Direktur Reskrim Umum Polda Kepri, Kombes Pol Muhammad Fadil mengatakan hal itu kepada wartawan di Mapolda Kepri, kemarin.
"Sabtu kita gelar perkara hasil penyidikan tewasnya empat bocah itu," kata Fadil.
Gelar perkara ini kata Fadil dilakukan untuk mengevaluasi hasil penyelidikan yang telah dilaksanakan selama ini untuk melihat progres perkembangan kasus tersebut.
"Nantinya kita bisa mengetahui di mana titik kekurangan dan hasil yang telah didapatkan jajaran kita guna mengungkap kasus ini," terangnya.
Masih kata Fadil, intinya nanti dalam gelar perkara yang dilakukan ada tiga poin yang akan dicapai. Pertama menyampaikan hasil otopsi yang diterima dari tim forensik dan labfor Mabes Polri. Kedua evaluasi perkembangan kasus penyelidikan dan terakhir bertujuan untuk melihat sejauh mana hasil penyelidikan dan menkroscek hal-hal yang dirasa masih kurang,
Disinggung kematian korban diduga dibunuh karena ditemukan banyak kejanggalan, Fadil mengatakan pihaknya tak mau menggubris masalah kejanggalan. Tapi ia akan menjelaskan fakta hasil penyidikan pada gelar perkara nanti.
Sebelumnya, hasil pemeriksaan sementara polisi bahwa keempat bocah yang tewas, Maria Yelsan Fenge (6), Cosmas Ferson (4), Wihelmus Rudi (3) dan Aprileus Ama Mado (5) akibat kekurangan oksigen di dalam tubuh. Ini juga sesuai dengan hasil wisum et repertum.
Meski dari hasil visum kematian korban akibat kehabisan oksigen, namun keluarga korban tidak begitu percaya. Sebab dalam nalar mereka, korban meninggal bukan karena kehabisan oksigen tapi merupakan korban pembunuhan. Sehingga mereka meminta polisi segera menyampaikan hasil otopsi tersebut.
"Kami minta polisi segera sampaikan hasil otopsi, jangan mengulur waktu," ujar salah seorang keluarga korban, Ilyas.
Menurutnya, hasil otopsi korban seharusnya sudah disampaikan secara terbuka kepada pihak keluarga dan juga diinformasikan ke publik. Sehingga tidak memunculkan berbagai kesimpulan negatif dan dapat memberikan kepastian kepada keluarga korban.
Harusnya kata Ilyas, dengan waktu dua minggu sejak kejadian Kamis (28/2) lalu, pihak kepolisian setidaknya sudah memberikan kesimpulan melalui hasil otopsi. Sehingga dapat segera mengungkap secara tuntas apa sebenarnya yang terjadi dengan kematian keempat bocah ini.
Untuk menyelidiki kematian keempat bocah tersebut, Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak (KPA) telah membentuk Tim Pencari Fakta. Tim ini untuk menghimpun bukti-bukti dari berbagai sumber dan melakukan penyelidikan langsung di lapangan.
KPA sebelumnya telah turun ke Batam. Dari hasil di lapangan KPA sendiri menemukan banyak keganjilan atas kematian keempat bocah tersebut. Keganjilan itu adalah keterangan yang menyatakan kalau keempat bocah meninggal karena lemas, padahal dalam keterangan Andreas, orang tua Wihamus Rudi sehari sebelum mayat ditemukan, mereka sempat mengecek mobil itu, namun tidak ditemukan adanya mayat di dalam mobil.
Fakta kedua, bahwa kondisi mobil itu berada di lokasi yang ramai. Sehingga bila keempat anak ini terjebak di dalam mobil, maka kemungkinan besar terlihat orang dan bisa diselamatkan.
Senada juga disampaikan pekerja bengkel, lokasi ditemukan mayat. Pekerja itu mengaku sehari sebelum mayat ditemukan, mereka sempat duduk di atas mobil tersebut, namun tidak melihat ataupun mencium bau mayat di dalam mobil itu.
Jadi lanjutnya ketika mayat keempat bocah ditemukan dalam mobil rongsokan itu pekerja bengkel sangat terkejut. (jua/btd)Share
Newer news items:
- Peserta FLS2N di Batam Kota 2.600 Siswa
- Dewan Minta Master Plant Titik Reklame Digesa
- Dahlan Peduli Pendidikan Agama
- Dinilai Tak Wajar, Warga NTT Gelar Ritual
Older news items:
- TPF Segera ke Batam, Selidiki Kematian Empat Bocah di Bengkong
- BKKBN Kepri Target 41 Ribu Peserta KB Baru
- Ketua DK Belum Tunjuk Pengganti Manan
- Pengelola Pijat Plus Pernah Coba Suap Ketua RT



