Jika konsumen membeli BBM jenis premium atau pertamax sebanyak 20 liter maka yang masuk ke tangki kendaraan hanya 18 liter, meskipun yang tertera di Dispenser SPBU 20 liter. Uji takaran ini sudah dua kali dilakukan di SPBU tersebut, hasilnya tetap tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
" Awalnya hanya ngecek satu selang aja. Ditemukan tidak pas. Selang beberapa hari, datang lagi petugasnya, masih ditemukan kesalahan. Kalau gak salah empat selang di tempat pengisian, itu bensin dan pertamax," kata sumber tersebut.
Kepala Disperindag dan ESDM Kota Batam, Amsakar Achmad membenarkan temuan jajarannya. Namun demikian, Amsakar melihat, kesalahan takaran merupakan permasalahan teknis bukan karena kesengajaan.
" Jadi, memang benar. UPT saya (metrologi) telah melakukan uji terhadap beberapa SPBU. Di Batam, dari 10 sample SPBU yang kita uji, memang di SPBU itu (SPBU di kawasan Kecamatan Batam Kota), tidak sesuai takaran. Umpamnaya kita beli 20 liter, setelah kita ukur kenyataannya hanya 18 liter. Dan kekuranngannya memang banyak," kata Amsakar, kemarin.
Setelah tim menemukan itu, UPT Metrologi, telah melayangkan surat teguran dan meminta segera diperbaiki. Setelah beberapa hari, kata Amsakar, alatnya sudah diperbaiki. Dan kembali diukur ulang. Kejadian sudah berlangsung lama atau belum, belum bisa dipastikan.
Setelah ditemukan itu, pihak SPBU langsung memperbaiki. Tapi bukan karena faktor kesengajaan, dari informasi yang diterima, kata Amsakar alat di SPBU yang bersangkutan pernah disambar petir. Namun, karena diperbaiki secara manual, sehingga takarannya tidak sesuai.
" Setelah kita tegur, beberapa hari kemudian dan sudah diperbaiki, pihak SPBU telepon, minta untuk ukur ulang. Dan semua sudah pas. Artinya, pemilik SPBU punya niat baik. Dan, langkah kita ini masih dalam tahap pembinaan, jangan sampai masyarakat yang dirugian,"kata Amasakar.
Kata Amsakar, pihaknya melakukan penakaran sesuai dengan aturannya paling tidak satu kali dalam enam bulan. Pihaknya pun akan terus mengecek alat tera ulang oleh timnya. Dan apabila akan ditemukan, akan diberikan teguran sampai kepada sangsi.
Disinggung mengenai koordinasi yang dilakukan dengan pihak Pertamina terkait dengan temuannya itu, Amsakar mengakui belum ada.
" Karena sibuk itu, setelah awak telepon itu, besoknye saya pulang kampung. Orang tua sakit, jadi tak (tidak ada koordinasi) ada kontak dengan pertamina," kata Amsakar.
Sales Reprensentatif FRM XII Pertamina wilayah Kepri, Teuku Desky Arifin saat dihubungi terpisah beberapa waktu lalu, mengaku terkejut dengan kejadian tersebut. Apalagi, SPBU yang dimaksud berlebel 'Pasti Pas'.
"Wah itu banyak (kurang dua liter). Kalau sesuai ketentuannya itu, toleransi yang diberikan maksimal minus 30 Ml per 20 liternya, kalau kurang dua liter banyak itu. Tapi, saya belum tau informasinya. Yang jelas akan kita tindak lanjuti. Dan kita juga selalu mengecek di lapangan," katanya.
Namun, Deski menyayangkan pihak UPT Metrologi terkait. Sebab, sejak ditemukan, tidak ada koordinasi dengan pihak Pertamina. Sehingga pihaknya tidak mengetahui.
" Nanti setelah kita cek, kita akan lihat dulu masalahnya. Apalagi SPBU ada "Pasti Pas'nya. Nanti sanksinya bisa teguran sampai disegel. Tapi kita akan lihat skala kelalaiannya dimana. Kemudian, saya juga berharap kalau memang masyarakat merasa dirugikan, silakan melapor ke Pertamina, di call centre kami, dinomor 500 000," kata Deski. (mnb)
- Buruh Batam Tolak Upah Murah
- Tahun Ini, Traffic Light Rusak di Batam Diperbaiki
- Target Pendapatan Pelabuhan di Batam Naik 10 Persen
- CBT Laboratorium Mempermudah Polisi Ungkap Kasus
- Tertibkan Pijat Plus-plus di Batam, Yusfa Bantah Dirinya Lamban
- Pemko Batam Bentuk Tim Tertibkan Sumur Bor Ilegal
- Pengembang Diminta Berikan Penjelasan Terkait Pembangunan di Pulau Manis
- 13 TP PKK Kota Batam Juara Festival Dikir Barat





