Pengharapan Yang Putus
Sebab telah kau sambut tanganku yang lemah: sebab telah kau terima suaraku yang parau, di waktu orang lain membenciku, lantaran miskinku, papaku dan kurang bangsaku. Hanya kau seorang!
Sudikah orang yang seperti kau mengulurkan tangannya memberikan rezeki kepada si buta. Demi setelah si buta hendak menyambut pemberian itu, tangannya ditariknya kembali? Bukankah kau ajar saya dalam kemanjaan, kau kenalkan saya apa artinya keindahan dalam dunia ini? Sehingga saya telah rindu, hidup, telah sayang kepada alam karena kau. Kaukah itu, Hayati? Kaukah yang begitu kejam mendorongkan diriku kepada lautan cinta, setelah saya berenang, kau segera keluar, dan kau biarkan saya karam sendiriku?
Tidak, saya tidak percaya bahwa kau begitu kejam dan ganas. Saya masih ingat hati yang lemah lembut itu.
Sudah sampaikan kepadaku kabar bahwa kau telah bertunangan. Itu tidak saya bantah, apa boleh buat! Diriku juga yang malang. Cuma setelah saya dengar bahwa tunanganmu itu Aziz, dan setelah saya selidiki siapa dia, maka saya kirimkan surat ini memberi ingat bahwa perkawinanmu agaknya tak akan bertemu dengan cita-citanya yang sejati. Saya kenal betul haluan hidup kau dan haluan hidupnya. Ini hanya perkawinan harta dan perkawinan kecantikan. Bilamana salah satunya telah kurang, maka pergaulan Adinda akan terancam. Dan kalau itu kejadian, maka saya jugalah yang akan celaka. Celaka bukan buat diriku, tetapi buat kau!
Ya Rabbi, ya Tuhanku, apakah sampai agaknya seruan hati kecilku ini kepada orang yang kutuju, orang yang selamanya tak hilang dari hatiku.
Hayati, hendaklah kau tahu bahwa keberanianku memuka perkara ini kepadamu adalah lantaran disuruh perasaan hati cinta jua. Karena yang lebih penting buat diriku adalah keberuntungan dan kebahagiaanmu, bukan kepentingan dan kebahagiaan diriku sendiri.
Terima surat ini dahulu, agaknya akan kusambung jua. Karena mengirim surat ini adalah mengurangi juga bagi kepedihan luka jantungku.
Zainuddin
Surat yang kedua:
Alangkah gelapnya dunia ini kupandang. Alam telah lengang dan sunyi, tidak ada gerak yang membangunkan semangatku lagi, malam seakan-akan terus menerus saja, tidak sedikit juga berganti dengan siang. Kadang-kadang saya rasai bagai saya sebagai seorang yang terpencil jauh di tengah padang yang tandus, tidak ada manusia yang lalu lintas di sana, tidak ada kali yang mengalir, tidak ada daun yang digerakan angin.***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (98)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (96)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (95)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (94)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (93)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (92)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (91)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (90)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (89)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (88)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (86)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (85)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (84)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (83)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (82)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (81)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (80)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (79)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (78)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (77)