Rabu03202013

Last update12:00:00 AM

Back Batam TPF Segera ke Batam, Selidiki Kematian Empat Bocah di Bengkong

TPF Segera ke Batam, Selidiki Kematian Empat Bocah di Bengkong

BATAM (HK)- Tim Pencari Fakta (TPF) yang dibentuk Komnas Perlindungan Anak (KPA) segera ke Batam untuk melakukan penyelidikan kematian empat bocah yang ditemukan menumpuk di dalam mobil rongsokan merek Subaru di Pasar Cik Puan, Seipanas, Kamis (28/2) lalu.

Ketua KPA, Arist Merdeka Sirait mengatakan TPF telah terbentuk kemarin. Rencananya mereka ke Batam dalam waktu dekat ini.

"Kita sudah bentuk TPF dan mereka segera bekerja," kata Arist saat dihubungi via ponsel, Rabu (13/3).

Arist mengatakan, tim yang akan turun, termasuk dirinya itu selain menghimpun bukti-bukti dari berbagai sumber, juga melakukan penyelidikan langsung di lapangan. Sebab sebelumnya dalam kunjungan KPA pertama, mereka menemukan banyak keganjilan atas kematian keempat bocah ini.

Kata Arist, TPF yang dibentuk ini merupakan tim independen dari internal KPA sendiri, bukan merupakan tim gabungan seperti tim lainnya yang pernah ada.

Pembentukan TPF dipandang penting lanjut Arist mengingat ada sejumlah keterangan dari keluarga korban, keterangan dari polisi serta keterangan sejumlah saksi dan hasil temuan di lokasi yang perlu diklarifikasi dan dikonfirmasi.

"TPF ini penting untuk membantu polisi mengungkap apa penyebab kematian keempat bocah tersebut," ungkap Arist.

Sejumlah hal yang perlu diklarifikasi adalah keterangan yang menyatakan kalau keempat bocah meninggal karena lemas. Pasalnya, dalam keterangan Andreas, orang tua Wihamus Rudi dikatakan bahwa terakhir ia mengecek mobil di lokasi, Rabu (27/2), sehari sebelum mayat ditemukan Kamis (28/2)sekitar pukul 19.00 WIB ternyata tidak ditemukan adanya keempat korban di dalam mobil tersebut.

Fakta kedua, bahwa kondisi mobil itu berada di lokasi yang ramai. Sehingga bila keempat anak ini terjebak di dalam mobil, maka kemungkinan besar terlihat orang dan bisa diselamatkan.

"Kita sudah melihat kalau lokasi mobil di TKP sangat ramai, sehingga kemungkinan besar anak-anak ini bisa mendapatkan pertolongan kalau keempatnya terjebak," ungkapnya.

Begitu juga setelah melihat langsung kondisi mobil sedan Subaru Legacy BM 1306 XS yang terparkir di Mapolresta Barelang, Arist yakin bahwa mereka tak mungkin terjebak di dalam mobil karena kondisinya sudah rongsok dan ada sejumlah kerusakan sehingga angin bisa masuk ke dalam mobil.

Sebelumnya, dugaan kematian empat bocah karena dibunuh sudah mulai ada titik terang. Pekerja bengkel mengaku sehari sebelum mayat ditemukan, mereka sempat duduk di atas mobil tersebut, namun tidak melihat ataupun mencium bau mayat di dalam mobil itu.

"Kami sempat duduk di atas mobil, Rabu (27/2), sehari sebelum mayat ditemukan Kamis (28/2), tapi kami tak melihat ada mayat di dalam mobil tersebut," kata pekerja bengkel, tempat mayat ditemukan.

Pekerja bengkel tadi yang enggan menyebutkan namanya itu mengaku mobil tersebut sudah tujuh tahun teronggok di lokasi tersebut. Alat-alat mobil banyak yang sudah dipreteli untuk dipasang di mobil lain. Mobil itu pun sudah bolong-bolong. Biasanya mobil tersebut jadi tempat nongkrong pekerja bengkel ketika istirahat bekerja.

Jadi lanjutnya ketika mayat keempat bocah masing-masing Maria Yelsan Fenge (6), Cosmas Ferson (4), Wihelmus Rudi (3) dan Aprileus Ama Mado (5) ditemukan dalam mobil rongsokan itu, ia dan kawan-kawannya sangat terkejut.

"Tapi aneh ya, ko bisa ada mayat di dalamnya," katanya.

Pertanyakan Hasil Otopsi

Keluarga korban mendesak pihak kepolisian segera menyampaikan hasil otopsi keempat korban tersebut.

Pasalnya, hasil visum yang disampaikan oleh pihak Polresta Barelang beberapa waktu lalu, tak memberikan hasil memuaskan bagi keluarga korban. Karena dalam nalar mereka, korban bukan meninggal karena kehabisan oksigen tapi menjadi korban pembunuhan.

"Kami minta polisi segera sampaikan hasil otopsi, jangan mengulur waktu," ujar salah seorang keluarga korban, M Ilyas, Rabu (13/3).

Menurutnya, hasil otopsi korban seharusnya sudah disampaikan secara terbuka kepada pihak keluarga dan juga diinformasikan ke publik. Sehingga tidak memunculkan berbagai kesimpulan negatif dan dapat memberikan kepastian kepada keluarga korban.

"Jangan membuat keluarga korban harus terombang-ambing karena penantian hasil otopsi," katanya.

Harusnya, dengan waktu dua minggu sejak kejadian Kamis (28/2) lalu, pihak kepolisian setidaknya sudah memberikan kesimpulan melalui hasil otopsi. Sehingga dapat segera mengungkap secara tuntas apa sebenarnya yang terjadi dengan kematian keempat bocah ini.

"Jangankan menangkap pelaku, hasil otopsi saja belum disampaikan," kesal Ilyas. (ays).

Share