Kamis02072013

Last update12:00:00 AM

Back Batam Tim Labfor Selidiki Kematian Memeh

Tim Labfor Selidiki Kematian Memeh

Kumpulkan Bukti di Lokasi Kejadian

BATAM (HK)- Tim laboratorium forenshik (Labfor) Mabes Polri menyelidiki penyebab kematian Miswandi Mahyudin alias Memeh (46), warga Pulau Setokok yang diduga jatuh di sebuah diskotek yang berada di kawasan Jodoh hingga meninggal dunia, Kamis (31/1) lalu.

Tim Labfor terdiri dari dua orang tersebut dibantu penyidik Polresta Barelang, Minggu (3/2) telah mengumpulkan bukti-bukti
di lokasi kejadian.

Tampak hadir di lokasi, Kapolresta Barelang Kombes Karyoto, Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Ponco Indriyo, Kapolsek Batuampar, Kompol Zaenal Arifin dan Wakasat Reskrim Polresta Barelang, AKP Suharnoko. Namun sayangnya tak ada yang memberikan komentar terkait aktivitas Tim Labfor ini.

Meski demikian salah seorang sumber di kepolisian yang enggan menyebutkan namanya mengatakan keberadaan Tim Labfor itu untuk mengungkap sisi lain dari peristiwa kematian Memeh.

Salah satunya, adalah memastikan apakah ada darah yang tercecer, di mana awal mulanya darah itu tercecer, lalu ada benturan keras pada lantai atau tidak dan benda-benda yang ada di ruangan itu.

"Salah satunya memastikan ada tidaknya darah dan di mana awalnya darah tercecer," ujar anggota polisi ini sambil memberi isyarat untuk menanyakan langsung pada Kapolresta Barelang.

Informasi yang dihimpun di lapangan, dugaan jatuh korban di diskotek itu tidak bisa terekam CCTv. Sebab ruangan diskotek tersebut gelap sehingga tidak bisa terekam aktivitas di dalamnya.

Belum Ada Tersangka

Aparat kepolisian telah memeriksa sembilan orang saksi terkait kasus tersebut. Namun belum ada satupun jadi tersangka.

"Dari penyelidikan sementara kita, korban meninggal setelah terjatuh dan tak sadarkan diri," ungkap Kapolda Kepri, Brigjen Yotje Mende, Sabtu (2/2).

Namun demikian, pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan terhadap kematian Memeh, salah satunya menunggu hasil Labfor.

Pinjam Uang

Istri korban, Aidah (41) mengaku sebelum kejadian, suaminya pamit ke kantor bosnya, AW yang berada di Batam Centre untuk meminjam uang sebesar Rp300 ribu. Uang itu untuk keperluan biaya keponakannya yang akan pulang ke Medan.

Awalnya Memeh mengajak abang iparnya Dani, untuk sama-sama pergi menemui AW di kantornya di Batam Centre. Namun, abang iparnya menolak karena kurang sehat.

Suaminya kata Aidah keluar dari rumah sekitar pukul 20.00 WIB dengan menggunakan sepeda motor Yamaha Vega ZR warna putih BP 4781 FG.

"Abang (Memeh) kalau ke kantor biasa perginya malam-malam. Abang memang dipercayai pak Aw terkait pekerjaan itu,"kata Aidah.

Namun tiba-tiba Aidah mendapat kabar dari Ketua RT 03, Zamri bahwa suaminya ada di Rumah Sakit Elizabeth. Tiba di rumah sakit justru suaminya sudah meninggal.

"Saya tidak bisa bicara banyak setelah melihat jasad suami saya sudah kaku, dengan kondisi luka parah di bagian kepala dan kaki sebelah kanan patah. Anak saya Mimi (9) langsung menangis histeris,"ujar Aidah.

Dia mengaku tidak tahu pasti kejadiannya. Karena awalnya dikatakan suaminya itu kecelakaan lalulintas, namun setelah dia melihat sepeda motor milik suaminya ternyata tidak ada apa-apa. Lalu kasus itu kemudian dilaporkan ke polisi atas dugaan penganiayaan.

"Setelah divisum di RSOB Batam, jasad suami saya langsung dimakamkan oleh keluarga besarnya di Pulau Durai, Kabupaten Karimun, Jumat (1/2) sore. Padahal keluarga di sini (Batam) pun berharap bahwa jasad suaminya dikebumikan di Pulau setokok," ujarnya.

Masih kata Aidah, putrinya semata wayangnya Mimi berujar kalau pelaku pembunuhan tertangkap, ia meminta ibunya memukul kepala pelaku seperti ayahnya.

"Ma..ma, kalau sudah tertangkap yang memukul bapak itu, mama saja yang pukul lagi ya. Karena badan Mimi masih kecil. Pukul saja seperti memukul kepala bapak sampai keluar darah," kata Aidah menirukan ucapan anaknya.(ays/cw71)

Share

Newer news items:
Older news items: