Kabag Humas Bandara Hang Nadim, Dendi Gustinandar menjelaskan, setidaknya ada 39 peserta (bandara) yang dinilai. Untuk Bandara Hang Nadim menempati urutan pertama kategori Potensial Airport, kemudian disusul Bandara Braun, Kalimantan Timur dan urutan ketiga, Bandara Tanjung Pandan Bangka Belitung.
" Penghargaannya diserahkan di Jakarta, 1 Februari lalu. Ada tiga kategori pemenang, pertama itu kategori potensial airport, progresif dan best of the best airport. Nah, kita (Hang Nadim) memperoleh kategori potensial," kata Dendi, kemarin.
Terkait dengan materi penilaian, Dendi menuturkan, setidaknya ada 40 item yang disurvei para dewan juri guna menentukan pemenang. Mekanismenya, dari hasil survei, diserahkan ke dewan juri. Khusus untuk Batam, kata Dendi survey dilakukan setelah bandara di Tanjungpinang.
Adapun ke-40 kriteria penilaian itu, diantaranya dilihat dari akses transportasi, seperti taksi dan angkutan lainya, sistem informasi, lingkungan atau kawasan bandara, fasilitas toilet, kenyamanan dan tentunya kerapian.
" Bisa dikatakan, semua masuk dalam kategori penilian. Sebab, surveyor akan melihat dan memberikan penilaian, mulai dari kedatangan hingga proses masuk ruang tunggu, belum lagi antrian penumpang seperti apa,"kata Dendi didampingi Kapala Bidang Keuangan dan Umum Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Suwarso.
Sementara untuk Bandara, seperti Soekarno-Hatta, menerima kategori dibidang lainnya. Untuk kategori 'best of the best' diraih oleh Bandara Juanda, disusul Hasanuddin, Pekanbaru, Palembang.
Dengan penghargaan tersebut, Dendi menuturkan, akan terus berupaya meningkatkan pelayanan serta menyediakan fasilitas yang nyaman bagi setiap penumpang. Sebab, ini suatu penghargaan yang harus tetap dipertahankan, bahkan akan lebih terus ditingkatkan.
Batavia Nunggak Rp325 juta
Ditempat yang sama, Suwarso menuturkan, maskapai Batavia Air sampai saat ini masih menunggak kepada Bandara Hang Nadim sebesar Rp325 juta. Tunggakan tersebut, terhitung tahun 2012 hingga dinyatakan pailit pekan lalu.
"Tunggakan di 2012 sebesar Rp225 juta dan di 2013 mencapai Rp100 juta. Ini berasal dari tagihan jasa pendaftaran, penempatan dan penyimpanan pesawat udara (PJP4U) dan pelayanan jasa penumpang pesawat udara yang belum dibayar," kata Suwarso.
Hal ini tidak masuk dalam perkiraan potensial loss airport tax dalam satu hari. Dengan tidak beroperasinya Batavia, potensial lossnya sekitar Rp14,5 juta. Sebagai langkah awal, pihak bandara kata Suwarso, sudah pernah meminta pelunasan tunggakan tersebut secara tertulis ke manajemen Batavia. Harapannya, tentu dapat segera dilunasi, begitu juga kepada calon penumpang. Meski sampai saat ini belum ada tanda-tanda untuk membayarkan ke setiap penumpang.
" Kita tidak bisa mengambil asetnya yang ada di Batam. Sebab, selama ini Batavia, hanya menyewa gerai di Hang Nadim. Dan yang ada hanya dua unit laptop dan satu printer," kata Suwarso.
Namun mengenai tunggakan di Bandara Hang Nadim, Suwarso menjelaskan, bahwa dari informasi yang diterima, nanti pihak kurator yang ditunjuk akan menyelesaikan segala utang Batavia. (mnb)
- Granat Nilai Penegakan Hukum Kasus Narkoba Lemah
- PLTU Tanjung Kasam Tanggung, Batam Biaya Berobat
- Pembinaan Koperasi Tidak Maksimal
- Pemko Batam Akan Data 20.000 PKL
- WNA Malaysia Bawa Sabu Seberat 3 Kilogram
- Polda Kepri Gelar Maulid Nabi
- Polda Kepri Buka Layanan Call Center 110
- Impor Hortikultura Akhirnya Dilimpahkan ke BP Batam
- Hari Ini Ribuan Buruh Batam Turun ke Jalan
- Perizinan Impor Hortikultura di BP Batam
- Hotel dan Restauran di Batam Harus Ada Sertifikat Halal
- Pendapatan BP Batam dari Pelabuhan Domestik Rp8,69 M
- Transaksi di ATM BCA Mengecewakan
- Tim Labfor Selidiki Kematian Memeh
- PT Glory Point Masih Membandel
- 1,21 Juta Wisman Masuk Batam Selama 2012
- Tongkang dan Ferry Bersenggolan
- Batam Layak Dimekarkan Jadi 22 Kecamatan
- Ikan Dingkis di Batam Rp40-60 Ribu per Kg
- Dinkes Batam Bagikan Vaksin Kaki Gajah



