Saat mengunjungi rumahnya di Kampung Durian RT/RW 01/06, Kelurahan Sadai, Bengkong, Andreas yang bekerja sebagai sekuriti di Perguruan Tinggi Alfayerd, Bengkong terus menangis dan menyesali kejadian yang menimpa keluarganya.
Meski menangis, Andreas yang tetap memegang foto anaknya masih bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya. Bahkan, kalau tak sanggup menjawab pertanyaan, pria asal Flores, NTT ini hanya bisa meneteskan air mata.
"Wihelmus, anak laki satu-satunya," kata Andreas seraya merangkul istrinya.
Dengan terbata-bata, Andreas mengaku sampai saat ini ia masih tak percaya dengan kejadian yang menimpa keluarganya. Pasalnya anak itu tidak biasa bermain dari rumah.
"Anak saya tidak biasa main jauh-jauh. Bebebrapa jam bermain anak saya selalu balik ke rumah untuk mimik botol. Makanya saya tidak ragu jika Wihelmus main ke luar rumah, karena dia pasti akan pulang," katanya.
Andreas mengatakan kalau anaknya itu adalah korban penculikan, maka orang yang menculiknya salah besar. Sebab, jangankan uang untuk menebus, tempat tinggal saja Andreas mengaku tidak punya.
"Ini coba lihat rumah saya, hanya gubuk. Rumah ini malah dihuni tiga kepala keluarga. Kami tak punya uang. Makanya anak saya kalau diculik itu salah besar," ungkapnya.
Sementara Sutami (29), istrinya sejak kemarin belum makan dan tidur, karena terus mencemaskan anaknya.
"Sedang apa anak saya ya. Udah makan apa belum?," tanya Sutami kepada warga sekitar, yang mencoba menenangkannya. Meski terlihat tenang, kegundahan Sutami tidak bisa ditutupi. Tatapannya yang kosong, membuat iba sejumlah tetangga sekitar.
Wihelmus, dilaporkan hilang bersama tiga rekannya saat bermaindi seputaran Pasar Cik Puan, Seipanas, Rabu (27/2) sekitar pukul 10.00 WIB. Namun hingga Kamis (28/2) siang, keempatnya belum kembali ke rumah masing-masing.
Mengetahui Wihelmus tak pulang, ia kemudian menghubungi suami dan saudara-saudaranya untuk membantu melakukan pencarian anaknya. Namun hingga malam keberadaan anaknya bersama tiga anak tetangganya belum juga ditemukan. Mereka adalah Elsan (6) dan Ferson (4) kakak beradik serta Aprilius Ama Mado (5). Namun Kamis (28/2) sekitar pukul 19.00 WIB, keempat bocah itu ditemukan tewas menumpuk di jok belakang mobil yang sudah lama teronggok di pasar tersebut.
Salah seorang pedagang di Pasar Cik Puang, Emi (30) mengakui melihat keempat bocah itu dibawa oleh seorang perempuan dengan menggunakan sepeda motor Yamaha Mio warna biru. Namun dirinya tidak pernah menduga kalau ibu itu bukan orang tua keempat anak tersebut.
"Sempat melihat keempatnya dibawa perempuan tersebut. Dua anak dibonceng dan dua lagi disuruh berjalan kaki mengikuti ibu tersebut. Tapi saya pikir itu orang tua mereka," tutur Emi saat ditemui di tokonya, kemarin. (ays/byu)
- Rina Dipanggil Setelah Semua Saksi Diperiksa
- Terancam Hilang, Karang Helend dan Benteng Akan Direklamasi
- Pertumbuhan Usaha Kuliner di Batam Diprediksi Naik 80%
- Lima Hotel Berbintang di Batam Dibangun di 2013
- BP Batam Perketat Izin Titik Reklame
- Dua Kapal Roro di Pelabuhan Punggur, Batam Naik Dock
- Setiap Tahun, Ratusan Pelajar Singapura Kunjungi Batam
- Motif Penembakan di Jodoh Square, Batam Belum Diketahui



