Keempat bocah warga Kampung Durian RT/RW 01/06, Kelurahan Sadai, Bengkong tersebut adalah Elsan (6), perempuan dan Ferson (4) laki-laki yang merupakan kakak beradik, anak pasangan Anton dan Yul. Selanjutnya, Wihelmus Rudi (3), laki-laki, anak dari Andreas dan Sutami serta Aprilius Ama Mado (5), laki-laki, anak dari Yosep Boli dan Yasinta Kewa. Mereka ditemukan menumpuk di jok belakang mobil yang sudah lama teronggok di pasar tersebut.
Hingga saat ini penyebab kematian keempat bocah tersebut belum diketahui. Polisi masih melakukan penyelidikan terhadap kasus tersebut. Namun diduga bocah ini meninggal karena kehabisan oksigen.
Informasi di lapangan, keempat bocah itu ditemukan pertama kali oleh pekerja bengkel, tempat mobil itu berada. Pekerja itu curiga karena ada aroma busuk dari salah satu mobil rusak yang ada di depan bengkelnya.
Setelah dicek, ternyata keempat bocah tersebut terlihat menumpuk di jok belakang mobil itu. Kasus penemuan mayat ini lalu dilaporkan ke polisi.
Selang beberapa menit kemudian polisi tiba di lokasi sekitar pukul 19.00 WIB. Usai melakukan identifikasi dan pengambilan sidik jari, polisi lalu membuka dua pintu mobil bagian belakang. Namun polisi terlihat kesulitan. Sebab dua pintu mobil itu dalam keadaan terkunci dan kondisi kaca mobil juga tertutup rapat. Polisi lalu berusaha membuka dua pintu bagian depan mobil dan hanya satu pintu bagian kanan yang bisa dibuka dan satu lainnya tidak bisa dibuka.
Meski pintu sudah dibuka, namun proses evakuasi hingga pukul 19.30 WIB belum bisa dilakukan, karena warga sekitar tidak mau menjauh dari TKP. Ambulans untuk mengangkut jenazah keempat bocah ini pun sulit mendekati lokasi. Keempat bocah ini bisa dievakuasi ke mobil jenazah sekitar pukul 19.45 WIB setelah warga diminta menjauh dari lokasi tersebut. Seluruh korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Otorita Batam untuk dilakukan outopsi.
Mateus Mada, paman korban dari pihak Mado (5) mengaku setelah melihat mayat keponakannya, ia merasa ada yang janggal. Sebab saat mayat keponakannya dikeluarkan polisi dari mobil, ada mengeluarkan darah. Selain itu juga, ada kulitnya melepuh seperti disiram air panas.
" Ada yang janggal mas, saya melihat mayat Moda ada keluar darah dan bekas luka. Ada juga kulitnya melepuh seperti disiram air panas," katanya.
Meski demikian ia menyerahkan kasus ini sepenuhnya ke polisi.
"Mohon pak polisi agar dapat mengusut tuntas kasus ini,"pintanya.
Direskrim Umum Polda Kepri Kombes Fadil mengaku tim Polda dan Polresta Barelang sedang melakukan penyelidikan terhadap keempat mayat tersebut.
Dalam kasus ini kata Fadil, polisi tidak mau menduga-duga penyebab kematian keempat mayat tersebut.
"Kami akan menyelidiki kematian mereka. Saat ini, kami tidak mau menduga-duga kematiannya, apakah ada unsur pidana atau tidak,"ungkapnya.
Dikatakannya kondisi keempat mayat saat dikeluarkan dari dalam mobil rata-rata kulitnya melepuh dan hanya satu orang yang tidak mengenakan baju.
"Kami akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu dan hasil visumnya akan kami beritahukan," ungkapnya.
Keempat bocah ini sebelumnya dilaporkan hilang ketika bermain di seputaran Pasar Cik Puan, Seipanas, Rabu (27/2) sekitar pukul 10.00 WIB. Namun hingga Kamis (28/2) siang, keempatnya belum kembali ke rumah masing-masing.
Tak pelak lagi, sejumlah rumor pun muncul di masyarakat. Ada warga yang menduga kalau keempatnya pergi main jauh tapi tak tahu jalan pulang. Bahkan ada yang menyatakan kalau keempatnya telah menjadi korban penculikan.
Salah seorang pedagang di Pasar Cik Puang, Emi (30) mengakui melihat keempat bocah itu dibawa oleh seorang perempuan dengan menggunakan sepeda motor Yamaha Mio warna biru. Namun dirinya tidak pernah menduga kalau ibu itu bukan orang tua keempat anak tersebut.
"Sempat melihat keempatnya dibawa perempuan tersebut. Caranya, dua anak dibonceng dan dua lagi disuruh berjalan kaki mengikuti ibu tersebut. Tapi saya pikir itu orang tua mereka," tutur Emi saat ditemui di tokonya, Kamis (28/2)
Karena tidak curiga ada penculikan, Emi juga tidak mempermasalahkan hal itu.
Saksi lain, Sandra, penjaga toko di Cik Puan mengatakan sebelumnya ia sempat melihat keempat bocah itu sedang bermain sambil mencari botol dan gelas agua. Namun ia tak melihat kalau keempatnya dibawa oleh seseorang.
Maria Yuliana (22), orang tua korban Elsa dan Ferson mengatakan, tidak biasanya kedua anaknya tak pulang hingga jam makan siang. Karena biasanya hanya main di sekitaran rumah mereka.
"Biasanya mereka pulang makan siang," ujar ibu muda ini.
Mengetahui anaknya tak pulang, ia kemudian menghubungi suami dan saudara-saudaranya untuk membantu pencarian anaknya. Namun hingga malam keberadaan kedua anaknya bersama dua anak tetangganya belum juga ditemukan.
Curiga anaknya telah menjadi korban penculikan, keempat orang tua korban melapor kasus itu ke Polsekta Bengkong, Rabu (27/2) sekitar pukul 21.00 WIB. (byu/ays)
- Empat Bocah di Batam Dibunuh?
- Karyawan PT BH Marine Batam Mogok Kerja
- Walikota Batam Resmikan 198 Proyek Fisik
- Isak Tangis Sambut Kedatangan Korban
- TKI Dideportasi dengan Tubuh Penuh Luka Dipulangkan
- BP Batam Tolak 209 Permohonan Izin Reklame
- Rina Dipanggil Setelah Semua Saksi Diperiksa
- Terancam Hilang, Karang Helend dan Benteng Akan Direklamasi
- Pertumbuhan Usaha Kuliner di Batam Diprediksi Naik 80%
- Lima Hotel Berbintang di Batam Dibangun di 2013
- BP Batam Perketat Izin Titik Reklame
- Dua Kapal Roro di Pelabuhan Punggur, Batam Naik Dock
- Setiap Tahun, Ratusan Pelajar Singapura Kunjungi Batam
- Motif Penembakan di Jodoh Square, Batam Belum Diketahui
- Dugaan Korupsi Bansos di Disospem Batam
- Wako dan Ketua BP Batam Bertemu
- Kejurnas Piala KASAD XI Dimulai
- Kadinkes Batam Saksi Ahli Kasus Gula Oplosan
- Pijat Plus-plus Menjamur di Batam
- Mayat Mr X Ditemukan di Pulau Momoi, Batam
