BATAM (HK)- Penyebab kematian empat bocah yang ditemukan menumpuk di dalam mobil sedan Subaru Legacy warna hitam BM 1306 XS di sekitar Pasar Cik Puan, Bengkong Sadai, Batam, Kamis (28/2) lalu masih misterius. Namun keluarga korban menduga kematian keempat bocah itu merupakan korban pembunuhan.
Keempat korban itu adalah Maria Yelsan Fenge (6), perempuan dan Cosmos Ferson (4) laki-laki yang merupakan kakak beradik, anak pasangan Anton dan Yuli. Selanjutnya, Wihelmus Rudi (3), laki-laki, anak dari Andreas dan Sutami serta Aprilius Ama Mado (5), laki-laki, anak dari Yosep Boli dan Yasinta Kewa. Mereka ditemukan menumpuk di jok belakang mobil yang sudah lama teronggok di pasar tersebut.
Ketua Umum Persatuan Keluarga (PK) Nusa Tenggara Timur (NTT) Kota Batam, Rofinus Lorens menduga keempat bocah itu dibunuh lantaran, saat keluar dari rumah masing-masing untuk bermain, terutama korban perempuan, Maria Yelsan masih memakai pakaian. Namun begitu mayatnya ditemukan di mobil, korban tidak memakai baju. Bahkan di dalam mobil itu juga tidak ditemukan pakaiannya.
Rofinus mengatakan keempat korban meninggal akibat kehabisan oksigen ini juga masih diragukan. Sebab saat ditemukan keempat korban dalam posisi menumpuk. Kalau kehabisan oksigen katanya siapapun orangnya pasti berusaha untuk mencari pintu atau mencari jalan keluar.
"Keempat bocah ini ditemukan dalam posisi menumpuk, apakah itu yang dimaksud dengan kehabisan oksigen. Ini yang buat kami tidak masuk akal," katanya.
Bagi keluarga dan juga Rofinus sendiri, kematian korban masih menjadi pertanyaan. Memang di satu sisi Rofinus mengakui saat otopsi kata dokter bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh keempat korban. Tapi dia berharap pihak kepolisian mengungkap tuntas kasus tersebut agar semuanya bisa jelas.
"Saya memang ikut langsung menyaksikan otopsi di RSOB. Dan kata dokter tidak ada tanda kekerasan pada tubuh korban. Tapi Kami meminta polisi mengungkap kasus tersebut. Siapapun pelakunya, hukum dia seberat mungkin," ujarnya.
Senada dengan itu, Pengurus PK NTT lainnya Angelinus mengatakan ada yang janggal atas kematian korban. Sebab, mayat korban yang ditemukan tewas itu bertumpuk.
"Kalau memang karena kehabisan oksigen pasti mereka akan mencari jalan keluar. Ini umur tujuh tahun loh, sudah punya pikiran ke sana. Lalu, namanya anak perempuan, umur empat tahun saja kalau keluar rumah pasti disuruh pakai baju. Ini sudah tujuh tahun, kok ditemukan tewas tak ada bajunya. Pertanyaannya kemana bajunya. Semalam aja waktu dievakuasi, tak ditemukan baju. Kecurigaan kami kemana baju Maria dan Wilhelmus. Belum lagi, korban ditemukan tersusun rapi," ujar Angelinus, ditemui di RSBP Kemarin siang.
Untuk itu, ia berencana bersama keluarga besar NTT lainya akan mencoba mencari baju korban. Sebab baju itu tidak mungkin hilang begitu saja. Meski demikian ia mengaku tidak akan mencurgai siapapun, namun pihaknya akan menyisir dua ruko yang selama ini tertutup tidak jauh dari mobil tempat ditemukan mayat.
Sementara itu Andreas Aloysius, ayah dari Wihelmus Rudi Ferara (3) mengatakan, selama ini ia tidak memiliki musuh. Sejak, dinyatakan anaknya hilang, Andreas mengaku sempat mencari putra bungsunya itu hingga ke pelabuhan Sekupang. Malah belakangan ia ketahui anaknya telah ditemukan tewas.
Dari pengamatanya, ia mengaku ada yang tidak beres dengan kematian anaknya. Sebab, ia melihat jasad korban usai divisum, bagian kepala dan kemaluan ada membengkak dan mengeluarkan darah.
"Kepala, hidung dan milut keluar darah. Lidahnya Wihelminus menjulur dan kemaluan membengkak, kalau mereka terkurung kenapa mereka tertumpuk," ujar satpam Kampus Alfayed Bengkong itu.
