BATAM (HK)- Virus flu burung (avian influenza) kembali menyerang Kota Batam, Kepri. Sebanyak 2.270 ayam milik tiga Kelompok Usaha Bersama (KUB) di Kelurahan Air Raja, Kecamatan Nongsa dan Tanjungriau mati mendadak dalam sebulan terakhir. Kematian unggas di dua tempat tersebut akibat flu burung.
Data Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam menyebutkan, dari 2.270 ayam mati itu, sekitar 200-an ekor milik 20 warga Kavling Pertanian Seitemiang, Kelurahan Tanjung Riau. Sisanya adalah unggas milik tiga KUB yang merupakan bantuan dari Kementerian Sosial. Ketiga KUB itu yakni Bunga Durian, Sariwati dan Mekar Sari.
Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam Drh Suhartini MM mengaku kasus kematian ayam ini sejak Januari lalu. Namun, para peternak baru melapor dua minggu belakangan ini.
Setelah mendapat laporan kata Suhartini, pihaknya menurunkan Tim PDSR (Participatory Disease Surveilance and Respond) untukmelakukan pamantauan dan pemeriksaan ke lokasi pada Rabu-Minggu (9-13/2) lalu. Dari hasil pemeriksaan dengan uji cepat diketahui unggas mati mendadak itu karena positif terkena flu burung. Untuk itu Suhartini mengimbau agar peternak tidak boleh menjual unggas yang sakit kepada konsumen atau membawa keluar dari lokasi. Hal ini agar tidak menyebar.
Disebutkannya, ayam-ayam yang terkena firus itu akan dimusnahkan paling lambat minggu depan. Ini sesuai dengan aturan Dirjend Peternakan RI 2009. Dalam aturan itu disebutkan unggas yang positif Avian Influenza di suatu wilayah harus dilakukan depopulasi selektif atau pemusnahan. Begitu juga unggas yang berada diradius satu kilometer dari lokasi pun dimusnahkan.
"Perlu diketahui kematian unggas di atas 1.000 ekor, sudah merupakan wabah.Jadi mau tak mau harus dimusnahkan,"jelasnnya.
Ia kembali berharap kepada peternak agar mematuhi langkah-langkah pencegahan, jangan sampai menular ke manusia. Makanya, dengan kondisi ini, masyarakat diminta memelihara sanitasi lingkungan dan kandang.
"Kejadian ini baru terjadi lagi. Sebelumnya kejadian yang sama pada 2010 lalu," katanya.
Disinggugn unggas yang didatangkan dari luar, ia meminta pihak Karantina melakukan pengawasan. Sebab, saat ini penanganan flu burung, sudah diserahkan ke daerah sejak 2011 lalu, bukan pemerintah pusat lagi.
"Tapi jangan panik, karena kita pernah melakukan kebersihan atau hal yang serupa. Makanya, peternak jangan sampai menjual ayam sakit ke orang lain atau ke pasar karena itu akan memperluas penyebarannya. Sementara untuk gejala pada manusia, penangananya diserahkan ke Dinas Kesehatan," tutur Suhartini. (mnb)
- Warga Arta Graha Lestari, Batam Keluhkan Banjir
- TNI AD Terus Bersinergi Membangun Batam
- HP Masuk Batam Capai 70 Ribu per Bulan
- Istri KASAD Kagumi Kerajinan Batam
- Apindo Batam Tolak Eksepsi Pemerintah
- Polda Kepri Butuh Tambahan 6100 Personil
- Kasus Dugaan Korupsi di Disospem Kota Batam
- Usaha Nelayan di Batam Dapat Bantuan Rp100 Juta
- Kapolsek Akui Illegal Logging Marak di Batuaji, Batam
- Maling Bawa Kabur Rp174 Juta, Gondol Kios Mediasel di Tiban, Batam
- Registrasi Plat X ke Z di Batam Baru 67 Persen
- DPRD Batam Akan Hearing Empat Sekolah
- Segera Dibangun Masjid di Hang Nadim, Batam
- Peralihan Aset TPA di Batam Makan Waktu Lama
- BK DPRD Kota Batam Pelajari Kasus Bagi-bagi Fee Alkes
- BPOM Kepri Amankan Minuman Kaleng tak Berizin
- Dugaan Korupsi di Disospem Batam, Distributor Sembako Bertanggungjawab
- Polda Kepri Kembalikan Berkas PT Gandasari ke Kejati
- Kasus Kapal 'Kencing' BBM
- Maulid Nabi Momentum Bagi Mahasiswa Berbenah
