Thursday, Nov 17th

Last update10:00:00 AM GMT

You are here: Cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (86)

Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (86)

Pengharapan Yang Putus

Mereka telah salah menerangkan, mereka katakan bahwa hidup itu ialah buat makan dan buat minum saja, atau buat mengumpul-ngumpulkan baju yang baru, guntingnya yang indah dan paling model.

Mereka telah mengukur kehidupan dengan rumah yang cantik, gedong yang permai, villa yang indah.

Mereka masukan ke dalam pikiranmu kecintaan kepada perhiasan, kepada dokoh dan gelang. Bagi mereka, persuamiistrian itu ialah semata-mata harta.

Tidak hayati! Semuanya itu palsu adanya. Kalau perkawinan hanya dipertalikan oleh harta benda, tidak juga akan berubah sifatnya dari kelacuran yang biasa, cuma bernama nikah sebab berakad saja.

Orang perempuan yang menyerahkan diri kepada suami lantaran suami itu berharta, samalah dengan perempuan lacur yang menjual kehormatannya, bahkan lebih buruk dari perempuan lacur, sebab perempuan itu menjatuhkan harga dirinya karena hendak mencari sepiring nasi, tetapi si istri ini memberikan diri karena mengejar harta.

Karena mengharapkan gelang mas, dokoh berlian, baju cantik, selendang bagus. Coba kalau si suami itu jatuh miskin. Ya Allah! Terbuka jalan ke rumah Tuan Kadi, meminta khulu' dan fasakh, meminta cerai dan talak. Mereka buangkan suami itu sebagai membuangkan daun pisang yang dikait di tepi jalan sebab tak berpayung di ketika hari hujan, dan bila hujan reda, daun itu pun tercampaklah di tepi jalan, diinjak-injak orang lalu.

Jangan sampai terlintas dalam hatimu, bahwa di dunia ada satu bahagia yang melebihi bahagia cinta. Kalau kau percaya bahwa kebahagiaan selain cinta, celaka diri kau. Kau menjatuhkan vonis kematian ke atas diri kau sendiri!

...Kalau kau tahu! Sudah sedari lama keindahan dan kecantikan dunia ini terlepas dari hatiku, laksana rontoknya bunga yang kekurangan air dari jembangan. Sudah sekian lama kehidupan ini saya palsukan, saya hadapi dengan hati remuk. Karena kekuasaan iblis telah merajalela di atas hati manusia. Cuma satu saja yang kulihat paling suci, ialah kau, kau sendiri!
Pada diri kaulah bertemunya lambang dari kesucian dan kemurnian, yang dipenuhi oleh cinta yang ikhlas. ***


Newer news items:
Older news items: