BATAM (HK)- Pihak keluarga korban empat bocah yang ditemukan tewas menumpuk di dalam mobil rongsokan merek Subaru di Pasar Cik Puan, Bengkong, Batam, Kamis (28/2) lalu menggelar ritual adat di lokasi penemuan mayat, Jumat (15/3) pagi. Ritual ini bertujuan untuk mengetahui penyebab kematian korban sekaligus 'penyelamatan arwah'.
Tokoh Adat Nusa Tenggara Timur (NTT) Thomas Sili Boli mengakui kematian empat bocah itu sebagai suatu jalan yang direncanakan Tuhan. Namun, sesuai adat, kematian korban dinilai tidak wajar sehingga perlu digelar ritual untuk mengetahui sebab-sebab kematian korban.
Ritual ini lanjut Thomas merupakan tradisi turun-temurun di Nusa Tenggara Timur.
"Ritual ini dilakukan secara khusus pada kematian yang tidak wajar, sebagai upaya menenangkan arwah mereka," ujar Thomas, Jumat (15/3).
Secara garis besar, lanjut Thomas, ada dua hal yang ingin dicapai dalam ritual ini. Pertama, penyampaian doa agar arwah ke empat mendiang ini dapat tenang di alam sana.
Kedua, ritual ini dimaksud meminta petunjuk tentang apa yang menyebabkan kematian mereka dan rangkaian mengungkap siapa sebenarnya pelakunya, jika dalam kenyataan keempatnya tewas dibunuh.
"Pada intinya ritual ini upaya menenangkan arwah korban dan meminta petunjuk tentang kematian mereka," terangnya.
Di mana dalam pemahaman warga NTT, kata Thomas, manusia yang meninggal secara tidak wajar maka arwahnya biasanya tidak tenang. Sehingga dibutuhkan satu ritual khusus untuk memulangkan arwah mereka pada tempatnya.
APIT Kawal Proses Hukum
Pemuda dan para tokoh Indonesia Timur yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Indonesia Timur (APID) menegaskan komitmennya untuk mengawal proses hukum terkait kematian keempat bocah yang tinggal di Kampung Duren, Kelurahan Sadai-Bengkong tersebut.
Keputusan ini lahir, sebagai upaya untuk memastikan agar seluruh proses hukum yang dilakukan pihak kepolisian berada di jalurnya, bukan dilakukan berdasarkan intervensi dari pihak manapun.
"Kami akan kawal kasus ini hingga tuntas," tegas Koordinator APIT, Faizal Ola, Jumat (15/3).
Senada dengan itu keluarga korban, Ellias Lagoday mendesak agar pihak kepolisian segera menuntaskan kasus yang menimpa anggota keluarganya.
Menurutnya, kalau polisi serius dalam mengusut kasus kematian keluarganya, seharusnya sudah ada titik terang perkembangan kasus ini, karena kejadian naas itu sudah dua minggu yang lalu.
"Kami minta polisi serius, dua minggu sudah waktu yang cukup," kata Ellias.
Sebagai langkah kongkrit pengawalan kasus tersebut, ia bersama APID akan hadir di acara gelar perkara sekaligus penyampaian hasil otopsi yang dilakukan polisi di Mapolresta Barelang, Sabtu (16/3) hari ini.
Sebelumnya Direktur Reskrim Umum Polda Kepri, Kombes Pol Muhammad Fadil mengatakan penyidik Polda Kepri akan menyampaikan hasil otopsi dari Tim Laboratorium Forensik (Labfor) atas kematian empat bocah tersebut.
Gelar perkara ini kata Fadil dilakukan untuk mengevaluasi hasil penyelidikan yang telah dilaksanakan selama ini untuk melihat progres perkembangan kasus tersebut.
"Nantinya kita bisa mengetahui di mana titik kekurangan dan hasil yang telah didapatkan jajaran kita guna mengungkap kasus ini," terangnya.
Masih kata Fadil, intinya nanti dalam gelar perkara yang dilakukan ada tiga poin yang akan dicapai. Pertama menyampaikan hasil otopsi yang diterima dari tim forensik dan labfor Mabes Polri. Kedua evaluasi perkembangan kasus penyelidikan dan terakhir bertujuan untuk melihat sejauh mana hasil penyelidikan dan menkroscek hal-hal yang dirasa masih kurang,
Disinggung kematian korban diduga dibunuh karena ditemukan banyak kejanggalan, Fadil mengatakan pihaknya tak mau menggubris masalah kejanggalan. Tapi ia akan menjelaskan fakta hasil penyidikan pada gelar perkara nanti.
Sebelumnya, hasil pemeriksaan sementara polisi bahwa keempat bocah yang tewas, Maria Yelsan Fenge (6), Cosmas Ferson (4), Wihelmus Rudi (3) dan Aprileus Ama Mado (5) akibat kekurangan oksigen di dalam tubuh. Ini juga sesuai dengan hasil wisum et repertum.
Meski dari hasil visum kematian korban akibat kehabisan oksigen, namun keluarga korban tidak begitu percaya. Sebab dalam nalar mereka, korban meninggal bukan karena kehabisan oksigen tapi merupakan korban pembunuhan. Sehingga mereka meminta polisi segera menyampaikan hasil otopsi tersebut. (ays)
- Kejari Akan Selidiki Keterlibatan Tersangka Lain
- Kebisingan Batam Lampaui Ambang Normal
- DPRD Desak BP Batam Tuntaskan Masterplan Reklame
- ATB Belum Terima Laporan Pencurian Air di PT Lobindo
- Hasil Otopsi Kematian Empat Bocah di Batam Disampaikan Besok
- Kabag Keuangan Kota Batam Dituding Tahan Anggaran Panwaslu
- Industri Meningkat Seiring Hadirnya Batam Techno Park
- Ombudsman Hadir di Kepri



