Rabu03062013

Last update12:00:00 AM

Back Batam Pengusaha Batam Inisial I Kabur

Pengusaha Batam Inisial I Kabur

Diduga Otak Pembunuhan Bidan di Medan

BATAM (HK)- Pengusaha Batam inisial I yang diduga otak pelaku pembunuhan terhadap bidan, Nurmala Dewi Tinambunan (30) di Medan, Kamis (7/2) lalu diduga kabur ke luar negeri. Janda kaya beranak dua ini, tidak lagi ditemukan di kediamannya di Sekupang.

"Saya tak melihat beliau (I) sejak beberapa hari ini," ujar tetangga I di Sekupang, Kamis (28/2).

Untuk mengetahui keberadaanya, Haluan Kepri menghubungi ke bebeberapa nomor ponsel yang bersangkutan, tapi tak satupun yang aktif.

I, adalah pengusaha yang memiliki rumah di mana-mana di antaranya di Sukajadi, Dutamas, Anggrek Mas, Kampung Agas hingga perumahan lainnya. Tapi dia (I) sering tinggal di Kampung Agas, Sekupang. Karena dekat dengan lokasi usahanya di pelabuhan.

Menurut sumber terpercaya, sebelum berangkat, I telah berpesan kepada semua anggotanya kalau dia ada perlu ke luar kota. Namun hingga sekarang, I tak pernah kembali lagi.

"Dia sudah keluar Batam. Asisten pribadinya saja mengaku tidak tahu tentang kepergianya," kata sumber yang enggan menyebutkan namanya.

Nurmala Dewi boru Tinambunan (30) tewas bersimbah darah setelah dadanya tertembus timah panas yang ditembakkan seorang pria tak dikenal yang mengendarai kereta Yamaha Mio putih saat hendak masuk ke rumahnya di Jalan Pertahanan Gang Indah Dusun 6 Patumbak Kampung, Kamis (7/2) sekitar pukul 14.00 WIB.

Bidan Puskesmas Teladan Jalan SM Raja Medan ini tewas tepat di samping ibunya, Haryani Br Sihotang (55). Diduga, Nurmala dibunuh karena terlibat segitiga. Sebelum tewas, Nurmala sempat dilarikan ke RSU Estomihi Medan untuk mendapatkan perawatan medis. Selang satu jam kemudian, Nurmala menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit tersebut.

Sembilan hari kemudian, polisi berhasil menangkap tiga pelaku di Sumatera Barata, Selasa (26/2). Ketiga pelaku itu, satu orang sipil dan dua lainnya merupakan polisi, Brigadir GB dan Bripda A.

Dalam skenarionya, GB berperan sebagai pencari eksekutor. Gp dan A bersama-sama ke Medan. Namun untuk eksekusi hanya dilakukan Gp. Sedangkan senjata api yang digunakan diperoleh dari pria berinisial S yang dikabarkan masih buron. Dari hasl pemeriksaan, ketiga pelaku mengaku mereka melakukan pembunuhan atas suruhan pengusaha Batam, I. Pengusaha itu tidak mau pacarnya itu menikah dengan bidan tersebut.

Ibu korban, Haryani menduga kalau peristiwa yang menimpa anaknya ini karena masalah cinta segi tiga. Sebab, Nurmala pernah menjalin hubungan asmara dengan Berton Silaban, penduduk asal Batam.

"Anakku pernah dijodohi dengan Berton Silaban, tapi ternyata Berton sudah punya pacar, Br Pasaribu dan bekerja satu kantor dengannya di Batam. Mungkin I, pemilik perusahaan ekspor-impor tempat Berton bekerja," jelas Haryani.

Sejak menjalin hubungan dengan Berton, korban dan keluarganya kerap mendapat ancaman. Haryani menduga, kalau pelakunya adalah pembunuh bayaran yang dipekerjakan I. Nurmala juga sempat diungsikan ke Nias.

Disitu, Nurmala juga diteror dan ditikam dua liang lalu dibuang ke parit. "I sempat menawarkan uang Rp100 juta kepada kami agar Nurmala gak nikah dengan Berton. Kami yakin, kalau otak pelaku penembakan ini adalah I," imbuhnya.

Dia mengatakan sejak di Nias, anakanya sudah diteror sebanyak 2 kali, sedangkan di Medan empat kali. Bahkan, enam bulan yang lalu rumah korban pernah dibakar oleh orang tak dikenal dan tiga minggu yang lalu korban juga pernah kena tikam bagian tangannya.

"Terornya langsung mau membunuh gitu. Sampai tangan orang tuanya pun pernah kena tikam dua minggu yang lalu, hingga mendapat 50 jahitan karena mau menolong anaknya ini. Si Dewi ini anaknya baik, enggak pernah cari musuh,"katanya.

Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Ponco Priyo mengatakan hingga kini ia mengaku belum ada koordinasi antara Polda Medan dengan Polresta Barelang terkait kasus pembunuhan yang melibatkan pengusaha Batam tersebut.

"Kami saja belum tau siap I ini. Sebab kami belum ada komunikasi dengan pihak Polda Medan di mana kasus pembunuhan terjadi," kata Ponco.

Namun demikian, Ponco berjanji, jika ada koordinasi dan juga perintah komando dari Polda Kepri, ia siap mencari keberadaan orang yang diduga otak pelaku pembunuhan tersebut. "Kami masih menunggu koordinasi, siap membantu," pungkasnya. (ays)

Share