Demikian dikatakan Kepala Bidang Peternakan Dinas Kelautan, Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam, Sri Yunelly didampingi drh Samuel, di sela-sela Musrenbang Kota Batam di Hotel Vista Batam, Senin (25/3).
Nelly menyebutkan, Dinas KP2K Kota Batam mendapat laporan ayam mati mendadak di sejumlah titik, yakni di Kelurahan Air Raja, Kelurahan Tanjungriau, Kelurahan Patam Lestari, Kelurahan Tanjunguma, Kelurahan Sei Lekop, Kelurahan Kabil dan Kelurahan Duriangkang.
"Tiga lokasi, yaitu Air Raja, Tanjungriau dan Patam Lestari positif flu burung dan telah kita kita ambil tindakan, yaitu sterilisasi lokasi dari unggas awal Februari lalu. Terbaru, informasi yang kami terima dari Dinas Peternakan Provinsi Kepri, kasus di Sei Lekop ternyata juga positif flu burung," ujar Nelly.
Di Sei Lekop, kata dia, pihaknya mendapat laporan terjadi kematian unggas milik warga secara mendadak sekitar 10 ekor ayam, sebagian besar telah dikubur. "Kami hanya mendapatkan satu ekor mati dan satu ekor sakit, keduanya kami jadikan sampel. Hasil rapid test (tes cepat) positif flu burung. Untuk kepastian analisa, kami tetap mengirimkan sampel ke Bukittinggi, dan hasilnya baru keluar, yaitu positif," papar Nelly.
Lalu, di Kelurahan Tanjunguma, KP2K Kota Batam mengambil empat sampel, hasil rapid tes 2 positif dan 2 negatif. Namun tes laboratorium belum keluar.
Di Kelurahan Duriangkang, pada 27 Februari, 2 ekor ayam mati dan satu ekor sakit. Ketiganya dilakukan rapid test, hasilnya positif, namun untuk lebih lanjut masih menunggu konfirmasi dari laboratorium di Bukittinggi.
Begitu juga dengan kasus ayam mati mendadak yang terjadi antara 20 Februari-8 Maret lalu di Kelurahan Kabil. Di titik ini terdapat sekitar 20 ekor ayam mati mendadak, hasil rapid tes juga positif flu burung, namun hasil laboratorium dari Bukittinggi belum keluar.
"Kasus di Kavling Bukit Indah, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa ini terjadi kematian unggas mendadak sejak 20 Februari hingga 8 Maret, jumlahnya sekitar 20 ekor. Tetapi kami hanya mendapatkan sampel 1 ekor, sisanya sudah dikubur oleh warga. Hasil rapid tes positif flu burung, tetapi hasil analisa laboratorium dari Bukittinggi belum keluar," papar drh Samuel yang mengaku turun langsung ke lokasi.
Dikatakan Nelly, dengan ditemukannya tujuh kasus ayam mati mendadak, secara teori Batam menjadi daerah endemik flu burung. Sebelum penemuan kasus ayam mati mendadak Januari lalu, Pemerintah Kota Batam melalui Dinas KP2K Kota Batam telah merencanakan Batam sebagai kota bebas flu burung. Hal itu karena sejak awal 2011 pemerintah sudah tidak menemukan kasus flu burung.
"Kita sebenarnya sudah mencanangkan bebas flu burung di 2014 atau 2015 mendatang, tetapi dengan kasus ini, rencana itu gagal," ujar Nelly.
Hasil evaluasi Dinas KP2K Kota Batam, kasus flu burung di Batam terjadi karena arus lalu lintas unggas yang cukup tinggi di samping migrasi burung liar. Dikatakannya, arus lalu lintas unggas yaitu unggas yang dibawa oleh manusia dari daerah lain ke Batam tanpa sepengetahuan Karantina Batam. Akibatnya, unggas yang tertulang flu burung masuk tanpa dapat dicegah.
"Hasil penelusuran kami, di salah satu titik penemuan kasus flu burung itu terjadi karena ada warga yang membawa unggas secara diam-diam dari luar daerah ke Batam, dan itu tanpa sepengetahuan Karantina. Secara teori, banyak daerah-daerah di Indonesia yang belum terbebas dari kasus flu burung. Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang seperti ini, kembali kami mengingatkan kepada masyarakat untuk mengikuti prosedur yang ada agar tidak terjadi lagi kasus seperti ini, yang pada akhirnya merugikan orang banyak," ujar Nelly. (pti)
- Perlunya Sinergi Bersama Mengentaskan Kemiskinan di Batam
- Musrenbang Kota Batam Resmi Ditutup
- Banyak Perusahaan Tambang Tak Ikut Aturan
- Rp7 M Bangun Embung di Pulau Nipah
- Batuampar Juara Umum STQ Ke-4 Kota Batam
- Main di Parit, Balita Ditemukan Meninggal
- Dampak Kenaikan UMK Batam Diprediksi Pertengahan Tahun Ini
- Pembangunan Pelabuhan Terhalang Terumbu Karang



