BATAM (HK) - Ratusan warga dari Persatuan Keluarga (PK) Nusa Tenggara Timur (NTT) di Batam, Senin (22/4) melakukan aksi unjuk rasa ke Mapolresta Barelang dan Mapolda Kepri di Nongsa. Aksi simpati itu menuntut agar polisi menyampaikan penyebab pasti tewasnya empat bocah yang ditemukan di dalam mobil pada 28 Februari lalu.
Sekadar mengingatkan, keempat bocah yang bernama Elsan (6), Ferson (4), Wihelmus Rudi (3), Aprilius Ama Mado (5), ditemukan sudah tak bernyawa di dalam sebuah mobil rongsokan merek Subaru di Pasar Cik Puan, Bengkong. Elsan (perempuan) dan Ferson (laki-laki) merupakan kakak beradik, anak pasangan Anton dan Yul. Selanjutnya, Wihelmus Rudi (laki-laki), anak dari Andreas dan Sutami, serta Aprilius Ama Mado (laki-laki), anak dari Yosep Boli dan Yasinta Kewa.
Aksi warga PK NTT di Batam itu diawali dari Pasar Cik Puan, tempat pertama sekali keempat bocah ditemukan. Selanjutnya aksi dilanjutkan ke Mapolresta Barelang lalu ke Mapolda Kepri.
Di Mapolda Kepri, warga melakukan aksi teatrikal. Pemeran aksi teatrikal adalah para mahasiswa di Batam yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Indonesia Timur (HMIT). Ceritanya, empat di antara mahasiswa itu berperan sebagai empat bocah yang tewas. Kemudian ada mahasiswa lain yang berperan sebagai orang tua empat bocah, sambil menangis tersedu-sedu.
"Kami di sini meminta kepastian kematian empat anak kami. Polisi jangan hanya berasumsi kalau matinya karena kehabisan oksigen," teriak koordinator aksi, Rofinus Loren, kemudiann disusul serempak oleh demonstran lainnya.
Katanya, PK NTT ingin menuntut keadilan atas kasus tewasnya keempat bocah. Selanjutnya, PK NTT juga berharap tidak ada lagi kasus serupa terjadi kembali di Batam.
"Yang kami butuhkan keadilan, jangan mentang-mentanh kami tidak punya uang, polisi menutup kasus ini," kata Rofinus.
Dalam orasinya, Rofinus dan orator lainnya menilai pihak kepolisian tidak memiliki rasa empati dan tanggung jawab. Polisi juga dianggap tidak profesional dalam mengungkap kasus kematian. Soalnya, hingga kini keluarga tetap belum menerima hasil otopsi yang sudah dilakukan kepolisian.
Aksi warga PK NTT berlangsung tertib. Sayangnya, warga tidak berhasil bertemu dengan Kapolda Kepri Brigjen Yotje Mende, guna menyampaikan langsung tuntutan mereka.
Kepala Biro Ops Polda Kepri Kombes Pol Aris Purnomo didampingi Kapolresta Barelang Kombes Karyoto kepada pendemo mengatakan bahwa penanganan kasus kematian empat bocah itu tidak ada yang ditutupi. Namun, polisi tetap mempersilakan warga menyampaikan alat bukti jika merasa penyelidikan kasus tersebut tidak sesuai.
"Mohon disampaikan jika terdapat kesalahan dalam penanganan kasus ini, tapi tentu didukung bukti-bukti," kata Aris.
Setelah berorasi, warga pun lantas membubarkan diri dengan tertib. (byu)Share
Newer news items:
- 33 Unit Kendaran Sepeda Motor Terjaring Razia
- Herizon Tak Diistimewakan
- Wawako Batam Sidak Limbah Minyak
- Pertamina Petakan 32 SPBU di Batam
Older news items:
- Wako Batam Dilaporkan ke Ombusdsman
- HKTI Berjuang Mewujudkan Ketahanan Pangan
- Rangkap Jabatan Rugikan Masyarakat
- Buruh Sphipyard Dua Bulan Tak Gajian




