Rabu05292013

Last update12:00:00 AM

Back Batam PLN Batam Tak Tertarik Bangun PLTSa

PLN Batam Tak Tertarik Bangun PLTSa

BATAM CENTRE (HK) - Jumlah sampah yang lumayan banyak di Batam berpotensi dikembangkan menjadi energi terbarukan dalam membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Namun, bright PLN Batam, tak tertarik membangun PLTSa karena menggunakan teknologi tinggi yang pembuatanya relatif mahal.

Direktur Utama bright PLN Batam, Dadan Kurniadipura tidak menafikan akan potensi sampah sebagai energi terbarukan untuk dijadikan PLTSa di Batam. Tapi pihaknya harus melihat untung rugi bagi perusahaan. Jika harganya terlalu tinggi tentu menjadi pertimbangan tersendiri.

" Energi terbarukan, masih cukup mahal. Kita mau untung atau mau rugi, kalau membangun itu kita harus membayar mahal. Energi terbarukan, yang potensial di Batam adalah matahari, kemudian sampah. Harga sampah masih terlalu mahal. Ini yang membuat gak efisien," jelas Dadan, beberapa waktu lalu.

Selain itu, kata dia, bright PLN Batam merupakan anak perusahan PLN (Persero) yang tidak disubsidi. Sehingga, hal-hal yang demikian, masih sulit untuk dikembangkan. Meski, lanjut Dadan, pihaknya tetap menaruh perhatian akan pembangkit dengan memanfaatkan energi terbarukan.

Mengenai PLTSa di Batam, kata Dadan, beberapa waktu lalu sudah pernah ada studi dari PT Inti. Namun kembali ke harga tadi yakni masih mahal sehingga perlu pertimbangan yang matang. Saat ini, untuk potensi energi terbarukan di Indonesia, lebih kepada Geothermal dan Hydro. Sementara potensi yang sangat besar di Batam, selain matahari, sampah juga ada pemanfaatan arus laut.

Sementara itu Walikota Batam Ahmad Dahlan enggan memberikan komentar banyak mengenai harga sampah yang relatif tinggi merupakan salah satu kendala dalam membangun PLTSa. Namun, Dahlan sedikit menceritakan tentang bagaimana pengelolaan sampah di Batam. Katanya, sejak dikelola oleh pihak ke tiga, pemerintah hanya menerima setoran sesuai dengan ketentuan yang ada.

"Saya gak tau. Sampah kita anggarkan di APBD dan dikelola oleh swasta. Artinya dari hulu ke hilir, dari A sampai Z itu dikelola swasta. Mulai dari memungut sampah hingga ke TPA dan memungut retribusi, itu satu paket. Dia menyetor ke pemerintah, tentu ada hitung-hitungannya dong," kata Dahlan, kemarin.

Namun demikian, Dahlan mengatakan, potensi sampah memang sangat besar untuk dikelola menjadi PLTSa. Dimana saat ini, sampah rumah tangga saja mencapai 700 ton perhari. Bahkan dengan potensi tersebut, negara tetangga saja tertarik mengelola sampah di Batam.

Awalnya, kata Dahlan, negara Singapura tertarik untuk mengelola saja. Namun, kemudian dia juga ingin meminta lahan di Batam, sebagai tempat kawasan pembuangan sampah mereka. Tapi, dengan tawaran itu, dengan tegas ia menolak, meski dengan bayaran tinggi.

"Singapura tertarik membuang sampah di Batam. Dulu mau nya mengelola saja. Jelas kita tidak mau, 'No Way'. Itu tidak mungkin, nanti image nya Indonesia hanya dijadikan tempat buang sampah, apalagi sampai dipolitisasi," jelas Dahlan.

Selain itu, dikahwatirkan juga sampah yang dibawa merupakan limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3). Sehingga tidak toleransi untuk itu. Disinggung mengenai interkoneksi listrik Batam dan Belakangpadang, Dahlan mengakui, itu tergantung PLN. Waktu Dirut PLN masih dijabat Dahlan Iskan, interkoneksi pada dasarnya sudah disetujui.

"Listrik. Pada dasarnya PLN setuju, tinggal realiasasinya saja. Kalau mengenai kendala tidak ada, tinggal teknisnya aja. Itu sama juga dengan sambungan air," kata Dahlan.

Untuk sambungan air, Kementerian Pekerjaan Umum juga sudah setuju. Kalau tidak ada halangan tahun ini sudah dilaksanakan pemasangan pipa atau paling lambat di 2014. Ini sama dengan sambungan yang sebelumnya dilaksanakan Batam ke Bulang.

"Untuk Bulang, dulu dana sebagian besar dari CSR. Itu baguskan. Kalau di Belakangpadang kita harapkan hal yang sama, cuma masalahnya, di Belakangpadang, investor tidak ada. Kita harapkan nanti kalau (Investor) pulau Janda Berhias selesai. Tapi namanya kebutuhan masyarakat ada terus," tutup Dahlan. (lim)

Share