Kamis02072013

Last update12:00:00 AM

Back Batam 3 Rumah di Jembatan II Barelang Roboh

3 Rumah di Jembatan II Barelang Roboh

Diterjang Angin Puting Beliung

BATAM (HK) - Tiga rumah masing-masing miliknya Samsiar (58), Burhan (42) dan Heri (40) yang terletak di pinggir laut Jembatan II, Barelang, roboh dan tenggelam setelah dihantam angin puting beliung, Kamis (31/1) lalu sekitar pukul 15.30 WIB. Warga yang mendiami rumah tersebut sebanyak 12 orang selamat dan diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Samsiar (58), warga pulau Nipah RT01/RW04 Kelurahan Setokot, Kecamatan Bulang tidak menyangka rumahnya akan diterjang angin puting beliung hingga roboh dan tenggelam. Karena, secara tiba-tiba anginnya berputar di bawah jembatan tersebut.

" Saya sudah melihat angin berputar-putar di bawah itu. Makanya saya langsung suruh anak-anak keluar dari rumah itu," kata Samsiar.

Menurut dia, angin puting beliung terlihat berputar kurang lebih dua menit. Saat kejadian itu ia tidak tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya diam sejenak saat melihat rumah roboh dan tenggelam ke dasar laut.

" Barang yang bisa diselamatkan hanya baju dan benda-benda yang cepat dibawa pakai boat pancung," katanya.

Banyak peralatan yang tidak bisa diselamatkan seperti Laptop, sepeda motor dua unit dan surat-surat berharga.

Heri, warga lainnya tidak menduga rumahnya akan tenggelam secepat itu. Kejadian yang begitu cepat membuat dirinya tidak bisa menyelamatkan barang-barang miliknya. Kata dia, ketika kejadian itu, dia sedang bekerja, sedangkan istri dan anak pergi ke belakangpadang ada acara resepsi keluarga.

Terpisah, Ketua Perpat Pesisir, Awang mengatakan setelah mendapat laporan dari warga yang tinggal didekat jembatan itu bahwa ada musibah dalam keluarga. Kita langsung meninjau lokasi kejadian. Kemudian, melaporkan kepada lurah Setokok dan kecamatan Bulang. Tapi, hingga saat ini yang berupa bantuan dari Dinas Sosial Batam (Dinsos) sudah mulai datang dilokasi seperti tempat tidur dan makanan.

Cuaca Panas Selama Februari

Sementara, cuaca panas dan angin kencang akan dirasakan masyarakat Batam selama bulan Febuari. Siklus ini sudah terjadi sejak 30 tahun terakhir ini.

Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Batam Philip Mustamu menjelaskan, dari data pengamatan BMKG Batam selama kurun waktu 30 tahun pada bulan Februari merupakan yang paling minim akan curah hujan dari 12 bulan yang ada selama satu tahun.

"Dari 12 bulan Febuari ini panas, bukan berarti tidak ada hujan. Ada hujan tapi minim. Ini sudah siklus yang terjadi selama 30 tahun dari data pengamatan kita,"terangnya.

Dia menjelaskan, untuk di Batam tidak ada efek bendung awan dan angin seperti salah satunya gunung. Sehingga gumpalan awan yang telah terbentuk langsung terbawa oleh tiupan angin.

"Tidak ada efek bendung jadi awan yang telah terbentuk langsung terbawa oleh angin. Mengakibatkan potensi hujan menjadi minim,"terangnya.

Dan juga pada bulan Febuari tidak ada terjadi pembelokan angin yang biasanya membawa awan-awan. Serta adanya pola angin divergen diwilayah kepri kurang mendukung proses pertumbuhan awan.

Kondisi ini masih kondusif untuk sejumlah aktifitas transfortasi darat dan udara. Namun untuk aktifitas dilaut dihimbau untuk berhati-hati terhadap gelombang laut yang tinggi dan arus laut yang kuat diperairan Bintan, Anambas dan Natuna. (jua/cw71)

Share

Newer news items:
Older news items: