Nelayan Terancam Kehilangan Pencaharian
BELAKANG PADANG (HK) - Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) mencemari perairan sekitar 30 pulau di Kecamatan Belakangpadang dan Bulang. Limbah berbentuk lumut tersebut seperti berminyak dan mengeluarkan bau yang menyengat hidung. Dan bila mengenai kulit akan menyebabkan gatal-gatal.
Pulau-pulau yang terkena limbah tersebut diantaranya Belakangpadang, Lengkang, Gret, Air Asam, Pulau Jagung, Pulau Piala Ayam, Pulau Mecan, Pulau Cicir dan Pulau Lingka, Bertam serta Pulau Gare.
Pantauan langsung di perairan Pulau Lingka, Bertam dan Gare, kemarin ketebalan lumut mencapai 30 centi meter. Akibatnya karang yang biasanya tempat ikan berkembang biak, kini tertutup lumut sehingga ikan dan udang menghilang dari bibir laut.
Tak hanya itu, kelong dan juga sejumlah alat tangkap nelayan tertutup oleh lumut tebal. Sehingga tak bisa lagi berfungsi sebagaimana mestinya, bahkan pancing yang dilempar ke laut pun hanya berhasil mengait lumut.
Tokoh Nelayan Pulau Lingka, Gisam Palele alias Sam dengan nada kecewa mengatakan keberadaan limbah tersebut sudah sangat memprihatinkan dan memnjadi persoalan serius. Pasalnya, semakin hari ikan dan juga udang tak ada lagi di sekitar pulau tersebut.
" Mata pencaharian kami terancam hilang, jangan paksa kami berontak," ujar sesepuh Pulau Lingka yang akrab disapa Pak Sam yang dihubungi, Jumat (5/3).
Keberadaan limbah tersebut, lanjut Pak Sam, sudah tahunan. Namun tiga tahun terakhir dampaknya sudah sangat menghawatirkan. Diduga kuat limbah tersebut berasal dari pembuangan limbah secara serempangan sejumlah perusahaan Shipyard. Sebabnya, keberadaan limbah mulai terasa seiring dengan tumbuh pesatnya Shipyard di sekitar kawasan itu.
Tangkapan Nelayan Anjlok
Tokoh nelayan lainnya yang juga Ketua RW setempat, Atang, mengatakan sejak tiga tahun terakhir tangkapan mereka anjlok. Kalau dulunya satu unit kelong bisa menghasilkan Rp500 ribu seminggu, kini hanya bisa puluhan ribu saja, dan itu hanya cukup untuk makan.
" Ini seminggu hanya menghasilkan Rp30 ribu, bahkan tidak ada sama sekali," ujarnya kesal.
Begitu juga kalau mencari udang dengan menyondong, dulunya bisa sampai 8 kilogram sehari, kini hanya bisa 1 kilogram, bahkan juga hanya bisa untuk lauk pauk di rumah.
Rasa prihatin juga diungkapkan Imah, janda tua yang suka memancing ikan di laut, dulunya dalam sehari bisa mendapatkan ikan hingga 5 kilo gram ikan, tapi sekarang sudah tidak ada lagi.
" Ini aja sudah setengah hari, tapi hanya dapat beberapa ekor saja," ketusnya.
Desak KP2K Tegas
Atas temuan limbah tersebut, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Batam, mendesak Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan (KP2K) tegas.
" KP2K Batam harus tegas, jangan biarkan nelayan kehilangan mata pencaharian," kata Kooordinator nelayan HNSI Batam, Sofyan M Yahya.
Karena ini, menyangkut banyak pihak, lanjut Sofyan, yakni pengusaha Shipyard, KP2K Batam, Bapedalda dan BP Batam selaku penanggung jawab pembangunan di Batam, maka permasalahan limbah ini harus segera didudukkan.
" Kita berharap segera duduk bersama dan membahas secara tuntas," kata Sofyan didampingi Sarudin. Karena ini merupakan limbah berbahaya terbesar yang pernah ada.
- FKPPI Harus Jadi Pemersatu Bangsa
- Membuat Robot
- Bisnis Frianchise Mie Hot Plate Singapura di Batam
- LPK Aji Jaya Dilatih oleh Instruktur Berpengalaman
- Disparbud Batam Diduga Terima Setoran
- Pemilik Sumur Bor Pasar Melati Bisa Dijerat Pasal Berlapis
- Warga Kampung Jabi Ancam Bakar Alat Berat
- Wawako Buka Batam Nasional Expo 2013



