijin berlayarnya.

Di tempat terpisah Ketua DPC HNSI Kota Batam, Awang Herman meminta kepada semua pihak baik dari kelompok HNSI maupun GPNPI agar dapat menahan diri dan jangan sampai bertindak anarkis.

"Mari bersama-sama kita jaga Kota Batam ini agar selalu kondusif. Jangan terpancing emosi yang nantinya dapat berdampak buruk terhadap iklim investasi. Segala sesuatu persoalan pasti dapat diselesaikan dengan kepala dingin, tidak dengan bertindak anarkis," pinta Awang, tadi malam melalui sambungan telpon.

Ditanya apa langkah HNSI Kota Batam menyikapi dibuangnya bendera HNSI dari atas kapal tengker Systemindo Perdana oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab, Awang menyerahkan persoalan tersebut ke aparat kepolisian untuk menyelelidikinya.

"Apapun bentuk masalahnya, persoalan ini tetap kita serahkan ke aparat kepolisian untuk mengusut siapa pelaku yang membuang bendera HNSI Batam dari atas kapal tersebut," ujar Awang.

Menurut dia, pengibaran bendera HNSI tersebut jauh sebelumnya sudah terpancang di atas kapal tengker itu. Dan kemudian, entah darimana asalnya, bendera GPNPI tiba-tiba dikibarkan di tempat yang sama dengan menghilangkan bendera HNSI.

"Inikan persoalan marwah orang Melayu di Kepri ini pada umumnya dan Batam khususnya. Pemancangan bendera HNSI di atas kapal tengker tersebut, jauh hari sudah kami kibarkan. Kita mengimbau agar pelaku yang bertindak semena-mena ini akan menyadari kesalahannya," kata Awang. (cw71/afr)

Share

Newer news items:
Older news items: