Hilangnya saksi kunci tersebut diketahui setelah Andreas Aloysius, ayah dari Wilhelmus, satu dari empat bocah yang meninggal itu mengecek langsung ke rumah Emi. Namun Emi sudah empat hari sudah tidak ada lagi di rumah kosnya tersebut.
"Saya tidak tahu lagi keberadaan Emi sekarang ini. Padahal ia (Emi) adalah satu-satunya saksi kunci yang pertama kali melihat anak-anak kami dibonceng oleh orang yang tak dikenal. Saya cek ke rumah, ternyata Emi sudah tidak ada. Bahkan kata tetangganya Emi sudah empat hari belum pulang ke rumahnya,"ungkap Aloysius di rumahnya, kemarin.
Menghilangnya saksi kunci tersebut kata Aloysius, membuat keluarga korban semakin putus asa. Padahal, dari keterangan Emi itu kemungkinan polisi bisa mengungkapkan misteri kematian anak mereka.
"Kami sangat menyesalkan Emi menghilang tanpa jejak. Seharusnya pihak kepolisian bisa melindungi dan menjaga Emi untuk mengungkapkan kasus ini, "ujarnya.
Kata Aloysius, hilangnya Emi ini juga menjadi tanda tanya besar bagi pihak keluarga korban. Sebab Emi menghilang itu bisa saja ketakutan atau karena diintimidasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Namun demikian lanjut Aloysius, ia masih berpikir positif bahwa Emi mungkin pindah kos.
"Saat ini Kami berpikir positif saja, mungkin Emi yang memiliki anak berumur sekitar dua tahun itu pindah kos. Kalaupun ia pindah, pasti diketahui oleh pemilik kos, "ucap Aloysius.
Seperti dberitakan sebelumnya, Emi (30) pernah mengaku kalau ia melihat keempat bocah sebelum ditemukan tewas dibawa oleh seorang perempuan dengan menggunakan sepeda motor Yamaha Mio warna biru, Rabu (27/2) lalu. Namun Emi tidak pernah menduga kalau ibu itu bukan orang tua keempat anak tersebut.
"Sempat melihat keempatnya dibawa perempuan tersebut. Dua anak dibonceng dan dua lagi disuruh berjalan kaki mengikuti ibu tersebut. Tapi saya pikir itu orang tua mereka," tutur Emi saat ditemui di tokonya beberapa waktu lalu.
Karena tidak curiga ada penculikan, Emi juga tidak mempermasalahkan hal itu. Namun keesokan harinya, Kamis (28/2) keempat bocah ternyata ditemukan tewas di dalam mobil sedan Subaru Legacy warna hitam BM 1306 XS di sekitar Pasar Cik Puan,Bengkong Sadai.
Keempat bocah itu adalah Elsan (6), perempuan dan Ferson (4) laki-laki yang merupakan kakak beradik, anak pasangan Anton dan Yul. Selanjutnya, Wihelmus Rudi (3) laki-laki, anak dari Andreas dan Sutami serta Aprilius Ama Mado (5) laki-laki, anak dari Yosep Boli dan Yasinta Kewa. Mereka ditemukan menumpuk di jok belakang mobil yang sudah lama teronggok di pasar tersebut.
Kematian empat bocah itu menimbulkan berbagai spekulasi. Pihak keluarga merasa yakin bahwa anak-anak mereka justru lebih dulu dibunuh, kemudian baru diletakkan di mobil rongsokan tersebut.
Namun dari hasil otopsi menyebutkan keempat bocah itu meninggal akibat kehabisan oksigen. Hingga saat ini polisi masih melakukan penyelidikan terhadap kasus itu. Pada Rabu (20/3), tim Labfor Mabes Polri, Medan kembali melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). (byu)
- Kendala Pembangunan Daerah Perbatasan Diungkap Komite DPD RI
- Siswa SMP di Batam Adu Jotos
- Karyawan Rumah Makan di Batam Gantung Diri
- Sumur Bor Pasar Melati Bakal Ditertibkan
- Produk Impor Harus Lebih Murah 10%
- Ketua MUI Kepri Sedih Prostitusi Marak
- Maret, Suhu Udara di Batam Masih Panas
- Titik Reklame di Batam Akan Ditata Ulang




