Berdasarkan laporan terakhir, kata dia, di Air Raja yang masuk wilayah Kecamatan Bulang telah ditemukan lebih dari 2.000 ayam kampung mati mendadak dalam beberapa hari terakhir. Sementara di Sei Temiang ditemukan lebih dari 200 ayam mati.
"Pemusnahan dengan cara dibakar dan ditimbun untuk melokalisasi penyebaran. Semua ayam radius satu kilometer dari tempat ditemukannya kasus flu burung harus dimusnahkan," kata dia.
Pemerintah Kota Batam, kata dia, mengharapkan kesadaran masyarakat agar merelakan ayamnya dimusnahkan meskipun tidak ada ganti rugi. "Pemerintah tidak punya anggaran, sehingga kami tidak bisa memberikan ganti rugi. Namun kami meminta masyarakat untuk rela ayamnya dimusnahkan agar flu burung tidak menjangkiti manusia," kata Suhartini.
Suhartini mengatakan, pada 2013 ini pertama kali kasus flu burung ditemukan di Batam setelah terakhir kali terjadi pada 2010. "Untuk masyarakat wilayah lain kami imbau agar menjaga kebersihan kandang ayam mereka agar tidak terjangkit. Bila ada ditemukan ayam mati mendadak segera laporkan," kata dia.
Sementara itu, Kabid Peternakan Dinas KP2K Kota Batam Sri Yunelli menyatakan pihaknya belum bisa memastikan kapan akan dilakukan pemusnahan unggas yang terjangkit flu burung di Kelurahan Air Raja, Kecamatan Bulang. Pasalnya, masih akan dilakukan peningkatan rincian penelitian. "Kalau sudah terinfeksi penyakit, (unggas) harus dimusnahkan, tapi kita akan meningkatkan rincian penelitiannya. Jadi kita belum bisa pastikan kapan pemusnahannya," kata Sri Yunelli.
Yunelli menjelaskan, saat ini wilayah di Batam yang terjangkit flu burung di Kelurahan Air Raja dan di Sei Temiang, Tanjung Riau. Ribuan ekor unggas berupa ayam tersebut kini telah dikubur oleh warga. "Yang sakit di Air Raja kemungkinan akan dimusnahkan semuanya. Kalau yang di Sei Temiang, Tanjung Riau saat ini di spot saja, pemusnahan tidak sampai radius 1 kilometer karena yang mati hanya 200 ekor," ujarnya.
Ketika ditanya tentang terjadinya kematian ayam di Seibeduk dengan jumlah yang cukup banyak, Yunelli mengatakan pihaknya akan melakukan pengecekan. "Temuan ayam mati di Seibeduk akan kita cek dan lakukan penelitian," kata Yunelli.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam Udin P Sihaloho meminta Pemerintah Kota Batam segera bertindak meminimalkan penyebaran flu burung. Ia meminta dinas KP2K bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan sosialisasi dan pemusnahan ayam-ayam tersebut. "Harus ada koordinasi, jangan sampai dua dinas tersebut saling lempar tanggungjawab. Meski belum menjangkiti manusia namun Dinas Kesehatan Kota Batam juga harus melakukan sosialisasi agar masyarakat mengerti bahaya flu burung," kata dia.
Warga Sei Temiang, Rusmala, mengatakan hampir semua ayam di sekitar tempat tinggalnya mati secara mendadak sejak beberapa pekan terakhir. (ant/btd)Share
Newer news items:
- Menyetir Sambil Menelepon, Denda Rp750 Ribu
- 4 Bulan Gaji Tak Dibayar, Buruh PT Agam Patra Batam Mogok
- Masjid Jabal Arafah Jadi Ikon Wisata Religi di Batam
- Wawako Batam Apresiasi Kegiatan Jebat
- Warga Tanam Pohon di Lahan Proyek
- Warga Batam Masih Ragu Minum Obat Kaki Gajah
- Polisi Batam Segel Gelper
- Pembobol Kamar Kos Beraksi di Siang Bolong
- Pasokan Barang Pengaruhi Inflasi Batam
- BP Batam Ancam Cabut Izin Lahan
Older news items:
- TPA Punggur Batam Bakal Penuh
- Komisi IV DPRD Batam Sidak Alkes RSUD
- Kompolnas Sesalkan Sikap Kapolresta Barelang
- Titus Akan Dipanggil Paksa Bapedalda Batam
- Dapur Arang di Batam Tidak Ada Izin
- Pelaku Pariwisata Gelar 'Demonstrasi' di Batam
- Antrean Solar di Batam Masih Terjadi
- Sistem Pembayaran di Indonesia Belum Terlindungi
- Ultah Pasar Pagi Melcem, Jebat Batam Bagikan 2.000 Sembako
- Senam Sehat Haluan dan BRIS
