Pengharapan Yang Putus
Surat yang kedua:
Alangkah gelapnya dunia ini kupandang. Alam telah lengang dan sunyi, tidak ada gerak yang membangunkan semangatku lagi, malam seakan-akan terus menerus saja, tidak sedikit juga berganti dengan siang. Kadang-kadang saya rasai bagai saya sebagai seorang yang terpencil jauh di tengah padang yang tandus, tidak ada manusia yang lalu lintas di sana, tidak ada kali yang mengalir, tidak ada daun yang digerakan angin. Seakan-akan saya sudah terbuang, mencari jalan dan ikhtiar untuk keluar dari tempat ini, tetapi jalan tidak kelihatan. Saya tunggu kelepasan dengan sabar, tetapi hanya maut yang melayang-layang di tentang ubun-ubunku.
Bilakah masa itu akan datang? Bilakah maut akan menjemput nyawaku, supaya aku terlepas dari kesakitan yang tiada tertanggung ini?
Kau hilang daripadaku Hayati! Dan gantinya sudah tak kan ada lagi, karena segenap hidupku telah aku tumpahkan buat kau seorang. Nasibku tak ubah dengan seorang juara sabung yang kalah dalam medan perjudian, uangnya, hanya tinggal seringgit saja, dilepaskan pula uang itu dengan perasaan untung, kiranya kalah pula.
Setelah kau termasuk ke dalam daftar hayatku, maka timbullah beberapa cita-cita yang besar dalam hatiku, timbul angan-angan yang murni. Telah dipenuhi semangatku oleh perasaan-perasaan yang suci. Ingat akan dikau adalah nyawa yang menimbulkan kekuatan ruhani dan jasmani untuk menempuh perjuangan dalam alam ini. Tapi sekarang setelah kabar itu sampai, saya telah menjadi lemah, seakan-akan padam pelita angan-angan itu, seakan-akan minyaknya telah habis, sehingga meskipun bagaimana juga orang bermaksud menyalakan kembali, sudah percuma.
Tidak ada lagi perasaanku, sudha kendur jalan pikiranku. Tidak peduli saya lagi pada keadaan sekelilingku. Tidak tentu tujuan mana yang akan saya tempuh, haluan mana yang akan saya turut. Adalah nasibku sekarang laksana bangkai burung kecil yang tercampak di tepi jalan sesudah ditembak anak-anak dengan bedil angin, atau seakan-akan batu kecil yang terbuang di halaman tidak dipedulikan orang. ***
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (99)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (98)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (96)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (95)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (94)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (93)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (92)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (91)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (90)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (89)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (87)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (86)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (85)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (84)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (83)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (82)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (81)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (80)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (79)
- Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (78)