Jumat03292013

Last update12:00:00 AM

Back Batam Rabu Sore Tak Ada Mayat di Mobil

Rabu Sore Tak Ada Mayat di Mobil

Empat Bocah Ditemukan Tewas

BATAM (HK)--Dugaan kematian empat bocah yang ditemukan menumpuk di jok belakang mobil adalah korban pembunuhan mulai ada titik terang. Pekerja bengkel mengaku sehari sebelum mayat ditemukan, mereka sempat duduk di atas mobil tersebut, namun tidak melihat ataupun mencium bau mayat di dalam mobil itu.

"Kami sempat duduk di atas mobil, Rabu (27/2), sehari sebelum mayat ditemukan Kamis (28/2), tapi kami tak melihat ada mayat di dalam mobil tersebut," kata pekerja bengkel, tempat di temukan mayat keempat bocah tersebut, kemarin.

Hingga saat ini, polisi belum berani mengungkap motif kasus itu. Namun dugaan unsur yang mengarah keempat bocah dibunuh, semakin kuat.

Pekerja bengkel tadi yang enggan menyebutkan namanya itu mengaku mobil tersebut sudah tujuh tahun teronggok di lokasi tersebut. Alat-alat mobil banyak yang sudah dipreteli untuk dipasang di mobil lain. Mobil itu pun sudah bolong-bolong. Biasanya mobil sedan Legacy BM 1306 XS tersebut jadi tempat nongkrong pekerja bengkel ketika istirahat bekerja.

Jadi lanjutnya ketika mayat keempat bocah masing-masing Maria Yelsan Fenge (6), Cosmas Ferson (4), Wihelmus Rudi (3) dan Aprileus Ama Mado (5) ditemukan dalam mobil rongsokan itu, ia dan kawan-kawannya sangat terkejut.

"Tapi aneh ya, ko bisa ada mayat di dalamnya," katanya sambil bercanda.

Sebelumnya, Ketua Umum Persatuan Keluarga (PK) Nusa Tenggara Timur (NTT) Kota Batam, Rofinus Lorens menduga keempat bocah itu dibunuh. Hal ini lantaran saat keluar dari rumah masing-masing untuk bermain, terutama korban perempuan, Maria Yelsan masih memakai pakaian. Namun begitu mayatnya ditemukan di mobil, korban tidak memakai baju. Bahkan di dalam mobil itu juga tidak ditemukan pakaiannya.

Rofinus mengatakan keempat korban meninggal akibat kehabisan oksigen ini juga masih diragukan. Sebab saat ditemukan keempat korban dalam posisi menumpuk. Kalau kehabisan oksigen katanya siapapun orangnya pasti berusaha untuk mencari pintu atau mencari jalan keluar.

Senada dengan itu, Jhon Parera kakek dari Yelsan, Ferson dan Wilhamus Rudi sangat yakin cucunya meninggal secara tidak wajar. Sehingga menurutnya polisi harus benar-benar mengungkap kasus kematian ketiga cucunya tersebut.

"Kematian cucu saya tidak wajar, saya minta polisi adil dan mengungkap kasus ini," ujarnya.

Di tempat terpisah, Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA) Arist Merdeka Sirait mengaku tidak yakin kalau keempat bocah itu meninggal karena lemas. Sebab ada udara yang masuk ke dalam mobil. Ini kerena kondisi mobil sudah rongsok dan ada sejumlah kerusakan sehingga angin bisa masuk ke dalam mobil.

Selain itu kata Sirait, dari keterangan Andreas, orang tua Wihamus Rudi dikatakan bahwa terakhir ia mengecek mobil di lokasi, Rabu (27/2), sehari sebelum mayat ditemukan Kamis (28/2) sekitar pukul 19.00 WIB ternyata tidak ada mayat di dalam mobil.

Fakta lainnya lanjut Sirait, kondisi mobil itu berada di lokasi yang ramai. Sehingga bila keempat anak ini terjebak di dalam mobil, maka kemungkinan besar terlihat orang dan bisa diselamatkan.

"Kita sudah melihat kalau lokasi mobil di TKP sangat ramai, sehingga kemungkinan besar anak-anak ini bisa mendapatkan pertolongan kalau keempatnya terjebak," ungka Arist didampingi Sekjennya, Syamsul Ridwan usai mengunjungi keluarga korban di Bengkong dan melihat langsung barang bukti di Polresta Barelang, Rabu (6/3) lalu.

Atas sejumlah keganjilan ini, Komna KPA akan membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) untuk membantu polisi mengungkap penyebab kematian keempat korban tersebut. Nantinya fakta yang diperoleh TPF akan diserahkan langsung ke Mabes Polri.

Seperti diberitakan sebelumnya, keempat bocah ini sebelumnya dilaporkan hilang ketika bermain di seputaran Pasar Cik Puan, Seipanas, Rabu (27/2) sekitar pukul 10.00 WIB. Namun hingga Kamis (28/2) siang, keempatnya belum kembali ke rumah masing-masing. Keempat bocah ini diduga diculik lalu dibunuh. Namun polisi membantahnya karena dari hasil otopsi, korban meninggal akibat kehabisan oksigen.

Kematian keempat korban tersebut hingga saat ini masih diselidiki polisi. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, termasuk salah seorang pedagang di Pasar Cik Puang, Emi (30).

Ibu ini mengaku melihat keempat bocah itu dibawa oleh seorang perempuan dengan menggunakan sepeda motor Yamaha Mio warna biru. Namun dirinya tidak pernah menduga kalau ibu itu bukan orang tua keempat anak tersebut.

"Sempat melihat keempatnya dibawa perempuan tersebut. Dua anak dibonceng dan dua lagi disuruh berjalan kaki mengikuti ibu tersebut. Tapi saya pikir itu orang tua mereka," tutur Emi saat ditemui di tokonya, Kamis (28/2)

Karena tidak curiga ada penculikan, Emi juga tidak mempermasalahkan hal itu. (ays)

Share