Kamis02132014

Last update12:00:00 AM

Back Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (14)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (14)

Tanah Asal

Di dalam kalangan gadis-gadis di Kampung Batipuh telah menjadi buah bibir, bahwa ada seorang anak muda "orang jauh", orang Bugis dan Mengkasar, menumpang di rumah bakonya, Mande Jamilah. Anak muda itu baik budi pekertinya, rendah hati, terpuji dalam pergaulan, disayang orang. Sungguh belajar, karena dia berguru kepada seorang lebai yang ternama. Tetapi dia pemenung, pehiba hati, suka menyisihkan diri ke sawah yang luas, suka merenungi wajah Merapi yang diamm tetapi berkata. Sayang dia orang jauh! Mula-mula Hayati berkenalan dengan dia, adalah seketika hari hujan lebat, sebab daerah Padang Panjang itu, lebih banyak hujan daripada panasnya. Mereka akan kembali ke Batipuh, tiba-tiba hujan lebat turun seketika mereka ada di Ekon Lubuk. Zainuddin ada membawa payung dan Hayati bersama seorang temannya yang kebetulan tidak berpayung.

Hari hujan juga. Mula-mula mereka sangka akan lekas redanya, rupanya hujan yang tak diikuti angin yang kerap kali lama sekali. Sehingga bermenunglah anak muda itu di muka lepau orang, melihatkan titik-titik air dari atas ke tanah, menembusi pasir halaman yang terkumpul. Kebetulan bendi pun tidak ada yang lalu. Sehingga dari pukul 2 sudah hampir pukul 4 mereka berdiri.

Herang dengan Zainuddin, mengapa dia tidak berangkat saja padahal dia ada berpayung?

Dia tahu akan gadis-gadis itu, orang sekampungnya sama-sama orang Batipuh, dia tahu betul, meskipun mereka belum berkenalan. Tidak sampai hatinya hendak meninggalkan mereka. Anak-anak gadis itu pun kenal akan dia, meskipun belum bertegur sapa, tetapi tak berani membuka mulut.

Hari sore juga, tiba-tiba timbulah keberanian Zainuddin, meskipun keringatnya terbit di waktu hujan, dia tampik ke muka, ditegutnya Hayati: "Encik...!
Hayati menentang mukanya tenang-tenang dan tidak menjawab, hanya seakan-akan menunggu apa yang akan dikatakannya.

"Sukakah Encik saya tolong?"

"Apakah gerangan pertolongan Tuan itu?"

"Berangkatlah Encik lebih dulu pulang ke Batipuh, marah mamak dan ibu Encik kelak jika terlambat benar akan pulang, pakailah payung ini, berangkatlah sekarang juga."

"Terima kasih!," jawab Hayati.

"Janganlah ditolak pertolongan itu," kata orang lepau dengan tiba-tiba. "Orang hendak berbuat baik tidak boleh ditolak."

"Dan Tuan sendiri bagaimana?," jawab Hayati pula, sedang temannya yang seorang lagi menekur-nekur saja kemalu-maluan. ***

Share