Kalaupun dibunuh, katanya, di tempat kejadian sering dilewati warga. Sebab jalan tersebut merupakan jalan utama. Kalau memang mereka terkunci pasti ada warga yang lewat dan pasti melihat korban. Kemudian bengkel di sekitar itu tutupnya selalu malam bahkan sampai jam sepuluh.
Anton, ayah dari Maria Yelson Fenge dan Kosmas Ferson Farerra ia menyatakan, kasus yang menimpa anaknya itu, diserahkan sepenuhnya kepada polisi.
"Saya serahkan semua kepada pihak kepolisian," katanya.
Terkait dengan kematian korban yang diduga tidak wajar, Kapolda Kepri Brigjen Pol Yotje Mende mengimbau agar masyarakat tidak membangun asumsi-asumsi negatif terkait penyebab kematian keempat bocah ini. Tapi menunggu hasil penyelidikan polisi, terutama otopsi yang sedang berlangsung di RSOB Sekupang.
"Saya mengimbau masyarakat dan media tak membangun asumsi yang bukan-bukan," tegas Yotje Mende yang turun langsung ke lokasi kejadian, tempat korban ditemukan, Jumat (1/3).
Agar tak menimbulkan efek buruk dalam kejadian ini, Kapolda berjanji akan menyelidiki kejadian ini secara mendalam, sehingga masyarakat tidak berasumsi bahwa kejadian ini dikaitkan dengan kasus penculikan, penganiayaan apalagi pembunuhan.
"Berikan waktu ke polisi untuk menyelidiki," ungkapnya.
Dua Tim Forensik Diterjunkan
Saat ini, pihak kepolisian telah menurunkan tim forensik kesehatan dan ahli kimia dari Mabes Polri untuk menyelidikan penyebab kematian korban.
"Pemeriksaan dilakukan oleh tim forensik kimia dan forensik kesehatan dari Mabes Polri," kata Yojte. Kedua tim ini akan saling membantu untuk mengungkap penyebab kematian.
Hingga kini, kata Kapolda, belum ada indikasi kekerasan yang ditemukan pada empat jenazah anak-anak tersebut. Memar yang terjadi pada sekujur tubuh diduga karena kepanasan di dalam mobil sebelum ditemukan.
"Sementara belum ada tanda-tanda kekerasan. Kami harap dua tim yang diturunkan dapat menyimpulkan penyebab kematian mereka. Namun kami akan terus melakukan penyelidikan," kata Kapolda.
Walikota Batam Ahmad Dahlan yang sempat membesuk keluarga korban di Rumah Sakit Otorita Batam mengaku turut berbelasungkawa atas kejadian yang menimpa keluarga korban. Bahkan ia mengaku kaget saat mengetahui kejadian tersebut.
"Empat anak yang meninggal, saya kaget dapat sms tadi malam. Saya turut prihatin dan turut berduka. Kalau mengenai penyebabnya pihak keamananlah, ini masalah nyawa, anak 4 orang," kata Dahlan.
Disinggung mengenai apakah ada bantuan dari pemerintah, Ahmad Dahlan tidak menjajikan apa-apa. Namun, yang jelas pihaknya sangat prihatin. (mnb/ays)
- Wako dan Wawako Batam Goro di Pulau Pelampong
- Wawako Batam Buka Pameran Bonsai
- Syamsu: LMP Jangan Menyusahkan Pemerintah
- KPAI Investigasi Kasus 4 Bocah Tewas di Batam
- Hari Ini, Ratusan Papan Reklame di Batam Dibongkar
- Ade Rinaldi Juara Lomba Foto HUT ATB
- Hasil Visum, 4 Bocah Mati Lemas
- MES Targetkan Bentuk BMT di Setiap Masjid
- Pakai BBM Non-Subsidi, Kendaraan Dinas Ditarik
- Maling Motor di Batam Sekarat Dihajar Massa
- Sambut MTQ, Gedung Pemko Batam Akan Dibagun Menara
- BLK Batam Akan Diubah Jadi BLU
- TKI Dideportasi dengan Tubuh Penuh Luka
- Jadikan Tahun Ini Nol Pelanggaran
- 4 Bocah di Batam Ditemukan Tewas
- FKPPB Gelar Sarasehan Antar Umat Beragama
- Terbelit Utang Mabok, Nekat Curi Motor
- "Sedang Apa Anak Saya ya"
- Pengusaha Batam Inisial I Kabur
- BP Batam Perketat Izin Titik Reklame
