Jumat04262013

Last update12:00:00 AM

Back Batam HKTI Berjuang Mewujudkan Ketahanan Pangan

HKTI Berjuang Mewujudkan Ketahanan Pangan

TANJUNG RIAU- (HK)-Pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kepri, mengelar silaturahmi dan rood show ke sejumlah petani Kota Batam di Pendopo Gabungan Kelompok Tani Seitemiang, Kelurahan Tanjungriau, Kecamatan Sekupang, Minggu (21/4). Tujuannya untuk menjaring inspirasi sekaligus menampung keluhan petani selama ini.
Ketua Umum DPD HKTI Kepri, Jefry Sudianto mengatakan, saat ini kebutuhan akan bahan pangan bidang sayuran, buah-buahan, daging dan ikan di Kota Batam maupun di Kepri belum dapat terpenuhi. Pasalnya, pertumbuhan jumlah penduduk Batam selalu meningkat setiap tahunnya. Dengan kondisi pertanian Kota Batam saat ini, kebutuhan akan bahan-bahan sayuran, buah-buahan, daging dan ikan, tentunya tidak akan terpenuhi hingga 100 persen.

"Dengan melakukan silaturahmi dan roodshow ini, kami akan menjaring dan menampung inspirasi petani atas keluhannya, permasalahan dan kendala yang mereka hadapi selama ini," kata Jefri.

Dikatakannya, letak Provinsi Kepri ini sangat strategis dan memiliki potensi luar biasa. Untuk pengembangan pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan belum dapat tergarap secara maksimal, baik itu potensi pengadaan bibit, pakan, pupuk serta pemamfaatan teknologi untuk petani yang belum ada.

Sementara itu, Ketua Harian DPD HKTI Kepri Deddy Zulfriadi Noor menyebutkan, kehadiran HKTI merupakan organisasi profesi yang bergerak dalam pengembangan sumberdaya alam pertanian. Pemerintah harus bisa memberikan dorongan dan peluang kepada petani agar bisa menggarap potensi alam yang ada. Baik itu dalam bidang sarana dan prasarana, legalitas lahan, program berhubungan dan menyentuh kelompok masyarakat dalam bidang pertanian dan kelautan(nelayan).

"Baik itu kepada para peternak hewan, pembudidaya ikan, perkebun sayur dan buah-buahan. Sehingga, mereka bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang membutuhkan bahan pangan setiap harinya," kata Deddy.

Dikatakannya, HKTI akan lakukan program-program kerjanya mulai dari aspek produksi, yakni pemberian sarana produksi pertanian, pembinaan, penyuluhan dan pengembangan. Seperti pengadaan bibit, pupuk, dan obat-obatan untuk perkebunanan maupun peternakan.

"Kaum petani selama ini petani Batam hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat akan sayuran, buah-buahan dan daging hingga 25 persen saja. Salah satu penyebab utamanya adalah keterbatasan lahan, kurangnya pembinaan, bantuan pupuk bersubsidi yang dipermainkan, suplay bibit yang tidak lancar, obat-obatan mahal dan kurangnya teknologi tepat guna yang mendukung kerja masyarakat petani dan nelayan," ungkapnya.

Menurutnya, dengan demikian itu tentu sangat mempengaruhi hasil pertanian, perkebunan dan nelayan yang ada di Batam dan Kepri ini. Mana mungkin mereka bisa hidup dengan layak maupun sejahtera, kalau pemerintah tidak membari solusi dan bantuan kepada petani," kata Jefri.

"Mana komitmen pemerintah selama ini untuk membantu petani dan nelayan mempasilitasi masyarakat dalam pengadaan dan penggunaan teknologi moderen. Agar dapat meningkatkan hasil pertanian dan perkebunan masyarakat menjadi lebih baik," tanya Deddy.

Hingga saat ini, terang Deddy, jumlahnya petani dan nelayan di Kepri mencapai 150.000 jiwa. Jadi, kalau petani bisa berkomitmen untuk memperjuangkan hak-haknya untuk mencapai kemakmuran para petani dan nelayan tentunya bisa berubah kearah yang lebih basik dan maju.

"Selama ini petani hanya dijadikan tunggangan saja. Di saat mereka perlu dukungan suara, petani dijanjikan dan di bujuk-bujuk dengan ini dan itu. Namun, di saat petani perlu perhatian dalam segala aspek untuk keperluan bertani serta perlindungan, mereka tidak pernah pedulikan lagi," pungkasnya.

Pekerjaan petani itu suatu pekerjaan yang sangat mulia. Dimana, mereka itu berusaha untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang harus ada di pasaran sehari-hari.

"Kalau pemerintah tidak membuka mata dan membantu petani dalam penyedianan sarana dan prasarana pertanian, bagaimana bisa mereka untuk mewujudkan Indonesia yang berkedaulatan pangan. Ketahahan pangan menyangkut kecukupan dan kemandirian petani dalam mengatasi ketersedian bahan pangan, baik akses kebutuhan, memanfaatkan produksi, hingga distribusi dengan harga yang terjangkau kepada masyarakat," pungkas Deddy(VNR).

Share